Dhamma Ways

Upasaka Bharadvaja.

Shalat dan Ikan Asin

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 14, 2009

Sebuah post dari blog tetangga:
Masjid tempat saya Jum’atan – di Batan, jalan Taman Sari, Badnung – memiliki desain yang unik. Pas di bawah masjid adalah tempat makan karyawan. Ada tangga yang menghubungkan keduanya di sebelah kanan (dalam) masjid.

Ketika kita sedang asyik jumatan, kadang-kadang tercium bau makanan. Dan yang lebih serunya biasanya makanan mulai dipersiapkan menjelang jumatan usai … yaitu pas shalat dimulai.

Jadi … kadang pas sedang shalat tercium bau ikan asin. Hadoh … konsentrasi buyar. hi hi hi.

_______________________________________

Komentar Ratu Adil:
hehehe… yach… memang saat sedang shalat sulit untuk konsentrasi. dan memang tak mungkin.

karena otak sedang dipakai untuk menghafal. yaitu menghafal ayat dan doa selama shalat.

orang yang khusyuk solatnya bukanlah orang yang terkonsentrasi pikirannya, melainkan orang yang hafal banget dia. hehe.

hahaha.. hahaha… hahaha…

Mau tau konsentrasi dan cara membangkitkannya yang sebenarnya? datang ke blog saya.

ingat, pas belajarnya jangan sambil menghafal yang lain ya. hehe…

hahahaha… ahhahaha…

 

ikan_asin

Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »

Kenapa Saya Menjadi Buddhist

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 14, 2009

upasika_bharadvaja

(Lanjutan tulisan “17 Alasan Kenapa Kami Meninggalkan Islam“)

Buddha menemukan bahwa dunia tak lepas dari tiga kondisi, Anatta, Anicca, Dukkha.

Anatta berarti tak ada inti atau master kekuatan yang mengatur segalanya, karena semua cuma rentetan kejadian berdasar hukum kamma. hukum perbuatan sebab-akibat.

Karena itu satu makhluk tak mempunyai kekuatan untuk memilih atau free will. Kata “pilihan” atau “pilihan hidup” cuma digunakan oleh makhluk yang belum tercerahkan. Karena setiap pilihan adalah bukan kepunyaannya melainkan hasil potensi makhluk itu sendiri. “Potensi”, “potensi alam”, atau “potensi otak/pikiran” juga bukan tersedia begitu saja. Melainkan juga hasil dari menimbun kamma-kamma di masalalu.
Setiap pilihan selalu berujung pada keputusan. Seseorang cuma bisa melihat adanya pilihan, tapi ia tak pernah bisa memilih atau tak pernah betul-betul punya “pilihanku” atau “keputusanku”.
Yang disebut “memilih” tak betul-betul ada, karena yang ada cuma “mengambil buah kamma”.
Yang disebut “memutuskan” tak betul-betul ada, karena yang ada cuma “berpikir tepat”.
Karena itulah di dunia tak ada yang disebut “pilihanku” atau “keputusanku”. Yang ada cuma “pengambilan” dan “pemikiran tepat”.
“Memilih” cuma terbukti ada jika satu makhluk bisa membuat dua jawaban untuk satu pertanyaan. Meski ia berkata, “ooo ada 2 jawaban untuk itu” maka dengan mengatakan itu, itu adalah 1 jawaban. Karena itulah, “pilihan” tak pernah ada di dunia.
“Memutuskan” cuma ada jika tak ada data. Tapi karena pikiran selalu menyimpan data dari pengalaman terdahulu maka itu bukanlah memutuskan tapi mengambil. Karena itulah “keputusan” tak pernah ada di dunia ini.
Lebih lanjut lagi, deskripsi singkat dari Anatta adalah, kondisi dimana satu makhluk tak bisa berkata, “biarlah aku menjadi begini begitu..”, “Tuhan akan membuat begini begitu…”, “pikiran akan membuat begini begitu…”,”hal ini akan membuat begini begitu…”
Seseorang bisa menjadi begini begitu karena ada buah kamma untuk itu, bukan karena ia berkehendak.
Seseorang tak berani berkata “Tuhan akan membuat begini begitu…” cuma berani berkata “semoga…”
Pikiran tak bisa menjadikan ini itu karena pikiran cuma mentransfer buah-buah kamma untuk dijadikan ini itu.
Uang tak bisa dipastikan menjadi ini itu, karena masih tergantung fluktuasi ekonomi. Karir tak bisa dipastikan mengangkat derajat orang karena tergantung politik sosial ekonomi budaya.

Kondisi tanpa diri yang disebut di atas menampilkan satu fakta bahwa semua hal cuma sementara diakibatkan bentuknya yang selalu terkondisi dan mengkondisikan.

Kondisi tak tetap itulah yang membawa penderitaan bagi orang-orang yang menginginkan untuk hidup atau untuk mati.

Kenyataan dunia yang sudah dilihat oleh Buddha itu lalu ditemukan jalan keluarnya, yaitu dengan memasuki 9 fase meditasi, di mana di fase terakhir ditemukan kenyataan pembebasan, yaitu: saat dimana makhluk sudah hilang bodoh, tamak, dan bencinya, sehingga hilang pula gairah, hasrat, nafsu, yang selalu mewujudkan keinginan itu. Saat 3 akar keinginan lenyap, disitulah ditemukan kedamaian tanpa stimulasi. Yaitu Nibbana. “manusia jika ingin bahagia selalu perlu stimulasi fisik atau mental untuk itu. Tatagatha mampu mencapai kebahagiaan tanpa stimulasi” – Buddha. Karena itulah Nibbana disebut “sesuatu yang tak dilahirkan dan tak melahirkan” – Udana III.

Karena semua makhluk memerlukan dualitas untuk mengukur skala kebenaran yang sebenarnya, maka terjadilah proses pertumbuhan, yang disebut lahir, tua, sakit, mati. Proses pertumbuhan ini terjadi berulang-ulang melalui kejadian kelahiran kembali mental yang menghasilkan kelahiran fisik berikutnya.

