Agama Buddha

Upasaka Bharadvaja

Pemurnian Pikiran Dengan Pengamatan Pikiran Tanpa Berpikir Positif dan Viewset

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Februari 5, 2010

Pemurnian Pikiran (Cittavisudhi) dengan Pengamatan Pikiran (Cittanupassana) Tanpa Berpikir Positif (Positif Thinking) dan Viewset (Atur Pandangan Dulu Karena Tak Ada Sesuatu Yang Disebut mindset)


“Dalam hal ini seorang bhikkhu tahu pikiran yang muncul sebagai pikiran bernafsu sebagai pikiran bernafsu, pikiran yang muncul sebagai pikiran suci sebagai pikiran suci
Contoh: Bhikkhu yang melihat wanita seksi berbaju minim, berpikir “lebih enak pembebasan”. Maka ia menyadari tadi pikirannya bernafsu, tapi lalu menjadi suci, dan tak akan muncul lagi selamanya jika ia selalu ingat. Maka pikirannya menjadi murni.

“Dalam hal ini seorang bhikkhu tahu, pikiran yang muncul sebagai pikiran membenci sebagai pikiran membenci, pikiran yang muncul sebagai pikiran mencinta sebagai pikiran mencinta.”
Contoh: Membenci orang, lalu berpikir “cinta -> pembebasan. cinta -> pembebasan”. Maka ia menyadari tadi pikirannya membenci tapi lalu mencinta, dan tak akan muncul lagi selamanya jika ia selalu ingat. Maka pikirannya menjadi murni.

“Dalam hal ini seorang bhikkhu tahu, pikiran yang muncul sebagai pikiran sesat sebagai pikiran sesat, pikiran yang muncul sebagai pikiran pas sebagai pikiran pas.”
Contoh: Berpikir “jika aku menjadi kepala kuil, maka aku akan memanfaatkan orang itu untuk ku..”, lalu berpikir, “dekat sudah pembebasan”, Maka ia menyadari tadi pikirannya sesat tapi lalu pas, dan tak akan muncul lagi selamanya jika ia selalu ingat. Maka pikirannya menjadi murni.

“Dalam hal ini seorang bhikkhu tahu, pikiran yang muncul sebagai pikiran ragu sebagai pikiran ragu, pikiran yang muncul sebagai pikiran teguh sebagai pikiran teguh.”
Contoh: Berpikir, “jika aku jadi bhikkhu, bagaimana makanku nanti”, lalu berpikir “menghabiskan semua sisa kamma buruk adalah keuntungan. Sebentar lagi sudah bebas. Selalu ada jalan ke Nibbana”. Maka ia menyadari tadi pikirannya ragu tapi lalu menjadi teguh, dan tak akan muncul lagi selamanya jika ia selalu ingat. Maka pikirannya menjadi murni.

“Dalam hal ini seorang bhikkhu tahu, pikiran yang muncul sebagai pikiran mandeg sebagai pikiran mandeg, pikiran yang muncul sebagai pikiran maju sebagai pikiran maju.”
Contoh: Berpikir nanti saja latihan dhamma sesudah menghibur diri, lalu berpikir “setiap waktu yang dipakai untuk belajar menambah energy, setiap waktu yang dipakai untuk memanjakan indra mengurangi energy”. Maka ia menyadari tadi pikirannya mandeg tapi lalu menjadi maju, dan tak akan muncul lagi selamanya jika ia selalu ingat. Maka pikirannya menjadi murni.

“Dalam hal ini seorang bhikkhu tahu, pikiran yang muncul sebagai pikiran mulia sebagai pikiran mulia, pikiran yang muncul sebagai pikiran picik sebagai pikiran picik.”
Contoh: Punya ilmu banyak, lalu berpikir, “yang kuberi sedikit saja, nanti mereka keenakan”, lalu berpikir “yang kuberi yang membebaskan mereka saja”. Maka ia menyadari tadi pikirannya picik tapi lalu menjadi mulia, dan tak akan muncul lagi selamanya jika ia selalu ingat. Maka pikirannya menjadi murni.

“Dalam hal ini seorang bhikkhu tahu, pikiran yang muncul sebagai pikiran mengambang sebagai pikiran mengambang, pikiran yang muncul sebagai pikiran terpusat sebagai pikiran terpusat”.
Contoh: Biksu yang naik rollercoaster lalu tertawa dengan gembira, sesudah itu berpikir “Bhikkhu”. Maka ia menyadari tadi pikirannya mengambang tapi lalu menjadi terpusat, dan tak akan muncul lagi untuk selamanya jika ia selalu ingat. Maka pikirannya menjadi murni.

“Dalam hal ini seorang bhikkhu tahu, pikiran yang muncul sebagai pikiran buntu sebagai pikiran buntu, pikiran yang muncul sebagai pikiran bebas sebagai pikiran bebas.”
Contoh: Makanan habis, lalu bhikkhu pusing, lalu berpikir, “dengan meditasi semua bisa diatasi”. Maka ia menyadari tadi pikirannya buntu tapi lalu menjadi bebas, dan tak akan muncul lagi selamanya jika ia selalu ingat. Maka pikirannya menjadi murni.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Baikkah Datang Ke Dukun?

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Desember 28, 2009

 

Sang Buddha berkata, “dhamma adalah magick terbaik”, “sabar adalah tapa tertinggi”.
Semua agama melarang pergi ke dukun.

A. Karir.
Dengan mengenakan kalung swastika buddhist, akan selalu ingat ajaran 4 kebenaran mulia yang didalamnya terkandung 8 ruas jalan mulia, termasuk penghidupan benar. Karir pasti naik.

B. Uang.
Dengan berwirid (“boddhi”, atau ”om nama siva ya”, atau “om mani padmi hum”), uang pasti diberi oleh bank gaib yang ada di satelit Nibiru.

C.Jodoh.
Buddha berkata, untuk cari jodoh milikilah:
1. samma saddha/keyakinan benar.
2. samma sila/moral benar.
3. samma caga/buddhi.
4. samma panna/kebijakan benar.
Maka pasti dapat jodoh, dan jodoh yang baik.

D. Tarot.
Tarot adalah satu sistem yang sudah disetujui antara petarot dan alamgaib agar kode tertentu berarti hal tertentu. Tarot yang ada sekarang tak sesuai untuk manusia, karena masih ilmu 3D, sedang kita sudah hampir kiamat dan memasuki 4D sesudah 2012. Buatlah sistem sendiri. Untuk apa melihat bacaan dari sistem yang tak betul (masih 3D). Tarot buatan orang tak netral. Tarot wayang akan mengarahkan Anda agar dituntun sebagai ‘wayang’ tuhan, padahal sejatinya manusia bukan begitu, tapi karena pembuatnya belum tercerahkan, akibatnya produknya, produk kelas 3. “kan kita semua adalah wayangnya, pak” dibuatlah olehnya tarot wayang. sama juga dengan pembuat tarot cinta, tarot nusantara. memangnya nusantara itu hebat? Heh. Untuk apa dibatasi sistem terbatas. Heh.

D. Penyakit.
Meditasi, bisa menemukan sistem energy sendiri, sistem penyembuhan sendiri. Silahkan sebut apa itu cakra, lathoif, cakku. Pokoknya meditasi dan berbuatlah seenakmu, jika perlu buka agama dan perguruan. Awetmuda dan antisakit jika itu yang dicari.

E. Kekuasaan.
Masuk jhana 4 jadi dewa, masuk jhana 5 sambil berdiam di obyek brahmavihara jadi kreator. Siap mengacau dimana-mana.

F. Masadepan.
Tunggu saja sesudah bumi masuk dimensi 4. Maka orang bisa melihat masalalu, skr, depan dalam satu garis, karena sudah jadi higherself.

Jadi, jawaban untuk judul di atas adalah: Datang ke bikkhu atau nabi saja. Mereka lebih tahu. Memangnya ada dukun yang tercerahkan? Kalau ada boleh.

Inilah 3 akibat bertanya pada dukun:
1. Seharusnya lebih cepat sembuh bisasaja lambat sembuh.
2. Seharusnya menolong orang baik bisasaja menolong orang buruk.
3. Seharusnya selamat malah masuk mulut buaya (disakiti, dibunuh, diperkosa, ditipu).

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

7 Hal Yang Dimiliki Orang Bijak

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Desember 28, 2009

Satta Sappurisadhamma (7 hal yang dimiliki oleh orang bijak):

1. Dharmannutta: Memaklumi kebenaran yang muncul.
Di dalam kehidupan yang nyata ini, setiap makhluk hidup tidaklah akan terlepas dari apa yang namanya “sukkha dan dukkha” yang datangnya silih berganti dan timbul serta tenggelam. Si A, bisa saja hari ini tampil dengan penuh keceriaan karena keinginannya telah terpenuhi, tetapi bebarapa saat kemudian, setelah mengetahui dompetnya hilang maka keceriaan tersebut, segera sirna dan berubah menjadi kesedihan. Peristiwa suka dan duka, yang datangnya silih berganti ini, tidaklah dapat ditolak atau dihindari, terutama sekali bagi orang orang yg demikian pekatnya, dibelenggu oleh nikmatnya keduniawian. Agar duka tidak begitu kuat membelenggu bathin kita, maka yang pertama sekali harus disadari adalah kebenaran – kebenaran yang pasti terjadi di alam semesta ini, misalnya ketidak kekalan. Benda dan keadaan apapun yg tgerdapat di alam semesta ini, tidaklah kekal keberadaanya. Cepat maupun lambat, pasti akan mengalami proses kehancuran. Dengan menyadari kesunyataan ( kebenaran – kebenaran ) ini, hendaknya kemelekatan akan apapun juga, haruslah sesegera mungkin disingkirkan. Siapapun yang berhasil menjauhi belenggu – belenggu keduniawian maka kebahagiaan akan selalu berada di pihaknya.

2. Atthannuta: memiliki pengertian yang benar akan Dhamma.
Dengan dimilikinya pengertian yang benar akan Dhamma bahwa segala sesuatu yang timbul, suatu hari kelak pasti akan tenggelam (ketidakkekalan), maka yang namanya derita keluh kesah maupun frustasi, tak akan berpeluang menyerang diri kita.
Seandainya kemalangan atau kekurang- beruntungan masih juga menimpa diri kita, sadarilah dengan sebaik bainya bahwa hal ini, adalah hal yang lumrah dan pasti (pantas) terjadi, cepat maupun lambat. Di dalam kitab suci Dhammapada Pandita Vagga VI: 83, Sang Buddha menyabdakan :”Lepaskanlah segala hal yang menimbulkan ikata, seperti halnya orang bijaksana yang tak pernah membicarakan segala nafsu dan kesenangan hidup duniawi. Karena itu tidak diganggu oleh kegembiraan dan kesedihan, tidak pernah memperlihatkan rasa senang dan tidak senang”. Memiliki pengertian yang benar akan Dharma (kebenaran) akan menimbulkan kebahagiaan yang luhur dan permanen. Mengapa…….? Karena akan terlindung oleh kebajikan – kebajikan yang telah diperbuat dan semua kondisi yang membahagiakan ini, bukanlah sebagai hasil dari belas kasihan (berkahan) dari makhluk lainnya. Didalam sabda Nya, Sang Buddha selalu menekankan bahwa jasa kebajikanlah yang menjadi pelindung, bagi setiap insan manusia, kapan dan dimanapun berada. Itulah perlindungan yang sesungguhnya…!

3. Attannuta: mampu mengontrol diri sesuai dengan Dhamma.
Kelebihan maupun kekurangan yang telah dimiliki, hendaknya tidaklah menimbulkan masalah maupun kedukaan, bagi masyarakat yang ada di lingkungan kita. Hal positif yang seyogianya disadari adalah tidak satu makhluk pun yang logis (pantas ditunding) atas kelebihan maupun kemalangan yang dialami. Semuanya bisa terjadi, tidaklah terlepas daripada hasil/akibat dari karma (perbuatan), yang sudah seharusnya diterima. Hidup yang senantiasa berpedoman pada sila (moral) yang baik dan selalu berkreasi demi keharmonisan, ketentraman dan kesejahteraan semua makhluk, adalah hidup yg sesungguhnya.