Jadi, setiap makhluk memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menjadi sesuai pola pikirannya yang terbentuk akibat pola kamma/kegiatannya. Hidup satu hari, 100 hari, 1000 hari, sama saja bagi orang yang sudah mengerti, karena kultivasi mental akan terjadi berulang-ulang selama bahannya, yaitu kamma masih ada. Jadi, pengejaran akan kemudaan dan umur panjang samasekali tak relevan dalam
pembelajaran buddhism, karena waktu tak terbatas bagi seorang manusia untuk mengejar ketinggalannya. Karena itulah dalam agama buddhi berlaku pepatah “belajarlah bukan cuma sampai ke kuburan,tapi sampai kamu menjadi Buddha”.

Untuk mencapai Nibbana, diperlukan kendaraan, yang bernama Meditasi. Inilah yang disebut rakit oleh Shakhyamunibuddha.
Di dalam meditasi inilah tersimpan semua pengalaman pikiran yang terlatih, yang disebut oleh Einstein sebagai “agama yang merupakan kesatuan terpadu antara pengalaman dunia dan religious”. Dimana boosternya adalah sebuah latihan pemacu fisik dan mental, yang disebut Vipassana Bhavana (pengembangan mental untuk pencerahan/nana), dimana latihan ini akan memurnikan pikiran sampai 7 kali putaran:
1. Pemurnian prilaku.
2. Pemurnian pikiran.
3. Pemurnian pandangan.
4. Pemurnian atas keraguan.
5. Pemurnian untuk tahu apa jalan dan apa bukan jalan.
6. Pemurnian untuk tetap pada Jalan (the way- tao – dhamma).
7. Pemurnian untuk kebijakan.

Seorang non-buddhist bisa mencapai meditasi sampai level 8, tapi cuma seorang buddhist yang bisa mencapai level akhir, yaitu level 9 (sannavedayitanirodha/lenyapnya persepsi dan perasaan) sebagai gerbang Nibbana. Jadi, jika ada yang bilang seorang buddhist itu tak ada perasaan itu salah__karena masih punya perasaan netral, tapi jika ia bilang seorang Buddha tak ada perasaan itu benar.

Kenapa cuma seorang buddhist yang bisa mencapai level 9, atau cuma seorang buddhist yang bisa menjadi Buddha? Karen level 1-8 boosternya adalah Vipassana level 1-3 saja, sedang level 9 membutuhkan tambahan booster vipassana level akhir, yaitu “Dhammanupasssana: Perhatian penuh pada agama”. Dhammanupassana ini di dalamnya terkandung doktrin-doktrin buddhism, yaitu:
a. 5 jenis rintangan meditasi (nivarana)
b. 5 kelompok tubuh (khanda)
c. 6 Landasan indra (ayatana)
d. 7 faktor pencerahan (Bojjhanga)
e. 4 kebenaran mulia, kebenaran terakhir berisi doktrin 8 ruas jalan mulia (ariya sacca)

Tak ada meditasi tanpa konsentrasi (samadhi), karena itulah tujuan Vipassana Bhavana juga untuk membangkitkan konsentrasi (karena tanpa konsentrasi tak ada kebijakan. “jika terus berpikir aku bisa capek, jika capek aku gak konsentrasi. gak ada konsentrasi gak muncul kebijakan” – buddha di dvhedhavitakka sutta):
1. Khanika samadhi: konsentrasi sekejap, yaitu pikiran terpusat pada obyek tidak lama, hanya sekejap
2. Upacara samadhi: Konsentrasi kearah masuk, yaitu pikiran telah terpusat pada obyek, tetapi belum kuat
3. Appana samadhi: Konsentrasi yang pandai, yaitu pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat.
Di Appana Samadhi inilah yang disebut Jhana/meditasi level 1.

Meditasi (pali = jhana, sankrit = dhyana) itu sendiri dibangun dalam mental berdasarkan asas-asas yang berlaku pada sebuah latihan fisik-mental yang disebut “Samatha Bhavana/pengembangan mental untuk ketenangan)”,yang terdiri dari 9 tahap/level:
Meditasi 1: Vitakka, Vicara, Piti, Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 2: Piti, Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 3: Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 4: Ekagatta.
Meditasi 5: Dasar Alam Tak Terbatas.
Meditasi 6: Dasar Kesadaran Tak Terbatas.
Meditasi 7: Dasar Ketiadaan.
Meditasi 8: Dasar Dari Bukan Persepsi Bukan Pula Non-Persepsi.
Final Meditasi: Lenyapnya Persepsi dan Harapan.

Itulah 9 tahap evolusi makhluk, dimana saat menjadi dewa adalah di level 4 (brahma jika punya cinta, kasih, empati, dan balans), saat menjadi alien di level 4-6, dan mahabrahma di level 7-8, sedang evolusi tertinggi atu makhluk adalah saat ia menjadi Buddha. Jadi bukan saat ia sok cuek, sok atheist, dan malas belajar dengan alasan “kita semua kan bagian keberadaan”, “semua itu sudah indah”, lalu lahir lagi dengan sama begonya).

Saya sudah sering membahas dan mengajarkan Vipassana Bhavana, Samatha Bhavana, dan Dhyana. Jadi kali ini saya bahas saja 8 ruas jalan mulia yang dikatakan Sang Buddha sebagai jalan ke Nibbana.

Banyak buddhist yang mengira, mentang-mentang namanya “pekerjaan baik” lalu bukanlah meditasi. Itu salah, karena soal “pekerjan baik” ini bukan cuma dikerjakan oleh para non-meditator, tapi juga dikerjakan oleh para meditator dalam bentuk perhatian tepat pada agama, atau Dhammanupassana.