4. Mattannutta: hidup sesuai dengan kebutuhan.
Salah satu noda bathin yang seharusnya dihentikan adalah keserakahan. “Luddho Dhamam na Passati : Apabila kelobaan telah merasuk , seseorang tidak melihat Dharma (kebenaran) lagi “. Orang serakah dalam hal ini, akan menempuh berbagai macam cara, hanya demi pemuasan akan kehausannya, yang tiada henti – hentinya. Dia tidak akan segan – segannya, menghalalkan segala tindakan negatif, hanya untuk memenuhi ambisinya. Oleh karena itu, agar terlepaskan dari jeratan belenggu bathin, berusahalah terus menerus menyadari akan hakekat dari kehidupan ini. Hidup yang hanya disesuaikan dengan kebutuhan adalah yang sesungguhnya (bahagia), dimana akan terbebas dari keruwetan, kepusingan maupun kekecewaan. Renungkanlah, sabda Sang Buddha ini : “Kamehi Lokamhi Na Hatthi Tuti : Di dunia ini tidak ada kepuasan dalam penikmatan nafsu indrawi “.

5. Kalannuta: mengatur waktu dengan bijaksana.
Orang yang selalu berkomentar sibuk dan tiadanya waktu luang, untuk ini dan itu adalah ciri khas orang yang diperbudak oleh waktu. Tipe manusia ini adalah tipe manusia yang belum memiliki pengertian benar, akan pemanfaatan waktu yang sesungguhnya. Tipe manusia ini, pasti akan menderita di dalam aktivitasnya sehari hari. Kalau dia seorang kepala rumah tangga maka kehampaanlah yg akan dijumpai. Dan jika seorang pimpinan maka penyakitlah yg akan didapatkan. Tetapi jika dia bisa mengatur dan menggunakan waktu sebijaksana mungkin, maka semua masalah yg tidak seharusnya muncul akan bisa dihapuskan. Orang bijaksana akan makan dikala makan, istirahat dikala istirahat, rekreasi dikala rekreasi dan tidur dikala tidur. Hidup baginya sangat berarti dan nikmat. Tetapi bagi yg diperbudak oleh waktu, hidupnya bagaikan robot dan telah terprogram sedemikian rupa, sehingga tidak berpeluang sama sekali, untuk meresapi maupun menikmati kehidupan ini, sebagaimana adanya. Bukankah ini yang disebut dengan kebodohan…..?

6. Parisannuta: bisa mengerti kenyataan kenyataan yang ada di lingkungannya.
Pada dasarnya, tidak satu makhlukpun yang berkenan terlahirkan dengan kondisi – kondisi yang kurang menguntungkan, misalnya : miskin, bodoh, cacat, jelek dan lain sebagainya. Dimasyarakat jika diketemukan ketimpangan ketimpangan ini, hendaknya memperlakukan mereka dengan sepantasnya. Janganlah hanya dikarenakan kemiskinan, kita sampai tega nian, menghina dan menyelepekan mereka. Dan jangan pula dikarenakan oleh kebodohan, kita mengejek dan mempermalukan mereka. Sadarilah dengan sebaik baiknya, bahwa setiap makhluk, tidaklah terlepas oleh karma ( perbuatan ) nya masing masing. Apapun yang perbuatan maka itulah yang disuatu hari kelak, yang akan diterima. Senantiasalah, bertutur kata yang lemah lembut dan bimbinglah, siapapun demi pencapaian kebahagiaan bersama. Dalam hal ini, kita hendaknya selalu memiliki “positive thinking” disamping menghindari keangkuhan.

7. Puggalaparopannuta: mengerti akan Dhamma menimbulkan kebijaksanaan
Dengan dimilikinya pengertian yang benar akan Dharma maka akan memperjelas diri kita, mana yang pantas dilaksanakan dan mana yang harus dihindari, mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana sahabat dan mana musuh. Dalam hal ini, kita bisa memaklumi kelebihan kelebihan maupun kekurangan kekurangan orang lain, sehingga yang namanya emosional dan aneka tindakan tercela lainnya, akan bisa disingkirkan. Disamping itu, tindakan dan jalur kehidupan yang dilalui, akan senantiasa dipenuhi oleh cinta kasih serta kewelasasihan.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

5 Harta Mulia

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Desember 28, 2009

Seorang buddhist tak seharusnya melekat pada harta materi. Di Anguttara Nikaya III: 262, Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat 5 harta mulia, yang jika dikembangkan dengan baik akan menyebabkan makhluk–makhluk hidup bahagia:

1. Silava: Mempunyai Moral Yang Baik.
Moralitas yang baik itu adalah meliputi:
1. Menghindari segala bentuk dari pembunuhan. Dalam konsep Buddhis ditegaskan bahwa tiada suatu makhluk hiduppun yang dibenarkan atau pantas disakiti dan apalagi dibunuh. Sang Buddha menyabdakakan : “Ia yang membunuh akan mendapatkan seorang pembunuh. Ia yang merebut akan menjumpai seorang perebut. Ia yang mencaci maki akan memperoleh cacian. Jadi, sebagai akibat dari tindakannya sendiri, si pengganggu pada saatnya akan di ganggu pula.”
2.Menghindari segala bentuk dari pencurian. Hukum karma itu adil adanya, siapa yang berbuat maka dialah yang akan menerima hasil dari akibatnya.
3. Menghindari segala bentuk dari perzinahan. Sang Buddha menyabdakan : “Barang siapa membunuh makhluk hidup, berdusta, mencuri, berzina dan suka mabuk mabukan; orang semacam ini seakan menggali liang kubur bagi dirinya sendiri, di dunia sekarang ini juga.”
4. Menghindari segala bentuk dari kata – kata dusta. Sang Buddha menyabdakan : “Santo na te ye vadanti dhammam : orang yang berbicara yang tidak sesuai dengan Dharma (kebenaran), bukanlah orang Bijak.”
5. Menghindari segala bentuk minuman / makanan yang mana bisa menyebabkan hilangnya kesadaran (mabuk). Sang Buddha menyabdakan : “Apabila mencintai diri sendiri, seseorang tidak selayaknya melibatkan dirinya dalam kejahatan.”

2. Bahusutta: Berpengetahuan Dharma dan Vinaya Yang Baik
Dharma adalah ajaran Sang Buddha dan Vinaya adalah peraturan – peraturan yang seharusnya dipedomani agar tidak sampai melanggar rambu – rambu ketidakbenaran. “Memahami Dharma (kebenaran) dengan sepenuhnya akan terbebas dari kerinduan karena memiliki pandangan terang. Orang Bijak tersebut akan bebas dari semua nafsu keinginan dan tenang bagaikan kolam yang tidak terkacaukan oleh angin.” ITIVUTTAKA 91.

3. Kalyanavaca: Bicara terpuji.
“Seseorang seharusnya hanya mengucapkan kata – kata yang tidak membahayakan diri sendiri dan tidak menyebabkan bahaya bagi orang – orang lain. Itulah sesungguhnya ucapan yang indah.” SUTTA NIPATA 451. Berpikirlah terlebih dahulu sebelum berucap. Itulah ciri khas dari orang yang Bijaksana. “Sang Buddha mengucapkan kata-kata yang membawa kepada pencapaian rasa aman, kepada akhir penderitaan dan pencapaian Nibbana. Sungguh, inilah ucapan yang utama.” SUTTA NIPATA 454

4. Dhammikathaya Sandassana:
Mampu Menerangkan Dharma Vinaya Secara Jelas Dan Terperinci Sehingga Membangkitkan Semangat dan Memuaskan Umat Dharma yang dipelajari, bukanlah semata – mata untuk diketahui tetapi yang terpenting adalah dipraktekkan dalam bentuk yang nyata. Ibarat obat, apakah akan memberikan hasil atau tidak, sangatlah ditentukan oleh, ada tidaknya kita mencoba atau memakannya.
Demikian pula halnya dengan Dharma. Sang Buddha menyabdakan : “Dari semua obat di dunia, yang banyak dan beraneka jenis, tidak ada satupun yang menyamai obat Dharma (kebenaran). Karena itu, O para bhikkhu, minumlah obat ini. Setelah meminum obat Dharma ini, engkau tidak akan tua dan akan dapat mengatasi kematian. Setelah mengembangkan dan memahami kebenaran, engkau akan damai dan bebas dari nafsu keinginan.”

5. Jhanalabhi:
Melaksanakan Samatha Bhavana Sehingga Mencapai Jhana. Keberhasilan di dalam pelaksanaan meditasi, dimana pikiran terpusat erat pada suatu objek (sasaran) yang dituju, itulah yang disebut dengan telah mencapai jhana. Indikator dari keberhasilan meditasi adalah berhasil mencapai jhana.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kamma

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Desember 17, 2009

 
 

Kamma
[Bhikkhu Uttamo]
 
 

Dalam kegiatan sehari-hari sering didengar istilah”Kamma” (Bhs. Pali) atau ‘karma’ (Bhs. Sanskerta). Penggunaan kata “Kamma” pada umumnya ditujukan untuk menggambarkan hal-hal yang tidak baik; kamma selalu dihubungkan dengan kamma buruk. Padahal sebetulnya kamma bukan hanya kamma buruk tetapi juga ada kamma baik. Selain sebagai kamma buruk, konsep kamma juga sering diidentikkan sebagai satu-satunya penyebab kejadian. Kita menganggap setiap keadaan buruk selalu disebabkan oleh kamma, semuanya tergantung pada karma. Konsep yang demikian ini dapat berakibat menurunkan semangat juang atau semangat hidup kita. Padahal kamma bukan satu-satunya penyebab kejadian, melainkan hanya salah satunya; masih terdapat banyak faktor yang ikut menentukan dan menyebabkan kamma berbuah. Konsep yang menganggap bahwa kamma selalu kamma buruk dan sebagai satu-satunya penyebab kejadian ini dapat dikatakan sebagai suatu pandangan yang salah dan merupakan kelemahan terhadap penjelasan hukum kamma.

Apakah sesungguhnya kamma itu? Kamma adalah niat untuk melakukan perbuatan. Niat itulah yang disebut dengan kamma. Perbuatan yang dilakukan dengan pikiran disebut kamma melalui pikiran; perbuatan yang dilakukan dengan ucapan disebut kamma melalui ucapan; dan perbuatan yang dilakukan dengan badan disebut kamma melalui badan. Dengan demikian, kamma bisa berupa kamma baik dan kamma buruk.

Kemudian timbul satu pertanyaan, apakah yang disebut Hukum Kamma? Hukum kamma sebenarlnya adalah Hukum Sebab dan Akibat. Di dalam Samyutta Nikaya I, 227 dinyatakan:

“Sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pulalah buah yang dituai. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebajikan, dan pembuat kejahatan akan menerima kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih, dan engkau pulalah yang akan memetik buah-buah daripadanya.”

Kalau kita melihat dengan kacamata duniawi, pernyataan tersebut tampak bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Kita sering menemukan orang yang banyak melakukan kebajikan tetapi masih mengalami penderitaan, dan sebaliknya. Mengapa demikian? Apakah hukum kamma-nya keliru? Sebetulnya tidak keliru. Kalau hukum kamma diumpamakan sebagai sebuah sawah yang mempunyai tanaman padi dan jagung, di mana tanaman padi dan jagung tersebut mempunyai usia panen yang berbeda, maka tanaman jagung tentu akan panen terlebih dahulu daripada tanaman padi. Demikian pula perbuatan baik dan buruk. Kalau kita sudah berbuat baik tetapi masih menderita, ini disebabkan karena perbuatan baik kita belum saatnya dituai / dipanen. Dalam hal ini kita memetik buah dari perbuatan buruk terlebih dahulu. Jadi semua itu ada waktunya, walaupun adakalanya masih bisa dipercepat sampai batas-batas tertentu.