Jadi, salah sekali jika ada “buddhist-buddhist” yang berkata, 8 ruas jalan mulia tak perlu. Karena itu pun meditasi juga. Daftarnya bisa dilihat di:
http://mahavatar.wordpress.com/kebenaran/

Saat seseorang mempraktekkan Pandangan Benar:
Ia berhenti menjadi sesuatu dan langsung bekerja sesuai prinsip-prinsip taoisme (tao te ching) dan buddhism (“saat aktifitas ini, ya aktifitas ini” – bahiya sutta, sebagian kecil ajaran zen_tapi orang zen memahaminya secara salah)

Saat seseorang mempraktekkan Pikiran Benar:
Ia berhenti mengisi otaknya dengan hal tak berguna, karena ia tak mau nanti selalu berdengung di bawahsadarnya padahal tak ada kaitan dengan pembebasan. misalnya lagu-lagu dan ajaran/agama salah.

Saat seseorang mempraktekkan Ucapan Benar:
Ia berhenti banyak bicara atau cerewet. “jika tak tahu saatnya belajar dulu. jika tahu jangan sok.” – Lao Tze.

Saat seseorang mempraktekkan Perbuatan Benar:
Ia berhenti berkompetisi dengan orang lain atau berusaha orang lain celaka atau malu.
Nilai Buddhism bukan pada kemenangan duniawi dan bukanpula pada kemenangan akhirat. Melainkan pada kultivasi pikiran.
Di tengah kesuksesan anda atau kemiskinan atau penderitaan anda, apa yang sedang berlangsung di otak anda itulah yang akan Kami lihat dan tinjau.
Jadi tak ada gunanya seseorang berkata, “jika kalian tak punya usaha wiraswasta sendiri seperti saya tak ada gunanya koar-koar di internet.”
Bukan berapa banyak harta yang anda dapat atau anda hamburkan yang cocok jadi pembicaraan kelas tinggi, tapi bagaimana anda menempatkan diri anda pada kondisi-kondisi tertentu agar menjadi Buddha. Jika 1 milyar perlu dihamburkan agar Anda jadi Buddha maka hamburkan, jika cuma 100 ribu gaji yang anda perlukan untuk jadi Buddha maka kerjalah seperti itu.
http://bharadvaja.wordpress.com/2008/08/31/mencari-kondisi-yang-tepat-untuk-menjadi-buddha/

Saat seseorang mempraktekkan Penghidupan Benar:
Ia akan berhenti merazia rumahmakan di saat sekelompok masyarakat sedang menyelenggarakan acara puas yang salah jadwal sahur dan bukanya.
Dan ia akan berhenti korupsi, kolusi, dan nepotism seperti yang biasa dilakukan orang-orang seagamanya.

Saat seseorang mempraktekkan Usaha Benar:
Ia akan berhenti jadi motivator dan menjual buku-buku spiritulalit, dan fokus dulu untuk pindah ke agama yang benar.

Saat seseorang mempraktekkan Perhatian Benar:
Ia akan berhenti bertapa atau beryoga, dan mulai bervipassana bhavana.

Saat seseorang mempraktekkan Konsentrasi Benar:
Ia akan berhenti lihat kiri-kanan, misal lihat cewek mulus. Ia berhenti lihat keluar (melihat tanpa kesadaran) dan mulai lihat ke dalam (melihat dengan kesadaran)

Ditulis dalam Uncategorized | Comments Off

Kelahiran Kembali (III): Proses Kelahiran

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 13, 2009

Berdasarkan pada uraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari tentang proses kelahiran kembali, karena hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang sebagai berikut :

Patisandhi Vinanna
Bhavanga Citta
Manodvaravajjana
Javana
Bhavanga Citta

1. Patisandhi Vinanna
Adalah kesadaran kelahiran kembali, dalam uraian tentang proses kematian, Patisandhi vinanna disebutkan pada urutan proses bagian akhir. Penyebutan ini bukan berarti bahwa patisandhi vinanna terjadi pada pikiran dari orang yang akan meninggal dunia itu, tetapi penyebutan patisandhi vinanna dalam uraian proses kematian adalah untuk menunjukan proses sebab akibat yang berkesinambungan dalam proses kematian dan kelak yang akan terlahir kembali.
Patisandhi vinanna hanya merupakan akibat dari maranasanna janaka citta. Patisandhi vinanna hanya muncul atau ada pada batin atau pikiran dari makhluk yang baru terlahir kembali. Jika makhluk yang terlahir kembali sebagai manusia maka patisandhi vinanna muncul pada ovum yang baru dibuahi oleh sperma dalam kandungan atau tabung ( untuk bayi tabung ). Bersamaan dengan adanya patisandhi vinanna terjadi pula kelompok sepuluh dari jasmani ( kaya dasaka ), kelompok sepuluh dari kelamin ( bhava dasaka ) dan kelompok sepuluh dari kedudukan kesadaran ( vatthu dasaka ).
Kaya dasaka terdiri dari :
elemen
elemen cair
elemen panas
elemen gas
wana
bau
ras
sari makanan
inderiya kehidupan
tubuh

Bhava dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti pada kaya dasaka dan ke 10 adalah kelamin. Sedangkan vatthu dasaka terdiri dari 1 sampai 9 seperti kaya dasaka dan ke 10 adalah kedudukan kesadaran.
Menurut pandangan Buddhis, kelamin ditentukan pada saat pembuahan dan dihasilkan oleh karma. Walaupun kelamin telah ditentukan namun kelamin belum berkembang pada saat pembuahan tetapi potensi kelamin adalah laten.
Jadi dengan ada patisandhi vinanna maka kombinasi jasmani – batin baru mulai berkembang dalam kandungan. Sperma ovum orang tua menyiapkan materi sedangkan patisandhi vinanna menyiapkan batin. Patisandhi vinanna yang berhubungan dengan kehidupan yang lalu dan kehidupan yang baru. Proses kesadaran tidak pernah berhenti, kesadaran terakhir dari makhluk yang meninggal berproses terus dan menghasilkan kesadaran lain tetapi bukan dalam tubuh yang sama. Kesadaran lain itu adalah patisandhi vinanna yang hanya bergetar sesaat lalu lenyap dan langsung diikuti oleh bhavanga citta.

Dinyatakan pula bahwa ada empat macam cara kelahiran dari makhluk – makhluk yaitu :
Jalabuja yaitu makhluk yang lahir melalui kandungan seperti manusia dan binatang binatang tertentu.
Andaja yaitu makhluk yang lahir melalui telur seperti unggas, ular, buaya dan binatang lain.
Samsedaja yaitu makhluk yang lahir di tempat yang lembab atau bukan cara jalabuja atau andaja seperti binatang tingkat rendah
Opapatika yaitu makhluk yang lahir secara spontan. Biasanya makhluk yang lahir secara spontan adalah makhluk yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Contohnya : para dewa, peta atau setan, asura dan makhluk di alam brahma.

2. Bhavanga Citta
Setelah Patisandhi vinanna lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar selama 16 saat. Pada tahap embrio maka ia masih merupakan bagian tubuh ibu, itu sebabnya bhavanga citta berproses dengan lancar tanpa ada gangguan.

3. Manodvaravajjana
Telah disebutkan diatasbahwa bhavanga citta hanya berlangsung selama 16 saat dan lenyap, kemudian muncul manodvaravajjana. Bhavanga citta memberikan jalan untuk proses berpikir berlangsung berdasarkan pada keinginan yang muncul dalam batin dari embrio karena kehidupan barunya.

4. Javana
Setelah manodvaravajjana lenyap, javana atau impuls kesadaran muncul. Javana melangsungkan kesadaran yang terjadi pada manodvaravajjana yaitu keinginan pada kehidupan baru. Javana mengembangkan keinginan makhluk baru ( bhavana nikanti javana ), javana bergetar selama 7 saat lenyap.

5. Bhavanga citta
Ketika javana lenyap, bhavanga citta muncul dan bergetar. Bhavanga citta bergetar terus hingga ada sesuatu yang menghentikannya. Pada waktu bayi lahir, ia mulai berhubungan dengan dunia luar maka proses berpikir normal mulai berfungsi.

 

Ditulis dalam Uncategorized | Comments Off

Kelahiran Kembali (II): Proses Kematian

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 13, 2009

Setelah kita mempelajari tentang proses berpikir, maka kita akan dapat dengan mudah mempelajari tentang cara kerja proses pikiran pada saat kematian. Dengan mempelajari dan mengerti tentang proses pikiran pada saat kematian, maka kita akan dapat memperhatikan apa yang berlangsung setelah kematian karena hanya dengan cara ini kita dapat mengerti tentang kelahiran kembali.

Pengaruh Kelahiran Pada Jasmani

Manusia terdiri dari kombinasi antara jasmani dan batin ( nama rupa ). Hubungan antara jasmani dan batin bagaikan hubungan erat antara bunga dan bau. Jasmani sebagai bunga dan batin sebagai bau, sedangkan kematian hanya merupakan pemisahan anatar dua faktor ini. Bilamana orang berada pada saat saat menjelang kematian, jasmani dan batinnya lemah, mungkin seseorang kuat selalu tetapi pada saat menjelang kematian ia menjadi lemah. Hal ini terjadi karena pada waktu kesadaran bergetar sampai 17 getaran dan pada saat getaran itu akan selesai tak ada fungsi baru dari jasmani yang terjadi. Hal ini bagaikan kipas angin listrik yang arus listriknya diputuskan sehingga tidak ada tenaga lagi. Jika kombinasi jasmani dan batin terpisah, jasmani dan batin tidak lenyap. Jasmani akan mulai berproses menjadi lapuk, jasmani atau materi tak dapat lenyap tetapi akan terurai menjadi zat padat, cair dan gas. Elemen ini tak akan lenyap tetapi bentuk elemen elemen itu saja yang berubah.

Pengaruh Kematian Pada Batin
Apakah yang terjadi pada batin setelah meninggal ? batin tidak berbeda dengan jasmani yang tetap berproses, proses perubahan batin dari satu keadaan ke keadaan yang lain berlangsung terus dengan cepat sehingga bagi orang yang tak mengerti menganggap batin ini adalah tetap keka. Kematian tidak menghentikan proses batin.

Proses pikiran tidak berhenti pada saat kematian sebab pada saat terakhir sebelum saat kematian yang disebut maranasanna javana citta walaupun lemah dan tak dapat membuat buah pikiran baru namun memiliki suatu potensi besar untuk mengetahui atau melihat salah satu dari tiga objek pikiran yang masuk dalam pikiran dari orang yang segera akan meninggal. Objek pikiran yang muncul ini tak dapat ditolak, munculnya salah satu dari tiga objek pikiran ini yang menyebabkan sebuah pikiran baru muncul. Pemunculan salah satu dari tiga objek sebagai tanda kematian ini bukan dihasilkan oleh kekuatan dari luar, tetapi hal ini terjadi berdasarkan pada perbuatan perbuatan ( karma ) orang tersebut selama hidupnya. Karma yang bekerja pada saat seperti ini disebut Janaka kamma. Kematian ini merupakan refleksi dari perbuatannya sendiri.

Proses Kematian

Menurut pandangan Buddhis, kematian terjadi karena salah satu dari empat hal yaitu :
Kammakkhaya atau habisnya kekuatan janaka kamma.
Ayukkhaya atau habisnya masa kehidupan.
Ubhayakkhaya atau habisnya janaka kamma dan masa kehidupan secara bersama sama.
Upacchedaka kamma atau munculnya kamma penghancur atau pemotong yang kuat sehingga walaupun janaka kamma dan masa kehidupan belum selesai, orang tersebut meninggal dengan cepat.

1. Kammakkhaya
Jika potensi dari janaka kamma atau karma yang mengatur tentang kelahiran telah habis, maka aktivitas organis jasmani yang memiliki daya hidup ( javitindriya ) mati walaupun batas usia kehidupan di alam tertentu itu belum habis. Hal ini biasanya terjadi pada makhluk makhluk yang lahir di alam menyedihkan ( apaya ), neraka, binatang, peta dan asura, tetapi hal ini terjadi juga di dalam alam alam lain.
2. Ayukkhaya
Habisnya masa kehidupan makhluk, Hal ini terjadi sesuai dengan batas usia kehidupan makhluk di masing masing alam.