Selanjutnya bagaimanakah kamma kalau dilihat menurut waktunya?
Menurut waktunya, kamma dapat kita bedakan menjadi 4 (empat) kelompok, sebagai berikut:

a). Kamma yang langsung berbuah.
Jenis kamma ini misalnya saja ketika kita mengambil helm milik orang lain, karena helm kita sendiri telah dicuri seseorang. Supaya tidak ketahuan, kita mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi walaupun lampu lalu lintas berwarna merah. Akhirnya kita ditangkap polisi. Terpaksa kita harus membayar tilang Rp 15.000,- (padahal harga sebuah helm hanya Rp 10.000,-). Ini adalah salah satu contoh sederhana kamma yang langsung berbuah.

b). Kamma yang berbuah agak lama tetapi masih dalam satu kehidupan. Misalnya orang yang melakukan meditasi hingga mencapai jhana tertentu, maka setelah meninggal ia akan langsung terlahir di Alam Brahma.

c). Kamma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan yang berikutnya.
Salah satu contoh adalah orang yang sering mendengarkan Dhamma, besar kemungkinan ia akan terlahir kembali di alam sorga dalam kehidupan-kehidupan yang berikutnya. Mengapa demikian? Dengan mendengarkan Dhamma, orang tersebut telah melakukan kamma baik karena ia telah melatih berdana perhatian. Selama mendengarkan Dhamma, ia juga telah memusatkan pikiran, ucapan serta perbuatannya ke arah kebajikan, apalagi jika ia dapat mengerti serta melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Kebajikan ini tentunya sangat selaras dengan salah satu isi kotbah Sang Buddha yang menyatakan bahwa mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai adalah Berkah Utama.

d). Kamma yang tidak sempat berbuah karena telah kehabisan waktu atau kehilangan kesempatan untuk berbuah.
Sering orang mengatakan bahwa tercapainya Nibbana (Bhs. Pali) atau Nirvana (Bhs. Sanskerta) adalah ketika kamma baik dan kamma buruknya telah habis. Padahal kamma itu sangat sulit untuk dapat habis berbuah karena jumlahnya yang tidak terbatas. Namun, kamma dapat dipotong. Kita dapat merasakan buah kamma apabila kita masih mempunyai badan dan batin, artinya kita masih hidup setelah dilahirkan. Apabila kita tidak dilahirkan kembali, maka kesempatan untuk merasakan buah kamma baik maupun buruk sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, ada berbagai kamma yang tidak sempat berbuah.

Selain menurut waktu, kamma juga dapat dibedakan menurut fungsinya, yaitu:

a). Fungsi kamma yang melahirkan.
Misalnya: Ada orang yang dilahirkan dalam kondisi mempunyai banyak penyakit. Kenapa terjadi demikian? Sesuai dengan benih yang ditanam, demikian pula buah yang dituainya; mungkin karena ia telah melakukan penyiksaan di kelahiran yang lampau, maka kini ia terlahir menjadi orang yang sakit-sakitan.

b). Fungsi kamma yang mendukung.
Jenis kamma ini mendukung fungsi kamma yang melahirkan. Misalnya: Selain ia terlahir di keluarga yang miskin, dia juga terlahir dalam keadaan cacat. Inilah salah satu contoh kamma yang mendukung.

c). Fungsi kamma yang mengurangi.
Fungsi kamma yang mengurangi ini berhubungan dengan perbuatan kita yang baik maupun buruk yang dilakukan dalam kehidupan saat ini. Misalnya: Meskipun seseorang terlahir sebagai orang yang miskin serta cacat, orang tersebut mungkin saja mempunyai perilaku kemoralan yang baik.

d). Fungsi kamma yang memotong.
Karena perilaku kemoralannya baik, ucapannya serta tingkah lakunya juga baik, maka mungkin saja ada orang yang simpati kepadanya. Orang tersebut mungkin akan memberinya pekerjaan yang sesuai dengan keadaannya.
Inilah salah satu contoh kamma yang memotong, artinya bertentangan atau memotong buah kamma yang sedang berlangsung atau buah kamma yang sedang dialaminya.
Kamma sangat berhubungan dengan perbuatan seseorang saat ini. Segala sesuatu yang dilakukan pada saat ini akan menentukan buah kamma di masa depan. Dengan demikian, kamma bukanlah nasib yang tidak bisa diubah. Kamma masih dapat diperbaiki dan diubah dengan melakukan berbagai kamma atau perbuatan yang lain. Jadi, perbuatan saat inilah yang paling penting!

Selanjutnya kamma juga dapat dikelompokkan menurut bobotnya yaitu:

a). Bobot kamma super berat.
Kamma super berat yang baik misalnya: orang yang bermeditasi konsentrasi sehingga mencapai jhana, setelah meninggal dunia, ia akan langsung terlahir kembali di Alam Brahma.
Kamma jenis ini juga bisa terjadi untuk mereka yang telah melatih meditasi pengembangkan kesadaran sehingga mencapai kebijaksanaan atau mencapai Nibbana. Dengan tercapainya Nibbana, maka ia sudah tidak akan terlahir kembali di alam manapun juga setelah ia meninggal di kehidupan ini.
Sedangkan kamma super berat yang buruk ada 5 (lima) perbuatan yaitu membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh seorang Arahat, melukai Sammasambuddha, dan memecah belah Sangha. Apabila seseorang melakukan salah satu atau lebih dari kelima perbuatan buruk tersebut, maka setelah meninggal dunia, orang tersebut langsung terlahir di Alam Neraka Avici.

b). Kamma yang berkesan yang muncul pada saat kematian.
Pada saat seseorang akan meninggal dunia, maka pikirannya akan mengingat perbuatan yang super berat terlebih dahulu. Apabila tidak ada perbuatan super berat yang pernah dilakukan selama hidupnya, maka pikirannya akan mengingat salah satu perbuatan yang paling berkesan dalam hidupnya. Misalnya: Ia teringat kesan baik ketika ia mendengarkan Dhamma atau sering bertemu dengan para bhikkhu. Apabila ia meninggal pada saat mengingat kesan baik tersebut, ia akan terlahir di alam bahagia. Sebaliknya kalau ia teringat kesan perbuatan yang tidak baik, maka ia dapat saja terlahir di alam menderita.

Sehubungan dengan jenis kamma yang membangkitkan kesan pada saat seseorang mengalami proses kematian ini, disebutkan dalam Dhamma bahwa apabila seseorang telah mengunjungi dan melihat 4 (empat) tempat suci di India yaitu :
1. Tempat Pangeran Siddhattha dilahirkan,
2. Tempat Beliau mencapai kesucian dan menjadi Buddha,
3. Tempat Sang Buddha pertama kali membabarkan Dhamma, serta
4. Tempat Sang Buddha wafat.
Dan, ketika ia akan meninggal, ia dapat mengingat kesan baik saat berkunjung keempat tempat yang berkesan ini, maka ia akan dapat terlahir di alam bahagia.
Ini pula sebabnya seseorang yang akan meninggal dunia dilakukan upacara pembacaan paritta. Salah satu tujuan upacara ritual ini adalah untuk membantu orang yang akan meninggal tersebut mengingat berbagai kesan kebajikan yang telah dilakukannya selama hidup. Dengan demikian, ia akan mempunyai kondisi untuk terlahir di alam bahagia.

c). Kalau di dalam proses kematian itu tidak ada perbuatan yang berkesan atau tidak sempat berpikir, misalnya karena ia meninggal dalam keadaan koma atau kecelakaan fatal, maka hal yang menentukan kelahiran kembalinya adalah perbuatan yang menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Misalnya, orang yang mempunyai kebiasaan bermain musik, apabila pada saat meninggal dunia ia teringat dengan kebiasaannya itu, maka ia dapat saja terlahir kembali sebagai orang yang memiliki bakat bermain musik sejak kecil.

d). Bobot kamma yang super ringan atau kecil.
Apabila pada saat kematian, seseorang tidak mempunyai kamma yang super berat, kamma yang berkesan maupun kamma kebiasaan, maka pada saat itu akan timbul jenis kamma yang super ringan atau sepele. Misalnya: Pada satu saat, seseorang pernah melihat dan menyingkirkan paku agar tidak ada orang lain yang terluka karenanya, apabila kamma sederhana yang membahagiakan ini timbul di saat kematian, ia dapat pula terlahir di alam bahagia.

Dari keterangan di atas, dapatlah dimengerti bahwa kamma walaupun hanya SATU, namun, dari berbagai sudut pandang, kamma dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu menurut waktu, fungsi dan bobotnya. Setiap kelompok terdiri dari empat bagian. Dengan demikian, secara keseluruhan, SATU kamma yang dimiliki oleh seseorang dapat dimengerti sebagai 12 jenis kamma yang saling berkaitan menjadi satu kesatuan.

Semoga uraian tentang berbagai jenis kamma ini dapat mendorong para umat serta simpatisan Buddhis agar selalu mengisi setiap saat dalam hidupnya untuk berbuat, berbicara dan berpikir yang baik. Kesimpulannya, jadikanlah perbuatan baik sebagai kebiasaan.

Baca juga:
Kamma dan Hasilnya

 

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

7 Habits of Highly Effective Shakhyamunibuddha

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Desember 8, 2009

 

 
1. Tak melakukan kekerasan, melukai, apalagi membunuh.
Dengan tak keras maka kita tak akan dikerasi oranglain di masa depan. Begitupula dengan tak melukai dan tak membunuh. Berarti semakin cepat kita ke surga. Di surga Anagami, yaitu surga Sudhavassa, belajar Dhamma sangat tenang dan semua bahan ada sehingga langsung menjadi Buddha sesudah itu.

2. Tak mengambil apa yang tak diberikan (korupsi, mencuri, menaikkan harga jual jauh diatas kesepakatan pasar).
Hidup apa adanya membuat yang buruk-buruk tak muncul dalam kehidupan, yaitu:
a. Munculnya penyakit.
b. Munculnya masalah.
c. Munculnya petaka.

3. Tak berhubungan seks.
Setiapkali memakai waktu untuk belajar dhamma, grafik kekuatan naik. Setiapkali memakai waktu untuk memanjakan indra, grafik kekuatan turun.
Inilah management waktu bangsa Saiya yang terbukti sangat efektif dalam meningkatkan power.

4. Berbicara benar, apa adanya, dan tak memfitnah.
Membuat orang sudah pasti percaya padanya. Hingga terkenal dalam kisah mahabharata, Durna berkata, “aku tanya dulu Yudhistira, karena jika dia yang berkata maka sudah pasti bukan isu”.

5. Berbicara tak lembut juga tak keras. Tapi sopan dan menyenangkan.
Membuat apapun yang kita sajikan adalah hiburan.

6. Pagi makan, malam puasa.
Pagi segar bisa untuk olahraga tubuh pun sedang cari makan, malam pas untuk meditasi dan merenung.

7. Tak membuka klinik pengobatan dan ramalan.
Membuat murid lebih cepat banyaknya.

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »

Apakah Buddhism Termasuk Nihilism?

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Desember 1, 2009

 

Anatta adalah salah satu doktrin yang sangat penting dalam ajaran Buddha. Anatta adalah ajaran yang paling unik, yang diakui oleh banyak cendekiawan, membedakan ajaran Buddha terhadap agama-agama lainnya. Para cendekiawan menyatakan bahwa semua agama selain ajaran Buddha menerima adanya sesuatu atau makhluk yang bersifat spiritual, metafisik, atau psikologis, di dalam atau di luar makhluk hidup. Kebanyakan agama mengakui keberadaan jiwa atau diri.

Donald Watson menulis, Di antara agama-agama besar di dunia, hanya ajaran Buddha yang tidak mengakui keberadaan jiwa. Pelajar lainnya, Richard Kennedy menyatakan,Menurut ajaran Kristiani, Islam, dan Yahudi, setiap jiwa akan dihakimi pada akhir zaman. Jiwa itulah yang menentukan apakah seseorang akan dihukum dalam neraka atau dihadiahi kehidupan abadi di dalam surga. Ajaran Buddha mengajarkan bahwa jiwa atau diri yang kekal itu tidak ada.

Sekalipun doktrin anatta adalah begitu penting, unik, dan semestinya dipahami oleh umat Buddha, namun sampai saat ini dari seluruh ajaran Sang Buddha, doktrin inilah yang paling banyak disalahpahami, paling disalahtafsirkan, dan paling menyimpang. Beberapa cendekiawan besar yang memelajari ajaran Buddha, sangat menghormati Sang Buddha dan mengagumi ajaran-Nya, namun mereka tidak dapat mengerti kenapa seorang pemikir besar seperti Beliau menolak keberadaan jiwa.

Kontroversi mengenai doktrin anatta sepertinya didasari oleh rasa takut yang mendalam terhadap penolakan adanya jiwa. Manusia pada umumnya sangat melekat pada hidupnya, sehingga mereka cenderung untuk mempercayai adanya sesuatu yang bersifat tetap, kekal, abadi di dalam dirinya. Bila ada orang yang mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang kekal dalam diri mereka, tidak ada semacam jiwa dalam diri mereka yang akan berlangsung selamanya,mereka akan merasa ketakutan.

Mereka bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan mereka di masa mendatang mereka takut jadi musnah! Sang Buddha memahami hal ini, seperti yang dapat kita lihat dalam cerita tentang Vacchagotta, yang seperti orang pada umumnya, takut dan bingung terhadap doktrin anatta.

Vacchagotta adalah seorang pertapa yang pada suatu hari mengunjungi Sang Buddha untuk menanyakan beberapa hal penting. Dia bertanya kepada Sang Buddha, Apakah atta itu ada? Sang Buddha diam. Kemudian, dia bertanya kembali, Apakah atta itu tidak ada? Namun Sang Buddha tetap diam. Setelah Vacchagotta berlalu, Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda, mengapa Ia telah bersikap diam. Sang Buddha menjelaskan bahwa Ia mengetahui Vacchagotta sedang mengalami kebingungan tentang atta, dan jika Ia menjawab bahwa atta itu ada, berarti Ia mengajarkan paham eternalistik, teori jiwa yang kekal, yang tidak Ia setujui. Namun, bila Ia menjawab bahwa atta itu tiada, maka Vacchagotta akan berpikir Sang Buddha mengajarkan paham nihilistik, paham yang mengajarkan bahwa makhluk hidup hanyalah suatu organisme batin-jasmani yang akan musnah total setelah kematian.

Sang Buddha tidak setuju dengan paham nihilistik karena paham ini menolak kamma, tumimbal lahir, dan hukum keberasalan yang saling bergantungan. Sebaliknya Sang Buddha mengajarkan bahwa manusia terlahir kembali dengan patisandhi, kesadaran yang berkesinambungan, kesadaran tumimbal lahir yang tidak berpindah dari kehidupan sebelumnya, melainkan timbul karena adanya berbagai kondisi dari kehidupan sebelumnya, misalnya kondisi seperti kamma. Jadi orang yang terlahir kembali bukanlah orang yang sama dengan yang telah meninggal, namun juga bukan orang yang sepenuhnya berbeda dengan yang telah meninggal. Yang paling penting, dalam ajaran Buddha tidak dikenal adanya tubuh metafisik, jiwa, atau roh yang sama yang berlanjut dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.

Namun ajaran ini terlalu sulit bagi Vacchagotta, dan Sang Buddha ingin menunggu sampai Vacchagotta telah matang secara intelektual. Sang Buddha bukanlah seperti komputer yang akan menjawab setiap pertanyaan secara otomatis. Demi kebaikan para penanya, Ia mengajar sesuai dengan kesiapan dan perangai seseorang. Cerita selanjutnya, melalui meditasi Vipassana, Vacchagotta mampu mencapai kematangan spiritual, memahami sifat segala sesuatu yang tidak memuaskan, fana, dan tiada inti diri; dan akhirnya dia menjadi seorang Arahat.

Namun sayang sutta ini disalahgunakan oleh beberapa cendekiawan Hindu seperti Ananda K. Coosmaraswamy dan I.B. Horner yang mencoba membuktikan bahwa Sang Buddha mengakui adanya roh. Adapun gagasan yang terkandung dalam istilah atta sebagai berikut. Sebelum Sang Buddha muncul di dunia, Brahmanisme,yang kemudian hari disebut Hinduisme,adalah ajaran utama yang dianut di India. Brahmanisme mengajarkan doktrin keberadaan atta (atau atman, dalam Sansekerta), yang pada umumnya diterjemahkan sebagai jiwa atau diri. Kemunculan Sang Buddha yang merupakan ex-Hindu dengan ajarannya yang lain dari yang lain sudah membuat para cendekiawan hindu kebakaran jenggot.

Lihat bagaimana mereka membuat Buddha seolah-olah mengakui adanya roh:
1. Buddha tidak menyetujui paham Eternalisme: Jiwa mahluk itu tidak eternal (kekal). Manusia bisa membinasakan tubuh, tapi Tuhan berkuasa membinasakan baik tubuh maupun jiwa.
2. Buddha tidak menyetujui paham Nihilisme: Mahluk bukan hanya organisme jasmani yang akan musnah atau lenyap sesudah kematian. Ya ini berarti ada sesuatu dalam diri mahluk yang tidak musnah oleh kematian fisik.

Padahal yang sebenarnya:
1. Buddha tidak menyetujui paham Eternalisme: Tak ada yang kekal pada makhluk, baik fisik maupun mentalnya.
2. Buddha tidak menyetujui paham Nihilisme: Kematian tak akan menghentikan pertumbuhan makhluk begitu saja, karena masih ada kesadaran kembali yang membuahkan kelahiran kembali.

Jadi, jawaban untuk judul di atas adalah: Tak. Buddhism bukan Nihilism.

Tulisan terkait:
Asalmula Munculnya Konsep Roh
62 Kesalahan Kaum Spiritulalit

Ditulis dalam Opini | Leave a Comment »

Pilih Jadi Puthujana Atau Bhikkhu?

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 28, 2009

 

Tak jarang ummat Buddha yang mengalami kebimbangan, bingung menentukan pilihan hidup, apakah mau hidup berumah-tangga, atau menjadi Bhikkhu ? Dari kebimbangan itu, ada pula yang mempunyai solusi alternative, yaitu, menempuh kehidupan selibat ( tidak menikah dan berkeluarga ) namun tidak bergabung menjadi anggota Sangha.

Haruskah menjadi Bhikkhu ? Burukkah menjadi sekedar “ummat-awam” ? Bermanfaatkah menempuh hidup ke-Bhikkhu-an ?

Menjadi seorang Bhikkhu memang merupakan sebuah karma baik,bahkan bisa disebut sebagai “hal-terbaik” bagi seorang ummat Buddha, sebab menjadi Bhikkhu adalah hal bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi semua ummat manusia.

Akan tetapi, seseorang tidak dapat memaksakan diri menjadi Bhikkhu, jika itu belum menjadi buah karmanya. Sebab, bila ia memaksakan dirinya, maka, secara mental ia tidak akan “tahan” dalam menjalani hidup ke-Bhikkhu-an yang penuh dengan aturan-aturan ( vinaya ) yang sangat ketat, yang bertolak belakang dengan kehidupan sebagai ummat awam / perumah-tangga.

Sehingga, seorang ummat Buddha tidak perlu malu-malu untuk hidup sebagai ummat awam jika memang karma dan buah karmanya belum matang untuk kesana. Sebaliknya, seseorang yang sudah masak buah karmanya, tidak pula dapat dihalang-halangi tekadnya untuk menjadi Bhikkhu atau mencapai kesempurnaan. Pangeran Siddhatta Gotama, karena telah masaknya kesempurnaan yang beliau pupuk sejak empat (4) Asankheyya dan seratus ribu ( 100.000 ) Kappa yang lampau, tidak dapat dicegah oleh keluarganya saat beliau hendak pergi meninggalkan istana, tahta, harta, istri, selir-selir, dan semua kemewahan yang beliau miliki saat itu, demi merealisasi ke-Buddha-an.

Kalo sedang terkenal gak mau jadi bhikku, karena mau berorganisasi dulu.
Kalo sedang hina gak mau jadi bhikku, karena mau jadi ‘orang’ dulu.
Kalo sedang miskin gak mau jadi bhikku, karena mau kaya dulu.
Kalo sedang kaya gak mau jadi bhikku, karena masih kaya.
Kalo sedang sendiri gak mau jadi bhikku, karena ingin punya pacar/istri dulu.
Kalo sudah berkawan gak mau jadi bhikku, karena masih sibuk ngurus istri.
Kalo sedang terganggu gak mau jadi bhikku, karena nyaman saja belum gimana mau vipassana.
Kalo sudah nyaman gak mau jadi bhikku, karena sudah punya tv kabel, rumah mewah, uang banyak, cewek-cewek cantik, dsb.

Dalam peraturan Agama Buddha, seseorang yang belum berumur 16 tahun harus meminta izin ortu dulu sebelum jadi Bhikku. Tapi jika sudah lewat 16 tahun tak perlu minta izin. Peraturan ini dibuat Buddha, sejak Buddha mentahbiskan Rahula sebagai bhikku, lalu membuat Raja Sudhodana sedih, dan meminta Buddha agar membuat peraturan bagi anak di bawah 16 tahun hendaknya perlu izin ortu dulu.

Kembali ke soal tadi. Perlu atau tak menjadi bhikku?
Jawabannya: Tergantung matangnya buah kamma.

Sebenarnya orang beragama itu bukanlah soal keinginan, tapi soal buah kamma. Dulu Saya pernah berkata, semua orang pernah merasa neraka. Karena orang cuma bisa ke surga jika sudah pernah merasa neraka. Begitupula orang cuma mau benar jika sudah pernah salah.

Jika memang orang beragama itu karena keinginan, tentu dari dulu kita sudah langsung ke agama Islam, Hindu, Buddha, dsb. Tapi kenapa harus lahir berkali-kali. Kadang-kadang sebagai kristen, lalu sebagai Hindu, lalu sebagai, Buddhist? Ini semua karena perjalanan mental membutuhkan kamma-kamma yang sesuai untuk bisa mendapatkan keinginan yang dikehendaki.

 

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Upadana dan Akibatnya

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 28, 2009


Upadana dan Akibatnya
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw

Apa yang disebut fenomena saat ini adalah apa yang terjadi pada salah satu dari enam pintu indera pada saat ini juga. Hal itu belum tercemar, ibarat sehelai kain yang baru atau selembar kertas kosong. Jika anda cukup cepat mencatatnya begitu hal itu muncul, hal itu tidak akan tercemar. Jika anda gagal mencatatnya, hal itu menjadi tercemar. Sekali tercemar, hal itu tidak dapat dibersihkan. Jika anda gagal mencatat mental dan jasmani pada saat kemunculannya, upādāna selalu ikut campur – upādāna dengan nafsu indera, dengan pandangan salah, dengan upacara dan ritual, atau dengan ego. Apa yang terjadi saat upādāna muncul?

“Terkondisi oleh upādāna, muncullah penjadian (bhava). Terkondisi oleh penjadian, muncullah kelahiran (jāti). Terkondisi oleh kelahiran, muncullah usia tua (jarā), kematian (marana), kesedihan (soka), ratap tangis (parideva), sakit (dukkha), bersedih hati (domanassa) dan putus asa (upāyāsā). Sehingga muncullah seluruh jenis penderitaan.” (M.i.266)

Upādāna bukanlah hal yang sepele. Hal ini adalah penyebab utama perbuatan baik dan buruk. Seseorang yang diliputi upādāna, berjuang untuk mendapatkan apa yang ia percaya adalah suatu hal yang baik. Setiap orang melakukan apa yang ia pikir baik. Apa yang membuat ia berpikir bahwa hal itu adalah baik? Upādāna. Orang lain mungkin berpikir bahwa hal itu buruk, tetapi bagi si pelaku hal itu adalah baik. Jika ia berpikir hal itu tidak baik, ia tidak akan melakukannya. Ada suatu ucapan yang berharga dalam salah satu ukiran prasasti Raja Asoka, “Seseorang berpikir baik tentang perbuatannya. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang perbuatannya.” Seorang pencuri mencuri karena tampaknya mencuri itu baik bagi dia. Seorang perampok merampok karena tampaknya merampok itu bagus. Seorang pembunuh berpikir bahwa membunuh adalah baik. Pangeran Ajātasattu berpikir adalah baik untuk membunuh ayahnya sendiri, Raja Bimbisāra. Devadatta mencoba membunuh Sang Buddha, karena ia berpikir hal itu adalah baik. Seseorang yang meminum racun untuk bunuh diri melakukannya karena ia berpikir hal itu adalah baik. Ngengat bergegas menuju cahaya api pelita karena berpikir hal itu adalah sesuatu yang sangat baik. Semua makhluk hidup melakukan apa yang mereka perbuat karena mereka berpikir hal itu adalah baik untuk dilakukan. Berpikir bahwa hal itu baik adalah upādāna. Sekali anda benar-benar mencengkeram (upādāna) pada suatu ide, anda melakukan perbuatan. Apakah hasilnya? Hasilnya adalah perbuatan baik dan buruk.

Adalah baik menahan diri supaya tidak menyebabkan penderitaan bagi makhluk lain. Adalah perbuatan baik untuk memberikan bantuan kepada orang lain. Adalah pebuatan baik untuk berdana atau memberikan penghormatan kepada orang yang pantas dihormati. Perbuatan baik mendatangkan kedamaian mental, usia panjang, dan kesehatan yang baik dalam kehidupan ini juga. Hal itu akan memberikan manfaat yang baik dalam kehidupan-kehidupan berikutnya juga. Upādāna yang demikian adalah upādāna yang benar. Orang-orang yang mencengkeram pada perbuatan baik membuat karma baik melalui pemberian dana dan menjalankan sīla. Apakah hasilnya? “Terkondisi oleh penjadian, muncullah kelahiran.” Setelah meninggal, mereka akan terlahir kembali sebagai manusia atau dewa. Jika terlahir sebagai manusia, mereka akan menikmati usia panjang, kecantikan, kesehatan, status, banyak teman, dan kekayaan. Anda dapat menyebut mereka “orang yang bahagia”. Sebagai dewa, mereka akan memiliki banyak pengikut dan tinggal di istana yang megah. Mereka telah tercengkeram oleh pemikiran kebahagiaan, dan dalam arti duniawi mereka dapat disebut berbahagia.