3. Ubhayakkhaya
Bersamaan habisnya kekuatan janaka kamma dan batas usia kehidupan dari makhluk.

4. Upacchedaka kamma
Kematian seseorang terjadi karena ia telah melakukan perbuatan yang buruk sekali sehingga walaupun janaka kamma maupun usia kehidupannya belum selesai, Ia tiba tiba meninggal dunia sebagai akibat perbuatan buruk tersebut. Suatu kekuatan tertentu dapat menghentikan kendaraan yang sedang melaju, demikian pula karma yang kuat dapat melenyapkan potensi dari arus proses berpikir dan mengakibatkan seseorang meninggal.

Kammakkhaya, Ayukkhaya dan Ubhayakkhaya disebut sebagai “ meninggal pada waktunya ” ( kala marana ) sedangkan meninggal karena Upacchedaka kamma disebut “ meninggal bukan pada waktunya ” ( akal marana ). Untuk memperjelas keempat hal diatas tentang kematian, dimisalkan makhluk itu adalah lampu minyak, lampu akan padam karena empat hal yaitu jika minyak habis, sumbu habis, minyak dan sumbu sama sama habis atau karena ada angin kencang.

Uraian diatas tentang kematian secara umum, sedangkan kematian secara khusus dilihat pada proses kematian yang berlangsung pada batin seseorang. Uraian berikut ini akan membicarakan tentang proses kematian yang berhubungan erat dengan proses berpikir.

Proses kematian hanya berbeda sedikit dengan proses berpikir dalam keadaan biasa atau normal. Proses batin dan dalam hal ini yang dibicarakan adalah proses pikiran pada kematian adalah sebagai berikut :
Bhavanga Atita
Bhavanga Calana
Bhavanga Upaccheda
Manodvaravajjana – kesadaran mengarah pada pintu inderiya pikiran
Maranasanna Javana Citta – Impuls javana mendekati kematian
Tadalambana
Cuti Citta – kesadaran kematian
Patisandhi Vinnana – kesadaran kelahiran kembali yang terjadi pada kehidupan berikut.

1. Bhavanga Atita
Keadaan kesadaran ini tak berbeda dengan pada kesadaran proses berpikir biasa
2. Bhavanga Calana

3. Bhavanga Upaccheda
Ketentuan kedua bhavanga ini seperti diatas, tapi karena disini membicarakan proses kematian jadi yang ditentukan adalah proses pikiran orang yang akan segera meninggal. Pada tahap ini orang yang akan meninggal belum dapat mengenal rangsangan yang terjadi. Rangsangan yang dibicarakan sekarang adalah salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian.

4. Manodvaravajjana
Adalah kesadaran mengarah ke pintu inderiya pikiran. Pada waktu membicarakan proses berpikir normal dibicarakan tentang Pancadvaravajjana, yang terjadi jika rangsangan dapat dikenal atau diketahui oleh salah satu dari lima inderiya melalui salah satu pintu inderiya inderiya itu yaitu melihat, mendengar, membau, merasa, atau menyentuh. Tetapi dalam kasus tentang proses berpikir pada kematian rangsangan yang muncul bukan dari luar melainkan rangsangan dalam yang merupakan pikiran atau ingatan yang hanya dapat dikenal melalui pikiran.

5. Marana Javana Citta
Adalah impuls javana mendekati kematian yang merupakan tahap psikologis yang penting. Dalam membicarakan tentang proses berpikir normal ada 7 impuls javana tetapi pada orang yang akan meninggal hanya ada 5 impuls javana. Salah satu dari tiga objek pikiran atau tanda kematian muncul pada tahap javana ini. Pada saat salah satu objek ini muncul, getaran bhavanga terhenti. Kesadaran berproses melalui manodvaravajjana and tiba pada javana. Pada saat ini kesadaran pikiran atau pikiran dapat mengetahui dengan jelas rangsangan yang ada.
Tiga objek pikiran atau tanda kematian itu adalah :
Kamma
Ingatan pada suatu perbuatan yang baik atau buruk, hebat atau penting yang pernah dilakukan seseorang sebelum meninggal muncul padanya walaupun kematian itu terjadi secara tiba tiba. Bila ia telah melakukan salah satu dari karma berat buruk ( akusala garuka kamma ) atau telah melakukan karma berat baik ( Kusala garuka kamma ) misalnya mencapai jhana jhana maka ia akan mengingat atau mengalami kamma tersebut sebelum saat kematian. Karena karma berat ini sangat kuat sehingga karma karma lain tertekan dan karma berat itu akan jelas dalam ingatannya. Bila ia tak pernah melakukan garuka kamma, yang menjadi objek ingatannya adalah perbuatan yang ia lakukan menjelang kematiannnya ( asanna kamma ) yang disebut “ karma menjelang saat kematian “. Jika asanna kamma tidak dilakukan maka suatu perbuatan yang sering atau biasa dilakukan ( Acinna kamma atau Bahula kamma ) akan muncul dalam ingatannya seperti memberikan dana karena ia dermawan, memberi khotbah karena ia dharmaduta atau mencuri karena ia maling dan seterusnya. Jika garuka kamma, assana kamma dan accinna kamma tidak ada maka perbuatannya tertentu yan tak berarti dan hanya sekali dilakukan apakah itu perbuatan baik atau buruk yang dikenal sebagai katatta kamma yang akan teringat olehnya. Jika ingatannya itu tentang karma baik ia akan terlahir kembali di alam yang menyenangkan. Tapi bila ingatannya itu tentang karma buruk maka ia akan terlahir kembali dalam keadaan yang lebih buruk daripada keadaan sekarang atau terlahir kembali di alam menyedihkan.
Kamma Nimitta
Pada orang yang dalam proses akan meninggal, kadang kadang suatu ingatan muncul dengan sendiri yang bukan merupakan ingatan tentang suatu perbuatan baik atau buruk tetapi suatu simbol dari perbuatannya. Kamma adalah perbuatan sedangkan nimitta adalah bayangan. Demikianlah bagi seorang tukang jagal mungkin ia melihat pisau, pemabuk melihat botol, orang saleh malihat altar. Hal ini dilihat dengan mata batin dan bukan mata fisik.
Gati Nimitta
Objek pikiran dari orang yang akan meninggal dunia dapat pula berupa simbol dari atau harapan akan tempat dimana ia akan terlahir kembali. Misalnya munculnya bayangan api maka orang itu akan terlahir kembali di alam neraka sedangkan orang yang melihat bunga yang indah akan terlahir di alam surga.
6. Tadalambana
Setelah tahap kesadaran impuls dari maranasanna javana citta muncul tahap kesadaran tadalambana