Namun dalam arti yang tertinggi, manusia-manusia bahagia dan dewa-dewa ini tidaklah bebas dari penderitaan. “Terkondisi oleh kelahiran, muncullah usia tua dan kematian.” Walaupun mereka terlahir sebagai manusia yang bahagia, mereka akan menjadi tua. Lihatlah para orang tua yang bahagia di dunia ini. Saat mereka melampaui usia tujuh puluh atau delapan puluh tahun, segalanya menjadi penderitaan bagi mereka. Rambut beruban, gigi yang ompong, penglihatan yang lemah, pendengaran yang kurang baik, tubuh yang bungkuk, kulit yang keriput, kekuatan yang melemah – mereka menjadi tidak bisa apa-apa lagi. Walaupun memiliki kekayaan dan nama baik, dapatkah orang-orang tua seperti itu bahagia? Mereka menderita akibat usia tua. Mereka tidak dapat tidur nyenyak, mereka tidak dapat makan dengan lahap, mereka kesulitan untuk duduk dan bangun. Akhirnya, mereka harus menghadapi kematian. Bahkan orang kaya, raja, atau penguasa suatu saat harus mati. Kemudian ia tidak memiliki apa-apa lagi yang dapat ia andalkan. Teman-teman dan saudara mengelilinginya, tetapi ia hanya berbaring di ranjangnya, menutup matanya, dan meninggal. Pada saat kematian ia pergi untuk memulai kehidupan berikutnya sendirian. Ia pasti merasa berat meninggalkan segala kekayaannya. Jika ia belum melakukan cukup banyak perbuatan baik, ia akan khawatir tentang nasibnya.

Dewa-dewa yang agung juga harus meninggal seperti ini. Satu minggu sebelum kematiannya, lima pertanda muncul pada diri mereka. Bunga-bunga yang menghiasi mereka mulai layu, pakaian mereka mulai menjadi usang, keringat muncul dari ketiak mereka, tubuh mereka mulai kelihatan tua, dan mereka menjadi tidak puas lagi dengan kehidupan mereka. Ketika lima pertanda ini muncul, mereka segera menyadari bahwa kematian segera menghampirinya, dan menjadi sangat cemas.

Pada jaman sang Buddha, Sakka (raja dari alam dewa Tāvatimsa) melihat tanda-tanda ini muncul. Sangat cemas, menyadari bahwa ia akan segera meninggal, ia pergi menemui sang Buddha untuk meminta nasehat. Sang Buddha mengajarinya Dhamma dan ia menjadi seorang pemenang arus (sotāpanna). Setelah ia meninggal, ia terlahir kembali menjadi raja Tāvatimsa. Ia beruntung bisa bertemu sang Buddha, kalau tidak hasilnya tentu akan celaka.

Tidak hanya usia tua dan kematian, tetapi juga kesedihan, ratap tangis, sakit, ketidakbahagiaan, dan putus asa muncul akibat kelahiran. Jadi bahkan kehidupan yang beruntung akibat dari upādāna pada akhirnya merupakan penderitaan yang mengerikan. Manusia, dan bahkan dewa, harus menderita. Jika suatu kehidupan yang beruntung sebagai akibat dari perbuatan baik adalah penderitaan, apakah lebih baik tidak melakukan perbuatan baik? Tidak, bukan demikian. Jika kita tidak melakukan perbuatan baik, kita akan melakukan perbuatan buruk, yang akan membawa kita ke neraka, atau kelahiran kembali sebagai binatang atau setan. Penderitaan di alam rendah (apāya) ini jauh lebih parah. Kehidupan manusia atau dewa adalah penderitaan bila dibandingkan dengan kebahagiaan nibbāna, tetapi dibandingkan dengan penderitaan di alam-alam rendah, hal ini adalah keberuntungan dan kebahagiaan.

Fundamentals of Insight Meditation
Pengarang: Mahasi Sayadaw
Terjemahan Bahasa Inggris oleh Maung Tha Noe
Penyunting: Bhikkhu Pesala
Cetakan Pertama: Myanmar 1981
Edisi Baru: February 2002

Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Tamiran Irwan
Penyunting: Andi Kusnadi
Desember 2008

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Dana dan Kammanya

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 28, 2009


Dana dan Kammanya
Oleh: Y.M. Mahasi Sayadaw

Saat ini saya akan membabarkan tentang dakkhinavisuddhi, hadiah atau pemberian yang murni. Terdapat empat jenis pemberian:
1. Ketika seseorang yang mempraktekkan sila, moralitas, berdana kepada seseorang yang tidak mempraktekkan sila, si pemberi memperoleh manfaat. Pemberian itu murni.
2. Dana yang dipersembahkan oleh seseorang yang tidak mempraktekkan sila kepada pihak yang mempraktekkan sila. Pemberian itu tetap murni dari sudut pandang si penerima. Si pemberi memperoleh manfaat yang sama pula. Dan, buah kamma baik yang diperoleh jauh lebih besar.
3. Bila di antara keduanya, baik pemberi dan penerima, tidak memiliki moral yang baik, pemberian jenis ini tidak murni. Juga, tindakan memberi itu tidak berfaedah. Meski si pemberi kemudian melimpahkan jasa baiknya kepada mahkluk lain, misalnya kepada para peta, pihak terakhir ini tidak bisa menerima
pemberian itu sehingga ia tak akan terbebas dari alam peta.
4. Bila keduanya, baik pemberi maupun penerima dana memiliki sila yang baik, maka kamma baik yang timbul dari pemberian semacam ini akan memberi manfaat jasa tertinggi. Disinilah penjelasan ulang tentang jenis-jenis pemberian baik yang dilakukan oleh individu awam maupun anggota Sangha.

Jumlah jasa yang diperoleh dari pemberian kepada individu:
1. Pemberian kepada binatang, kamma baiknya 10.
2. Pemberian kepada orang-orang yang tidak mempraktekkan sila, membuahkan kamma baiknya 1000.
3. Pemberian kepada individu yang mempraktekkan sila (moralitas) meski ia bukan pengikut Buddha, akan membuahkan kamma baik 1000 sepanjang seribu kali kelahiran
4. Pemberian kepada seseorang yang memiliki abinna meski orang tersebut berada di luar Buddha Sasana dapat membuahkan kamma baik sebanyak berjuta-juta lingkaran kehidupan.
5. Pemberian yang diberikan kepada seseorang yang berpotensi meraih tingkat sotāpanna, akan memperoleh kamma baik sebanyak tak berhingga lingkaran kehidupan.

Jenis pemberian ini digolongkan menurut status penerimanya. Juga, jasa atau buah kamma baiknya berbeda-beda menurut tingkatan moral penerimanya. Sebagai contoh, pemberian kepada individu yang mempraktekkan pancasila (lima sila) bisa mendatangkan banyak kamma baik dibanding pemberian kepada orang-orang yang hanya berlindung kepada Tiratana (perlindungan kepada Buddha, Dhamma dan Sangha).

Urutan penerima pemberian di bawah ini dibuat berdasar urutan kamma baik yang ditimbulkan, mulai dari yang terkecil:
* berdana kepada umat Buddha yang mempraktekkan sila
* berdana kepada orang yang melaksanakan delapan sila.
* berdana kepada orang yang melaksanakan sepuluh sila.
* berdana kepada orang yang mempraktekkan samatha.
* berdana kepada orang yang mempraktekkan vipassanā.
* berdana kepada bhikkhu yang mempraktekkan sila.
* berdana kepada bhikkhu yang mempraktekkan samatha dan vipassanā dengan penuh kewaspadaan dan awas setiap saat.
* berdana kepada orang-orang yang berhasil meraih pengetahuan batin dalam vipassanā menurut tingkat-tingkat pengetahuan batin yang dicapainya.
* berdana kepada orang-orang yang berhasil meraih tingkat sotāpatti, dan seterusnya.

Secara teori, jasa tertinggi bisa diperoleh jika seseorang memberi persembahan kepada yogi yang telah memasuki tingkat kesucian. Tapi, rentang waktu inspirasi tingkat kesucian muncul dan lenyap sangat singkat. Karenanya merupakan hal yang amat sulit untuk berdana pada saat tersebut agar dana itu bisa membuahkan jasa tertinggi. Meski demikian, adalah sesuatu yang mungkin untuk memperoleh keberuntungan tertinggi diluar pemberian kepada seorang kalyana putthujana, orang biasa yang memiliki kebajikan tertentu, yang telah memperoleh tingkat pengetahuan keseimbangan batin setelah melengkapi ke-9 tingkat-tingkat pengertian dalam latihan meditasi pandangan terang, yang dinamakan sankhara upekkha nana.
Lebih jauh, jasa yang diperoleh dari pemberian kepada seorang sotāpatti, sakadāgāmi, anāgāmi dan arahat sangat sulit untuk digambarkan. Jasa-jasa ini hanya berakhir dalam hitungan asankheyya lingkaran kehidupan (bila ditulis dengan angka, satu ditambah 14 nol, tahun).

Sedikit tambahan tentang peranan “kehendak” yang mempengaruhi hasil dari kegiatan berdana yang dilakukan berdasarkan keterangan dari Abhidhammattasangaha. Di sana dikatakan bahwa “kehendak sebelum berdana (pubba cetanā), kehendak ketika berdana (muñca cetanā), dan kehendak setelah berdana (apara cetanā)” harus baik.

Alih Bahasa Inggris-Indonesia : Chandasili Nunuk Y. Kusmiana.
Editor: Samuel B. Harsojo; Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Medio Pebruari 2004.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Shalat dan Ikan Asin

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 14, 2009

Sebuah post dari blog tetangga:
Masjid tempat saya Jum’atan – di Batan, jalan Taman Sari, Badnung – memiliki desain yang unik. Pas di bawah masjid adalah tempat makan karyawan. Ada tangga yang menghubungkan keduanya di sebelah kanan (dalam) masjid.

Ketika kita sedang asyik jumatan, kadang-kadang tercium bau makanan. Dan yang lebih serunya biasanya makanan mulai dipersiapkan menjelang jumatan usai … yaitu pas shalat dimulai.

Jadi … kadang pas sedang shalat tercium bau ikan asin. Hadoh … konsentrasi buyar. hi hi hi.

_______________________________________

Komentar Ratu Adil:
hehehe… yach… memang saat sedang shalat sulit untuk konsentrasi. dan memang tak mungkin.

karena otak sedang dipakai untuk menghafal. yaitu menghafal ayat dan doa selama shalat.

orang yang khusyuk solatnya bukanlah orang yang terkonsentrasi pikirannya, melainkan orang yang hafal banget dia. hehe.

hahaha.. hahaha… hahaha…

Mau tau konsentrasi dan cara membangkitkannya yang sebenarnya? datang ke blog saya.

ingat, pas belajarnya jangan sambil menghafal yang lain ya. hehe…

hahahaha… ahhahaha…

 

ikan_asin

Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »

Kenapa Saya Menjadi Buddhist

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 14, 2009

upasika_bharadvaja

(Lanjutan tulisan “17 Alasan Kenapa Kami Meninggalkan Islam“)

Buddha menemukan bahwa dunia tak lepas dari tiga kondisi, Anatta, Anicca, Dukkha.

Anatta berarti tak ada inti atau master kekuatan yang mengatur segalanya, karena semua cuma rentetan kejadian berdasar hukum kamma. hukum perbuatan sebab-akibat.

Karena itu satu makhluk tak mempunyai kekuatan untuk memilih atau free will. Kata “pilihan” atau “pilihan hidup” cuma digunakan oleh makhluk yang belum tercerahkan. Karena setiap pilihan adalah bukan kepunyaannya melainkan hasil potensi makhluk itu sendiri. “Potensi”, “potensi alam”, atau “potensi otak/pikiran” juga bukan tersedia begitu saja. Melainkan juga hasil dari menimbun kamma-kamma di masalalu.
Setiap pilihan selalu berujung pada keputusan. Seseorang cuma bisa melihat adanya pilihan, tapi ia tak pernah bisa memilih atau tak pernah betul-betul punya “pilihanku” atau “keputusanku”.
Yang disebut “memilih” tak betul-betul ada, karena yang ada cuma “mengambil buah kamma”.
Yang disebut “memutuskan” tak betul-betul ada, karena yang ada cuma “berpikir tepat”.
Karena itulah di dunia tak ada yang disebut “pilihanku” atau “keputusanku”. Yang ada cuma “pengambilan” dan “pemikiran tepat”.
“Memilih” cuma terbukti ada jika satu makhluk bisa membuat dua jawaban untuk satu pertanyaan. Meski ia berkata, “ooo ada 2 jawaban untuk itu” maka dengan mengatakan itu, itu adalah 1 jawaban. Karena itulah, “pilihan” tak pernah ada di dunia.
“Memutuskan” cuma ada jika tak ada data. Tapi karena pikiran selalu menyimpan data dari pengalaman terdahulu maka itu bukanlah memutuskan tapi mengambil. Karena itulah “keputusan” tak pernah ada di dunia ini.
Lebih lanjut lagi, deskripsi singkat dari Anatta adalah, kondisi dimana satu makhluk tak bisa berkata, “biarlah aku menjadi begini begitu..”, “Tuhan akan membuat begini begitu…”, “pikiran akan membuat begini begitu…”,”hal ini akan membuat begini begitu…”
Seseorang bisa menjadi begini begitu karena ada buah kamma untuk itu, bukan karena ia berkehendak.
Seseorang tak berani berkata “Tuhan akan membuat begini begitu…” cuma berani berkata “semoga…”
Pikiran tak bisa menjadikan ini itu karena pikiran cuma mentransfer buah-buah kamma untuk dijadikan ini itu.
Uang tak bisa dipastikan menjadi ini itu, karena masih tergantung fluktuasi ekonomi. Karir tak bisa dipastikan mengangkat derajat orang karena tergantung politik sosial ekonomi budaya.

Kondisi tanpa diri yang disebut di atas menampilkan satu fakta bahwa semua hal cuma sementara diakibatkan bentuknya yang selalu terkondisi dan mengkondisikan.

Kondisi tak tetap itulah yang membawa penderitaan bagi orang-orang yang menginginkan untuk hidup atau untuk mati.

Kenyataan dunia yang sudah dilihat oleh Buddha itu lalu ditemukan jalan keluarnya, yaitu dengan memasuki 9 fase meditasi, di mana di fase terakhir ditemukan kenyataan pembebasan, yaitu: saat dimana makhluk sudah hilang bodoh, tamak, dan bencinya, sehingga hilang pula gairah, hasrat, nafsu, yang selalu mewujudkan keinginan itu. Saat 3 akar keinginan lenyap, disitulah ditemukan kedamaian tanpa stimulasi. Yaitu Nibbana. “manusia jika ingin bahagia selalu perlu stimulasi fisik atau mental untuk itu. Tatagatha mampu mencapai kebahagiaan tanpa stimulasi” – Buddha. Karena itulah Nibbana disebut “sesuatu yang tak dilahirkan dan tak melahirkan” – Udana III.

Karena semua makhluk memerlukan dualitas untuk mengukur skala kebenaran yang sebenarnya, maka terjadilah proses pertumbuhan, yang disebut lahir, tua, sakit, mati. Proses pertumbuhan ini terjadi berulang-ulang melalui kejadian kelahiran kembali mental yang menghasilkan kelahiran fisik berikutnya.

Jadi, setiap makhluk memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menjadi sesuai pola pikirannya yang terbentuk akibat pola kamma/kegiatannya. Hidup satu hari, 100 hari, 1000 hari, sama saja bagi orang yang sudah mengerti, karena kultivasi mental akan terjadi berulang-ulang selama bahannya, yaitu kamma masih ada. Jadi, pengejaran akan kemudaan dan umur panjang samasekali tak relevan dalam
pembelajaran buddhism, karena waktu tak terbatas bagi seorang manusia untuk mengejar ketinggalannya. Karena itulah dalam agama buddhi berlaku pepatah “belajarlah bukan cuma sampai ke kuburan,tapi sampai kamu menjadi Buddha”.

Untuk mencapai Nibbana, diperlukan kendaraan, yang bernama Meditasi. Inilah yang disebut rakit oleh Shakhyamunibuddha.
Di dalam meditasi inilah tersimpan semua pengalaman pikiran yang terlatih, yang disebut oleh Einstein sebagai “agama yang merupakan kesatuan terpadu antara pengalaman dunia dan religious”. Dimana boosternya adalah sebuah latihan pemacu fisik dan mental, yang disebut Vipassana Bhavana (pengembangan mental untuk pencerahan/nana), dimana latihan ini akan memurnikan pikiran sampai 7 kali putaran:
1. Pemurnian prilaku.
2. Pemurnian pikiran.
3. Pemurnian pandangan.
4. Pemurnian atas keraguan.
5. Pemurnian untuk tahu apa jalan dan apa bukan jalan.
6. Pemurnian untuk tetap pada Jalan (the way- tao – dhamma).
7. Pemurnian untuk kebijakan.

Seorang non-buddhist bisa mencapai meditasi sampai level 8, tapi cuma seorang buddhist yang bisa mencapai level akhir, yaitu level 9 (sannavedayitanirodha/lenyapnya persepsi dan perasaan) sebagai gerbang Nibbana. Jadi, jika ada yang bilang seorang buddhist itu tak ada perasaan itu salah__karena masih punya perasaan netral, tapi jika ia bilang seorang Buddha tak ada perasaan itu benar.

Kenapa cuma seorang buddhist yang bisa mencapai level 9, atau cuma seorang buddhist yang bisa menjadi Buddha? Karen level 1-8 boosternya adalah Vipassana level 1-3 saja, sedang level 9 membutuhkan tambahan booster vipassana level akhir, yaitu “Dhammanupasssana: Perhatian penuh pada agama”. Dhammanupassana ini di dalamnya terkandung doktrin-doktrin buddhism, yaitu:
a. 5 jenis rintangan meditasi (nivarana)
b. 5 kelompok tubuh (khanda)
c. 6 Landasan indra (ayatana)
d. 7 faktor pencerahan (Bojjhanga)
e. 4 kebenaran mulia, kebenaran terakhir berisi doktrin 8 ruas jalan mulia (ariya sacca)

Tak ada meditasi tanpa konsentrasi (samadhi), karena itulah tujuan Vipassana Bhavana juga untuk membangkitkan konsentrasi (karena tanpa konsentrasi tak ada kebijakan. “jika terus berpikir aku bisa capek, jika capek aku gak konsentrasi. gak ada konsentrasi gak muncul kebijakan” – buddha di dvhedhavitakka sutta):
1. Khanika samadhi: konsentrasi sekejap, yaitu pikiran terpusat pada obyek tidak lama, hanya sekejap
2. Upacara samadhi: Konsentrasi kearah masuk, yaitu pikiran telah terpusat pada obyek, tetapi belum kuat
3. Appana samadhi: Konsentrasi yang pandai, yaitu pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat.
Di Appana Samadhi inilah yang disebut Jhana/meditasi level 1.

Meditasi (pali = jhana, sankrit = dhyana) itu sendiri dibangun dalam mental berdasarkan asas-asas yang berlaku pada sebuah latihan fisik-mental yang disebut “Samatha Bhavana/pengembangan mental untuk ketenangan)”,yang terdiri dari 9 tahap/level:
Meditasi 1: Vitakka, Vicara, Piti, Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 2: Piti, Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 3: Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 4: Ekagatta.
Meditasi 5: Dasar Alam Tak Terbatas.
Meditasi 6: Dasar Kesadaran Tak Terbatas.
Meditasi 7: Dasar Ketiadaan.
Meditasi 8: Dasar Dari Bukan Persepsi Bukan Pula Non-Persepsi.
Final Meditasi: Lenyapnya Persepsi dan Harapan.

Itulah 9 tahap evolusi makhluk, dimana saat menjadi dewa adalah di level 4 (brahma jika punya cinta, kasih, empati, dan balans), saat menjadi alien di level 4-6, dan mahabrahma di level 7-8, sedang evolusi tertinggi atu makhluk adalah saat ia menjadi Buddha. Jadi bukan saat ia sok cuek, sok atheist, dan malas belajar dengan alasan “kita semua kan bagian keberadaan”, “semua itu sudah indah”, lalu lahir lagi dengan sama begonya).

Saya sudah sering membahas dan mengajarkan Vipassana Bhavana, Samatha Bhavana, dan Dhyana. Jadi kali ini saya bahas saja 8 ruas jalan mulia yang dikatakan Sang Buddha sebagai jalan ke Nibbana.

Banyak buddhist yang mengira, mentang-mentang namanya “pekerjaan baik” lalu bukanlah meditasi. Itu salah, karena soal “pekerjan baik” ini bukan cuma dikerjakan oleh para non-meditator, tapi juga dikerjakan oleh para meditator dalam bentuk perhatian tepat pada agama, atau Dhammanupassana.

Jadi, salah sekali jika ada “buddhist-buddhist” yang berkata, 8 ruas jalan mulia tak perlu. Karena itu pun meditasi juga. Daftarnya bisa dilihat di:

http://mahavatar.wordpress.com/kebenaran/

Saat seseorang mempraktekkan Pandangan Benar:
Ia berhenti menjadi sesuatu dan langsung bekerja sesuai prinsip-prinsip taoisme (tao te ching) dan buddhism (“saat aktifitas ini, ya aktifitas ini” – bahiya sutta, sebagian kecil ajaran zen_tapi orang zen memahaminya secara salah)

Saat seseorang mempraktekkan Pikiran Benar:
Ia berhenti mengisi otaknya dengan hal tak berguna, karena ia tak mau nanti selalu berdengung di bawahsadarnya padahal tak ada kaitan dengan pembebasan. misalnya lagu-lagu dan ajaran/agama salah.

Saat seseorang mempraktekkan Ucapan Benar:
Ia berhenti banyak bicara atau cerewet. “jika tak tahu saatnya belajar dulu. jika tahu jangan sok.” – Lao Tze.

Saat seseorang mempraktekkan Perbuatan Benar:
Ia berhenti berkompetisi dengan orang lain atau berusaha orang lain celaka atau malu.
Nilai Buddhism bukan pada kemenangan duniawi dan bukanpula pada kemenangan akhirat. Melainkan pada kultivasi pikiran.
Di tengah kesuksesan anda atau kemiskinan atau penderitaan anda, apa yang sedang berlangsung di otak anda itulah yang akan Kami lihat dan tinjau.
Jadi tak ada gunanya seseorang berkata, “jika kalian tak punya usaha wiraswasta sendiri seperti saya tak ada gunanya koar-koar di internet.”
Bukan berapa banyak harta yang anda dapat atau anda hamburkan yang cocok jadi pembicaraan kelas tinggi, tapi bagaimana anda menempatkan diri anda pada kondisi-kondisi tertentu agar menjadi Buddha. Jika 1 milyar perlu dihamburkan agar Anda jadi Buddha maka hamburkan, jika cuma 100 ribu gaji yang anda perlukan untuk jadi Buddha maka kerjalah seperti itu.

http://bharadvaja.wordpress.com/2008/08/31/mencari-kondisi-yang-tepat-untuk-menjadi-buddha/

Saat seseorang mempraktekkan Penghidupan Benar:
Ia akan berhenti merazia rumahmakan di saat sekelompok masyarakat sedang menyelenggarakan acara puas yang salah jadwal sahur dan bukanya.
Dan ia akan berhenti korupsi, kolusi, dan nepotism seperti yang biasa dilakukan orang-orang seagamanya.

Saat seseorang mempraktekkan Usaha Benar:
Ia akan berhenti jadi motivator dan menjual buku-buku spiritulalit, dan fokus dulu untuk pindah ke agama yang benar.

Saat seseorang mempraktekkan Perhatian Benar:
Ia akan berhenti bertapa atau beryoga, dan mulai bervipassana bhavana.