7. Cuti Citta – Kesadaran kematian
Kesadaran ini adalah kesadaran terakhir yang ada pada kehidupan sekarang. Cuti adalah lenyap atau mati. Pada tahap ini proses kematian berakhir, keadaan cuti citta sama dengan bhavanga citta. Kesadaran ini merupakan kesadaran bhavanga yang terakhir dan kesadaran ini mengambil bhavanga citta pertama dari kelahiran berikut yaitu Patisandhivinnana. Cuti citta secara psikologis tidak terlalu penting karena cuti citta hanya merupakan kesadaran kematian. Akhir dari proses pikiran bukan cuti citta tetapi Maranasanna javana citta, pada saat cuti citta muncul maka kematian tiba.

8. Patisandhi Vinnana
Pada saat cuti citta muncul dan berakhir dengan kematian bukan berarti proses kesadaran terhenti karena kematian tetapi proses kesadaran masih bergetar terus dengan munculnya Patisandhi Vinanna atau Patisandhi citta pada kelahiran berikut pada kehidupan baru. Cuti citta dan Patisandhi citta adalah nama khusus yang diberikan pada bhavanga citta. Pemberian nama teknis ini digunakan untuk mempermudah kita mempelajari dan mengerti proses kematian dan proses kelahiran kembali. Karena dua citta tersebut adalah sama yaitu kesadaran bhavanga yang berproses dan sebab proses tersebut berlangsung dalam seri urutan sama serta berkesinambungan maka objek dari kedua kesadaran ( cuti citta dan patisandhi citta ) adalah sama.

 

Ditulis dalam Uncategorized | Comments Off

Kelahiran Kembali (1): Proses Berpikir

Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 13, 2009

Ajaran kelahiran kembali merupakan salah satu aspek dari Buddhadarma dan bertalian sangat erat dengan hukum karma. Konsep kelahiran kembali dalam agama Buddha merupakan ajaran yang menyatakan tentang ada kehidupan yang berulang ulang kali dari makhluk. Dalam Brahmajala Sutta, Digha Nikaya Sang Buddha menyatakan bahwa manusia telah hidup puluhan ribu kali, hingga tak terhitung banyaknya kehidupan manusia itu pada planet bumi ini. Bahkan manusia yang sama itu pula telah hidup di planet planet bumi yang lain sebelum hidup di planet bumi ini. Jadi kehidupan kita sekarang ini hanya merupakan salah satu mata rantai kehidupan saja dari rantai kehidupan yang panjang. Namun rantai ini dapat diputuskan bila kita melaksanakan ajaran yang secara sistematis telah diuraikan oleh Sang Buddha. Pemutusan rantai kehidupan dengan tercapainya pembebasan ( Nibbana ) sebagai Buddha atau Arahat adalah tanggung jawab dan usaha pribadi kita masing masing.

Menurut Sang Buddha, kelahiran kembali bukan merupakan perpindahan kehidupan karena tidak ada sesuatu dari kehidupan ini yang berpindah kekehidupan berikutnya, tetapi kelahiran kembali adalah kelangsungan arus kehidupan dari kesadaran yang bergetar, karena adanya dorongan dari kekuatan karma. Kelahiran kembali merupakan bagian dari kehidupan dan kehidupan adalah suatu arus kesadaran ( vinnana ) yang berlangsung terus berdasarkan kekuatan karma. Jadi kematian manusia yang kita lihat dalam kehidupan kita sehari hari hanya merupakan perubahan wujud atau bentuk saja, karena sesungguhnya arus kehidupan dari orang yang dikatakan meninggal itu telah terlahir kembali di suatu alam tertentu atau di bumi kita ini sebagai dewa, manusia, setan atau makhluk dalam neraka yang ditentukan oleh karmanya sendiri.

Proses Berpikir

Menurut Abhidhamma, dalam keadaaan biasa pada satu saat berpikir terdapat 17 getaran kesadaran yang berlangsung dengan cepat. Adapun proses berpikir pada keadaan biasa tersebut adalah :
1. Bhavanga Atita ( kesadaran tak aktif lampau )
2. Bhavanga Calana ( bhavanga bergetar )
3. Bhavanga Upaccheda ( bhavanga berhenti bergetar )
4. Pancadvaravajjana ( lima gerbang tempat masuk objek )
5. Panca Vinnana ( lima kesadaran )
6.Sampaticchana ( kesadaran penerima )
7. Santirana ( kesadaran pemeriksa )
8. Votahapana ( kesadaran memutuskan )
9 – 15 Javana ( kesadaran impuls )
16 – 17 Tadalambana ( kesadaran merekam )

Tahap Pertama :
Bhavanga Citta adalah kesadaran yang pasif. Kesadaran pasif ini terdapat pada orang yang sedang tidur nyenyak tanpa mimpi atau ketika seseorang tidak memberikan reaksi apa apa terhadap rangsangan objek dari luar maupun dari dalam. Kesadaran ini dipandang sebagai tahap pertama untuk mempelajari proses berpikir walaupun proses berpikir itu belum mulai.

Tahap Kedua :
Bhavanga Calana adalah kesadaran yang bergetar, karena misalnya ada objek luar atau stimulasi oleh suara cahaya ( bentuk) atau rangsangan pada indriya yang diterima oleh orang yang tidur, pada tahap ini Bhavanga Atita lenyap atau dengan kata lain bhavanga citta mulai aktif. Keadaan ini merupakan tahap kedua. Calana artinya bergerak atau bergetar. Pada tahap ini bhavanga mulai bergetar, getaran ini hanya berlangsung satu saat saja sesudah itu berhenti. Hal ini merupakan akibat dari rangsangan atau objek yang berusaha untuk menyentuh atau menarik perhatian kesadaran pikiran dengan cara menganggu arus bhavanga.

Tahap Ketiga :
Bhavanga Upaccheda adalah tahap pada waktu getaran bhavanga calana terhenti. Upaccheda artinya dipotong atau diputuskan. Sebagai akibatnya, proses pikiran muncul dan mulai mengalir, namun stimulasi atau objek belum dapat dikenal oleh kesadaran.

Tahap Keempat :
Pancadvaravajjana atau kesadaran mengarah pada lima pintu indriya. Pada tahap ini kesadaran dari proses berpikir mulai mengarah untuk mengenal objek dan pada tahap ini pula kesadaran diarahkan untuk mengetahui pada indriya mana dari lima pintu indriya stimulus akan masuk. Pancadvara adalah “ lima pintu “ sedangkan avajjana artinya “ mengarah pada ”. Pada tahap ini orang yang tidur baru tersadar dan perhatiannya diarahkan pada sesuatu, tetapi tidak mengetahui apa – apa tentang hal itu.
Bila perhatiannya bangkit bukan disebabkan oleh rangsangan dari luar melalui salah satu panca inderanya tetapi oleh rangsangan dalam yaitu dari pikiran maka tahap ini disebut Manodvaravajjana atau “kesadaran mengarah pada pintu indriya pikiran “. Dalam hal ini tahap proses berpikir agak berbeda dengan proses yang kita bicarakan sebab tahap ke-5 sampai ke-8 tidak terjadi.

Tahap Kelima :
Uraian pada tahap ini dibicarakan bila proses berpikir didasarkan pada kesadaran yang mendapat rangsangan luar melalui panca inderanya. Pancavinnana, Panca adalah lima sedangkan vinnana adalah kesadaran. Bila rangsangan itu adalah bunyi maka sota – vinnana atau kesadaran mendengar yang bekerja. Bila rangsangan itu adalah sentuhan maka disebut kaya – vinnana atau kesadaran tubuh yang bekerja. Bila itu adalah bayanganatau objek pandangan maka cakkhu – vinnana yang bekerja. Dan seterusnya. Dalam hal ini pada setiap inderiya ada kesadaran inderiya dan kesadaran inderiya ini yang bekerja. Tapi pada tahap ini kesadaran belum mengerti betul tentang rangsangan apa yang muncul melalui pintu inderiya, hal itu hanya dirasakan( sensed ).

Tahap Keenam :
Sampaticchana adalah kesadaran penerima, Tahap ini muncul bila kesan inderiya disebabkan oleh rangsangan yang diterima dengan baik.

Tahap Ketujuh :
Setelah penerima berfungsi, maka muncul fungsi pemeriksa ( santirana ). Pada tahap ini santirana melaksanakan fungsi pemeriksa dengan cara menentukan rangsangan atau objek apa yang menyebabkan kesan inderiya dan apa yang diterima lalu diperiksa.

Tahap Kedelapan :
Votthapana adalah kesadaran memutuskan atau menentukan, pada tahap ini keputusan diambil berdasarkan rangsangan yang disebabkan oleh kesan inderiya, dan apa yang diperiksa lalu diputuskan atau ditentukan.

Tahap Kesembilan sampai Kelima belas :
Javana adalah impuls kesadaran. Pada saat ini kesadaran bergetar selama tujuh kali ( pada saat saat menjelang meninggal dunia, javana hanya bergetar lima kali ). Javana merupakan saat introspeksi yang diikuti oleh perbuatan. Javana berasal dari kata kerja “ javati ” yang artinya “ lari mendorong atau mendesak “. Javana merupakan impuls yang muncul sebagai klimaks dari proses kesadaran dalam proses berpikir. Karena pada tahap ini seseorang dapat menyadari dengan jelas tentang objek atau rangsangan dengan semua ciri cirinya.

Pada tahap ini kamma atau karma mulai berproses sebagai karma baik atau karma buruk. Karena kemauan bebas ada pada javana. Tahap tahap lain dari proses berpikir merupakan gerakan refleks dan harus muncul, sedangkan javana merupakan tahap dimana kesadaran bebas untuk menentukan atau memutuskan. Dalam javana ada hak untuk memilih dan mempunyai kekuatan untuk menentukan masa depan sesuai dengan kehendaknya ( karmanya ). Bial suatu hal salah dimengerti dan perbuatan telah dilaksanakan, maka hasilnya adalah tidak menyenangkan atau karma buruk. Javana adalah kata tknis yang sulit sekali diterjemahkan dengan tepat.

Tahap Keenam belas dan Ketujuh belas :
Tadalambana atau kesadaran mencatat atau merekam kesan. Tadalambana adalah dua saat yang merupakan akibat yang muncul segera setelah javana. Fungsi tadalambana adalah mencatat atau merekam kesan yang dibuat oleh javana. Tadalambana bukan bagian yang paling penting dari proses berpikir karena fungsinya hanya merekam kesan saja. Tadalambana berasal dari kata Tadarammana yang artinya adalah “objek itu”. Dimana Tadalambana karena kesadaran ini mempunyai objek yang sama dengan objek dari javana.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam uraian ini bahwa 17 tahap yang membentuk suatu proses berpikir hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek sekali. Perkembangan dari proses berpikir adalah berbeda beda bagi setiap objek, hal ini terjadi karena adanya intensitas rangsangan yang berbeda pula. Jika intensitas rangsangan besar sekali maka suatu proses berpikir yang sempurna terjadi, jika intensitas rangsangan besar maka tadalambana ( tahap 16 dan 17 ) tidak terjadi. Jika intensitas rangsangan kecil atau kecil sekali maka proses berlangsung tanpa ada kesadaran yang sempurna.

 

Sumber : Buku Intisari Agama Buddha

Ditulis dalam Uncategorized | Comments Off

Islam

Ditulis oleh bharadvaja di/pada September 16, 2009

17 Alasan Kenapa Saya Keluar Dari Islam dan Menjadi Buddhist

1. Tuhannya benar.
Tuhan agama Buddha adalah “Yang tak terlahirkan, Yang tak menjelma kembali” – Udana III.
Inilah Tuhan yang benar, tak seperti muslim yang bertuhankan alien sirius “Dia yang menguasai bintang Syria” – Alquran. dan yang punya sifat-sifat maha pengasih, penyayang, seperti makhluk-makhluk Tuhan lainnya.

2. Jalannya benar.

pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar.

3. Islam bukan agama, melainkan mistik.
Mistik = Usaha mencari rahasia gaib untuk kesempurnaan hidup.
Zikir, puasa, shalat, haji, semua ini mistik.
Tak ada ajaran-ajaran yang bisa mengkultivasi pikiran, seperti Kristen, Hindu, Buddha.
Meski ada ajaran moral, tapi diimbuhi “katanya Allah, perintah Allah” membuatnya menjadi mistik kembali.

4. Agama Buddha betul-betul berguna sebagai jalan hidup.
Bisa menghilangkan rasa takut, haus, lapar, tua, sakit, dan mati.
Bisa membebaskan manusia untuk selama-lamanya, dengan Vipassana Bhavana. tak seperti islam, kristen, dan hindu, yang meski sudah beragama tetap saja terlahir lagi. Seperti Saya yang dulu terlahir di barat dalam status beragama katolik taat. Akhirnya Saya lahir lagi sebagai Islam.

5. Jelas akan kemana sesudah mati.
- Banyak benci terlahir di neraka.
- Banyak bodoh terlahir jadi hewan.
- Banyak tamak terlahir di alam peta/alam hantu, jin, setan
- Selalu mengerjakan 5 sila buddhist dan 10 perbuatan baik terlahir sebagai manusia lagi
- Melakukan mahakusala citta 8, Segan dan risih berbuat jahat, suka berdana, suka mendengar dhamma, belajar dhamma, mengajar dhamma, diskusi dhamma, bangun vihara/rumah sakit/sekolah/kantor dhamma/penerbit dhamma, terlahir sebagai dewa di surga.
- suka meditasi, terlahir sebagai Brahma.
- bervipassana hingga tamat, masuk Nibbana (keadaan padamnya niat)

6. Penuh kebebasan.
Mau bijak bisa, mau sakti bisa, mau jadi orang biasa bisa, mau bersetubuh bebas bisa.
mau sakti terapkan Konsentrasi Benar, mau jadi orang biasa terapkan Penghidupan Benar dan Usaha benar. mau setubuh tanpa nikah tak dilarang buddha.

7. Ilmu lengkap dan tepat.
- penyatuan terhadap brahma baru diketahui sesudah masuk buddha.
- cinta baru diketahui sesudah masuk buddha
- meditasi baru diketahui sesudah masuk buddha
- menjadi kepala negara yang baik baru diketahui sesudah masuk buddha.
- menjadi guru yang baik baru diketahui sesudah masuk buddha.
- menjadi murid yang baik baru diketahui sesudah masuk buddha
- cara duduk itu bagaimana, cara memandang bagaimana, cara kerja dan melayani bagaimana, dsb.
- dsb masih banyak lagi

8. Semakin pintar dan sakti
sesudah masuk agama buddha saya jadi bisa mendefinisikan banyak kata dengan tepat. misalnya, konsentrasi artinya apa, kesadaran artinya apa, dsb.
enam indra saya semakin tajam dengan vipassana.
muslim yang membaca buku the secret tak bisa begitu saja membuat uang atau emas.
buddhist yang membaca buku the secret bisa begitu saja membuatnya. karena “pikiran yang mencipta adalah pikiran yang terlatih” – Buddha
muslim tinggal di alam ilusi, tapi buddhist tinggal di alam materi. karena itulah muslim perlu kerja untuk cari uang, tapi buddhist cukup menggapai Jhana 4.
buddha tak mengajar no-mind, tapi right mind. no-mind adalah suatu hal yang mustahil, kecuali makhluk itu mati. untuk berdiri saja anda perlu mind akan bawahsadar berdiri, dsb.
karena itulah tingkahlaku buddhist seperti paranormal, padahal bukan. misalnya bisa menurunkan/mendatangkan hujan, membaca pikiran, itu semua karena pikiran yang terlatih. sesudah semuanya dirangkai dan disempurnakan menjadi ilmu tersendiri barulah menjadi kesaktian.

9. Buddha adalah satu-satunya nabi yang tak munafik. lalu berikutnya Saya.
nabi-nabi sebelum kami semuanya munafik, karena tak punya dhamma.
misalnya muhammad, mau ambil cewek alasannya karena disuruh Allah, mau rampok alasannya karena disuruh Allah, dsb.

10. Tingkat kesucian jelas
di buddha ini jelas kita sucinya sudah seberapa. tapi di islam tak pernah jelas.
karena itulah islam itu penuh orang munafik dan penipu.

11. Tradisi Islam merusak dan tak berguna.
- Sunat salah karena mengurangi kenikmatan co dan ce (tak usah cemas bagi yang terlanjur disunat karena sekarang ada operasi penumbuhan kulit lagi).
- Puasa pagi salah karena pagi untuk bekerja dan puasa seharusnya siang sampai malam seperti