Saat seseorang mempraktekkan Konsentrasi Benar:
Ia akan berhenti lihat kiri-kanan, misal lihat cewek mulus. Ia berhenti lihat keluar (melihat tanpa kesadaran) dan mulai lihat ke dalam (melihat dengan kesadaran)

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kelahiran Kembali (III): Proses Kelahiran

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 13, 2009

Berdasarkan pada uraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari tentang proses kelahiran kembali, karena hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang sebagai berikut :

Patisandhi Vinanna
Bhavanga Citta
Manodvaravajjana
Javana
Bhavanga Citta

1. Patisandhi Vinanna
Adalah kesadaran kelahiran kembali, dalam uraian tentang proses kematian, Patisandhi vinanna disebutkan pada urutan proses bagian akhir. Penyebutan ini bukan berarti bahwa patisandhi vinanna terjadi pada pikiran dari orang yang akan meninggal dunia itu, tetapi penyebutan patisandhi vinanna dalam uraian proses kematian adalah untuk menunjukan proses sebab akibat yang berkesinambungan dalam proses kematian dan kelak yang akan terlahir kembali.
Patisandhi vinanna hanya merupakan akibat dari maranasanna janaka citta. Patisandhi vinanna hanya muncul atau ada pada batin atau pikiran dari makhluk yang baru terlahir kembali. Jika makhluk yang terlahir kembali sebagai manusia maka patisandhi vinanna muncul pada ovum yang baru dibuahi oleh sperma dalam kandungan atau tabung ( untuk bayi tabung ). Bersamaan dengan adanya patisandhi vinanna terjadi pula kelompok sepuluh dari jasmani ( kaya dasaka ), kelompok sepuluh dari kelamin ( bhava dasaka ) dan kelompok sepuluh dari kedudukan kesadaran ( vatthu dasaka ).
Kaya dasaka terdiri dari :
elemen
elemen cair
elemen panas
elemen gas
wana
bau
ras
sari makanan
inderiya kehidupan
tubuh

Bhava dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti pada kaya dasaka dan ke 10 adalah kelamin. Sedangkan vatthu dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti kaya dasaka dan ke 10 adalah kedudukan kesadaran.
Menurut pandangan Buddhis, kelamin ditentukan pada saat pembuahan dan dihasilkan oleh karma. Walaupun kelamin telah ditentukan namun kelamin belum berkembang pada saat pembuahan tetapi potensi kelamin adalah laten.
Jadi dengan ada patisandhi vinanna maka kombinasi jasmani – batin baru mulai berkembang dalam kandungan. Sperma ovum orang tua menyiapkan materi sedangkan patisandhi vinanna menyiapkan batin. Patisandhi vinanna yang berhubungan dengan kehidupan yang lalu dan kehidupan yang baru. Proses kesadaran tidak pernah berhenti, kesadaran terakhir dari makhluk yang meninggal berproses terus dan menghasilkan kesadaran lain tetapi bukan dalam tubuh yang sama. Kesadaran lain itu adalah patisandhi vinanna yang hanya bergetar sesaat lalu lenyap dan langsung diikuti oleh bhavanga citta.

Dinyatakan pula bahwa ada empat macam cara kelahiran dari makhluk – makhluk yaitu :
Jalabuja yaitu makhluk yang lahir melalui kandungan seperti manusia dan binatang binatang tertentu.
Andaja yaitu makhluk yang lahir melalui telur seperti unggas, ular, buaya dan binatang lain.
Samsedaja yaitu makhluk yang lahir di tempat yang lembab atau bukan cara jalabuja atau andaja seperti binatang tingkat rendah
Opapatika yaitu makhluk yang lahir secara spontan. Biasanya makhluk yang lahir secara spontan adalah makhluk yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Contohnya : para dewa, peta atau setan, asura dan makhluk di alam brahma.

2. Bhavanga Citta
Setelah Patisandhi vinanna lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar selama 16 saat. Pada tahap embrio maka ia masih merupakan bagian tubuh ibu, itu sebabnya bhavanga citta berproses dengan lancar tanpa ada gangguan.

3. Manodvaravajjana
Telah disebutkan diatasbahwa bhavanga citta hanya berlangsung selama 16 saat dan lenyap, kemudian muncul manodvaravajjana. Bhavanga citta memberikan jalan untuk proses berpikir berlangsung berdasarkan pada keinginan yang muncul dalam batin dari embrio karena kehidupan barunya.

4. Javana
Setelah manodvaravajjana lenyap, javana atau impuls kesadaran muncul. Javana melangsungkan kesadaran yang terjadi pada manodvaravajjana yaitu keinginan pada kehidupan baru. Javana mengembangkan keinginan makhluk baru ( bhavana nikanti javana ), javana bergetar selama 7 saat lenyap.

5. Bhavanga citta
Ketika javana lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar. Bhavanga citta bergetar terus hingga ada sesuatu yang menghentikannya. Pada waktu bayi lahir, ia mulai berhubungan dengan dunia luar maka proses berpikir normal mulai berfungsi.

 

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kelahiran Kembali (II): Proses Kematian

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 13, 2009

Setelah kita mempelajari tentang proses berpikir, maka kita akan dapat dengan mudah mempelajari tentang cara kerja proses pikiran pada saat kematian. Dengan mempelajari dan mengerti tentang proses pikiran pada saat kematian, maka kita akan dapat memperhatikan apa yang berlangsung setelah kematian karena hanya dengan cara ini kita dapat mengerti tentang kelahiran kembali.

Pengaruh Kelahiran Pada Jasmani

Manusia terdiri dari kombinasi antara jasmani dan batin ( nama rupa ). Hubungan antara jasmani dan batin bagaikan hubungan erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau, sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan anatar dua faktor ini. Bilamana orang berada pada saat saat menjelang kematian, jasmani dan batinnya lemah, mungkin seseorang kuat selalu tetapi pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah. Hal ini terjadi karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran dan pada saat getaran itu akan selesai tak ada fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang arus listriknya diputuskan sehingga tidak ada tenaga lagi. Jika kombinasi jasmani dan batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap. Jasmani akan mulai berproses menjadi lapuk, jasmani atau materi tak dapat lenyap tetapi akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas. Elemen ini tak akan lenyap tetapi bentuk elemen elemen itu saja yang berubah.

Pengaruh Kematian Pada Batin
Apakah yang terjadi pada batin setelah meninggal ? batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap batin ini adalah tetap keka. Kematian tidak menghentikan proses batin.

Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum saat kematian yang disebut maranasanna javana citta walaupun lemah dan tak dapat membuat buah pikiran baru namun memiliki suatu potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga objek pikiran yang masuk dalam pikiran dari orang yang segera akan meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat ditolak, munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan sebuah pikiran baru muncul. Pemunculan salah satu dari tiga objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi berdasarkan pada perbuatan perbuatan ( karma ) orang tersebut selama hidupnya. Karma yang bekerja pada saat seperti ini disebut Janaka kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatannya sendiri.

Proses Kematian

Menurut pandangan Buddhis, kematian terjadi karena salah satu dari empat hal yaitu :
Kammakkhaya atau habisnya kekuatan janaka kamma.
Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan.
Ubhayakkhaya atau habisnya janaka kamma dan masa kehidupan secara bersama sama.
Upacchedaka kamma atau munculnya kamma penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan masa kehidupan belum selesai, orang tersebut meninggal dengan cepat.

1. Kammakkhaya
Jika potensi dari janaka kamma atau karma yang mengatur tentang kelahiran telah habis, maka aktivitas organis jasmani yang memiliki daya hidup ( javitindriya ) mati walaupun batas usia kehidupan di alam tertentu itu belum habis. Hal ini biasanya terjadi pada makhluk makhluk yang lahir di alam menyedihkan ( apaya ), neraka, binatang, peta dan asura, tetapi hal ini terjadi juga di dalam alam alam lain.
2. Ayukkhaya
Habisnya masa kehidupan makhluk, Hal ini terjadi sesuai dengan batas usia kehidupan makhluk di masing masing alam.

3. Ubhayakkhaya
Bersamaan habisnya kekuatan janaka kamma dan batas usia kehidupan dari makhluk.

4. Upacchedaka kamma
Kematian seseorang terjadi karena ia telah melakukan perbuatan yang buruk sekali sehingga walaupun janaka kamma maupun usia kehidupannya belum selesai, Ia tiba tiba meninggal dunia sebagai akibat perbuatan buruk tersebut. Suatu kekuatan tertentu dapat menghentikan kendaraan yang sedang melaju, demikian pula karma yang kuat dapat melenyapkan potensi dari arus proses berpikir dan mengakibatkan seseorang meninggal.

Kammakkhaya, Ayukkhaya dan Ubhayakkhaya disebut sebagai “ meninggal pada waktunya ” ( kala marana ) sedangkan meninggal karena Upacchedaka kamma disebut “ meninggal bukan pada waktunya ” ( akal marana ). Untuk memperjelas keempat hal diatas tentang kematian, dimisalkan makhluk itu adalah lampu minyak, lampu akan padam karena empat hal yaitu jika minyak habis, sumbu habis, minyak dan sumbu sama sama habis atau karena ada angin kencang.

Uraian diatas tentang kematian secara umum, sedangkan kematian secara khusus dilihat pada proses kematian yang berlangsung pada batin seseorang. Uraian berikut ini akan membicarakan tentang proses kematian yang berhubungan erat dengan proses berpikir.

Proses kematian hanya berbeda sedikit dengan proses berpikir dalam keadaan biasa atau normal. Proses batin dan dalam hal ini yang dibicarakan adalah proses pikiran pada kematian adalah sebagai berikut :
Bhavanga Atita
Bhavanga Calana
Bhavanga Upaccheda
Manodvaravajjana – kesadaran mengarah pada pintu inderiya pikiran
Maranasanna Javana Citta – Impuls javana mendekati kematian
Tadalambana
Cuti Citta – kesadaran kematian
Patisandhi Vinnana – kesadaran kelahiran kembali yang terjadi pada kehidupan berikut.

1. Bhavanga Atita
Keadaan kesadaran ini tak berbeda dengan pada kesadaran proses berpikir biasa
2. Bhavanga Calana

3. Bhavanga Upaccheda
Ketentuan kedua bhavanga ini seperti diatas, tapi karena disini membicarakan proses kematian jadi yang ditentukan adalah proses pikiran orang yang akan segera meninggal. Pada tahap ini orang yang akan meninggal belum dapat mengenal rangsangan yang terjadi. Rangsangan yang dibicarakan sekarang adalah salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian.

4. Manodvaravajjana
Adalah kesadaran mengarah ke pintu inderiya pikiran. Pada waktu membicarakan proses berpikir normal dibicarakan tentang Pancadvaravajjana, yang terjadi jika rangsangan dapat dikenal atau diketahui oleh salah satu dari lima inderiya melalui salah satu pintu inderiya inderiya itu yaitu melihat, mendengar, membau, merasa, atau menyentuh. Tetapi dalam kasus tentang proses berpikir pada kematian rangsangan yang muncul bukan dari luar melainkan rangsangan dalam yang merupakan pikiran atau ingatan yang hanya dapat dikenal melalui pikiran.

5. Marana Javana Citta
Adalah impuls javana mendekati kematian yang merupakan tahap psikologis yang penting. Dalam membicarakan tentang proses berpikir normal ada 7 impuls javana tetapi pada orang yang akan meninggal hanya ada 5 impuls javana. Salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian muncul pada tahap javana ini. Pada saat salah satu objek ini muncul, getaran bhavanga terhenti. Kesadaran berproses melalui manodvaravajjana and tiba pada javana. Pada saat ini kesadaran pikiran atau pikiran dapat mengetahui dengan jelas rangsangan yang ada.
Tiga objek pikiran atau tanda kematian itu adalah :
Kamma
Ingatan pada suatu perbuatan yang baik atau buruk, hebat atau penting yang pernah dilakukan seseorang sebelum meninggal muncul padanya walaupun kematian itu terjadi secara tiba tiba. Bila ia telah melakukan salah satu dari karma berat buruk ( akusala garuka kamma ) atau telah melakukan karma berat baik ( Kusala garuka kamma ) misalnya mencapai jhana jhana maka ia akan mengingat atau mengalami kamma tersebut sebelum saat kematian. Karena karma berat ini sangat kuat sehingga karma karma lain tertekan dan karma berat itu akan jelas dalam ingatannya. Bila ia tak pernah melakukan garuka kamma, yang menjadi objek ingatannya adalah perbuatan yang ia lakukan menjelang kematiannnya ( asanna kamma ) yang disebut “ karma menjelang saat kematian “. Jika asanna kamma tidak dilakukan maka suatu perbuatan yang sering atau biasa dilakukan ( Acinna kamma atau Bahula kamma ) akan muncul dalam ingatannya seperti memberikan dana karena ia dermawan, memberi khotbah karena ia dharmaduta atau mencuri karena ia maling dan seterusnya. Jika garuka kamma, assana kamma dan accinna kamma tidak ada maka perbuatannya tertentu yan tak berarti dan hanya sekali dilakukan apakah itu perbuatan baik atau buruk yang dikenal sebagai katatta kamma yang akan teringat olehnya. Jika ingatannya itu tentang karma baik ia akan terlahir kembali di alam yang menyenangkan. Tapi bila ingatannya itu tentang karma buruk maka ia akan terlahir kembali dalam keadaan yang lebih buruk daripada keadaan sekarang atau terlahir kembali di alam menyedihkan.
Kamma Nimitta
Pada orang yang dalam proses akan meninggal, kadang kadang suatu ingatan muncul dengan sendiri yang bukan merupakan ingatan tentang suatu perbuatan baik atau buruk tetapi suatu simbol dari perbuatannya. Kamma adalah perbuatan sedangkan nimitta adalah bayangan. Demikianlah bagi seorang tukang jagal mungkin ia melihat pisau, pemabuk melihat botol, orang saleh malihat altar. Hal ini dilihat dengan mata batin dan bukan mata fisik.
Gati Nimitta
Objek pikiran dari orang yang akan meninggal dunia dapat pula berupa simbol dari atau harapan akan tempat dimana ia akan terlahir kembali. Misalnya munculnya bayangan api maka orang itu akan terlahir kembali di alam neraka sedangkan orang yang melihat bunga yang indah akan terlahir di alam surga.
6. Tadalambana
Setelah tahap kesadaran impuls dari maranasanna javana citta muncul tahap kesadaran tadalambana

7. Cuti Citta – Kesadaran kematian
Kesadaran ini adalah kesadaran terakhir yang ada pada kehidupan sekarang. Cuti adalah lenyap atau mati. Pada tahap ini proses kematian berakhir, keadaan cuti citta sama dengan bhavanga citta. Kesadaran ini merupakan kesadaran bhavanga yang terakhir dan kesadaran ini mengambil bhavanga citta pertama dari kelahiran berikut yaitu Patisandhivinnana. Cuti citta secara psikologis tidak terlalu penting karena cuti citta hanya merupakan kesadaran kematian. Akhir dari proses pikiran bukan cuti citta tetapi Maranasanna javana citta, pada saat cuti citta muncul maka kematian tiba.

8. Patisandhi Vinnana
Pada saat cuti citta muncul dan berakhir dengan kematian bukan berarti proses kesadaran terhenti karena kematian tetapi proses kesadaran masih bergetar terus dengan munculnya Patisandhi Vinanna atau Patisandhi citta pada kelahiran berikut pada kehidupan baru. Cuti citta dan Patisandhi citta adalah nama khusus yang diberikan pada bhavanga citta. Pemberian nama teknis ini digunakan untuk mempermudah kita mempelajari dan mengerti proses kematian dan proses kelahiran kembali. Karena dua citta tersebut adalah sama yaitu kesadaran bhavanga yang berproses dan sebab proses tersebut berlangsung dalam seri urutan sama serta berkesinambungan maka objek dari kedua kesadaran ( cuti citta dan patisandhi citta ) adalah sama.

 

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Kelahiran Kembali (1): Proses Berpikir

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 13, 2009

Ajaran kelahiran kembali merupakan salah satu aspek dari Buddhadarma dan bertalian sangat erat dengan hukum karma. Konsep kelahiran kembali dalam agama Buddha merupakan ajaran yang menyatakan tentang ada kehidupan yang berulang ulang kali dari makhluk. Dalam Brahmajala Sutta, Digha Nikaya Sang Buddha menyatakan bahwa manusia telah hidup puluhan ribu kali, hingga tak terhitung banyaknya kehidupan manusia itu pada planet bumi ini. Bahkan manusia yang sama itu pula telah hidup di planet planet bumi yang lain sebelum hidup di planet bumi ini. Jadi kehidupan kita sekarang ini hanya merupakan salah satu mata rantai kehidupan saja dari rantai kehidupan yang panjang. Namun rantai ini dapat diputuskan bila kita melaksanakan ajaran yang secara sistematis telah diuraikan oleh Sang Buddha. Pemutusan rantai kehidupan dengan tercapainya pembebasan ( Nibbana ) sebagai Buddha atau Arahat adalah tanggung jawab dan usaha pribadi kita masing masing.

Menurut Sang Buddha, kelahiran kembali bukan merupakan perpindahan kehidupan karena tidak ada sesuatu dari kehidupan ini yang berpindah kekehidupan berikutnya, tetapi kelahiran kembali adalah kelangsungan arus kehidupan dari kesadaran yang bergetar, karena adanya dorongan dari kekuatan karma. Kelahiran kembali merupakan bagian dari kehidupan dan kehidupan adalah suatu arus kesadaran ( vinnana ) yang berlangsung terus berdasarkan kekuatan karma. Jadi kematian manusia yang kita lihat dalam kehidupan kita sehari hari hanya merupakan perubahan wujud atau bentuk saja, karena sesungguhnya arus kehidupan dari orang yang dikatakan meninggal itu telah terlahir kembali di suatu alam tertentu atau di bumi kita ini sebagai dewa, manusia, setan atau makhluk dalam neraka yang ditentukan oleh karmanya sendiri.

Proses Berpikir

Menurut Abhidhamma, dalam keadaaan biasa pada satu saat berpikir terdapat 17 getaran kesadaran yang berlangsung dengan cepat. Adapun proses berpikir pada keadaan biasa tersebut adalah :
1. Bhavanga Atita ( kesadaran tak aktif lampau )
2. Bhavanga Calana ( bhavanga bergetar )
3. Bhavanga Upaccheda ( bhavanga berhenti bergetar )
4. Pancadvaravajjana ( lima gerbang tempat masuk objek )
5. Panca Vinnana ( lima kesadaran )
6.Sampaticchana ( kesadaran penerima )
7. Santirana ( kesadaran pemeriksa )
8. Votahapana ( kesadaran memutuskan )
9 – 15 Javana ( kesadaran impuls )
16 – 17 Tadalambana ( kesadaran merekam )

Tahap Pertama :
Bhavanga Citta adalah kesadaran yang pasif. Kesadaran pasif ini terdapat pada orang yang sedang tidur nyenyak tanpa mimpi atau ketika seseorang tidak memberikan reaksi apa apa terhadap rangsangan objek dari luar maupun dari dalam. Kesadaran ini dipandang sebagai tahap pertama untuk mempelajari proses berpikir walaupun proses berpikir itu belum mulai.

Tahap Kedua :
Bhavanga Calana adalah kesadaran yang bergetar, karena misalnya ada objek luar atau stimulasi oleh suara cahaya ( bentuk) atau rangsangan pada indriya yang diterima oleh orang yang tidur, pada tahap ini Bhavanga Atita lenyap atau dengan kata lain bhavanga citta mulai aktif. Keadaan ini merupakan tahap kedua. Calana artinya bergerak atau bergetar. Pada tahap ini bhavanga mulai bergetar, getaran ini hanya berlangsung satu saat saja sesudah itu berhenti. Hal ini merupakan akibat dari rangsangan atau objek yang berusaha untuk menyentuh atau menarik perhatian kesadaran pikiran dengan cara menganggu arus bhavanga.

Tahap Ketiga :
Bhavanga Upaccheda adalah tahap pada waktu getaran bhavanga calana terhenti. Upaccheda artinya dipotong atau diputuskan. Sebagai akibatnya, proses pikiran muncul dan mulai mengalir, namun stimulasi atau objek belum dapat dikenal oleh kesadaran.

Tahap Keempat :
Pancadvaravajjana atau kesadaran mengarah pada lima pintu indriya. Pada tahap ini kesadaran dari proses berpikir mulai mengarah untuk mengenal objek dan pada tahap ini pula kesadaran diarahkan untuk mengetahui pada indriya mana dari lima pintu indriya stimulus akan masuk. Pancadvara adalah “ lima pintu “ sedangkan avajjana artinya “ mengarah pada ”. Pada tahap ini orang yang tidur baru tersadar dan perhatiannya diarahkan pada sesuatu, tetapi tidak mengetahui apa – apa tentang hal itu.
Bila perhatiannya bangkit bukan disebabkan oleh rangsangan dari luar melalui salah satu panca inderanya tetapi oleh rangsangan dalam yaitu dari pikiran maka tahap ini disebut Manodvaravajjana atau “kesadaran mengarah pada pintu indriya pikiran “. Dalam hal ini tahap proses berpikir agak berbeda dengan proses yang kita bicarakan sebab tahap ke-5 sampai ke-8 tidak terjadi.

Tahap Kelima :
Uraian pada tahap ini dibicarakan bila proses berpikir didasarkan pada kesadaran yang mendapat rangsangan luar melalui panca inderanya. Pancavinnana, Panca adalah lima sedangkan vinnana adalah kesadaran. Bila rangsangan itu adalah bunyi maka sota – vinnana atau kesadaran mendengar yang bekerja. Bila rangsangan itu adalah sentuhan maka disebut kaya – vinnana atau kesadaran tubuh yang bekerja. Bila itu adalah bayanganatau objek pandangan maka cakkhu – vinnana yang bekerja. Dan seterusnya. Dalam hal ini pada setiap inderiya ada kesadaran inderiya dan kesadaran inderiya ini yang bekerja. Tapi pada tahap ini kesadaran belum mengerti betul tentang rangsangan apa yang muncul melalui pintu inderiya, hal itu hanya dirasakan( sensed ).

Tahap Keenam :
Sampaticchana adalah kesadaran penerima, Tahap ini muncul bila kesan inderiya disebabkan oleh rangsangan yang diterima dengan baik.

Tahap Ketujuh :
Setelah penerima berfungsi, maka muncul fungsi pemeriksa ( santirana ). Pada tahap ini santirana melaksanakan fungsi pemeriksa dengan cara menentukan rangsangan atau objek apa yang menyebabkan kesan inderiya dan apa yang diterima lalu diperiksa.

Tahap Kedelapan :
Votthapana adalah kesadaran memutuskan atau menentukan, pada tahap ini keputusan diambil berdasarkan rangsangan yang disebabkan oleh kesan inderiya, dan apa yang diperiksa lalu diputuskan atau ditentukan.

Tahap Kesembilan sampai Kelima belas :
Javana adalah impuls kesadaran. Pada saat ini kesadaran bergetar selama tujuh kali ( pada saat saat menjelang meninggal dunia, javana hanya bergetar lima kali ). Javana merupakan saat introspeksi yang diikuti oleh perbuatan. Javana berasal dari kata kerja “ javati ” yang artinya “ lari mendorong atau mendesak “. Javana merupakan impuls yang muncul sebagai klimaks dari proses kesadaran dalam proses berpikir. Karena pada tahap ini seseorang dapat menyadari dengan jelas tentang objek atau rangsangan dengan semua ciri cirinya.

Pada tahap ini kamma atau karma mulai berproses sebagai karma baik atau karma buruk. Karena kemauan bebas ada pada javana. Tahap tahap lain dari proses berpikir merupakan gerakan refleks dan harus muncul, sedangkan javana merupakan tahap dimana kesadaran bebas untuk menentukan atau memutuskan. Dalam javana ada hak untuk memilih dan mempunyai kekuatan untuk menentukan masa depan sesuai dengan kehendaknya ( karmanya ). Bial suatu hal salah dimengerti dan perbuatan telah dilaksanakan, maka hasilnya adalah tidak menyenangkan atau karma buruk. Javana adalah kata tknis yang sulit sekali diterjemahkan dengan tepat.

Tahap Keenam belas dan Ketujuh belas :
Tadalambana atau kesadaran mencatat atau merekam kesan. Tadalambana adalah dua saat yang merupakan akibat yang muncul segera setelah javana. Fungsi tadalambana adalah mencatat atau merekam kesan yang dibuat oleh javana. Tadalambana bukan bagian yang paling penting dari proses berpikir karena fungsinya hanya merekam kesan saja. Tadalambana berasal dari kata Tadarammana yang artinya adalah “objek itu”. Dimana Tadalambana karena kesadaran ini mempunyai objek yang sama dengan objek dari javana.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam uraian ini bahwa 17 tahap yang membentuk suatu proses berpikir hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek sekali. Perkembangan dari proses berpikir adalah berbeda beda bagi setiap objek, hal ini terjadi karena adanya intensitas rangsangan yang berbeda pula. Jika intensitas rangsangan besar sekali maka suatu proses berpikir yang sempurna terjadi, jika intensitas rangsangan besar maka tadalambana ( tahap 16 dan 17 ) tidak terjadi. Jika intensitas rangsangan kecil atau kecil sekali maka proses berlangsung tanpa ada kesadaran yang sempurna.

 

Sumber : Buku Intisari Agama Buddha

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »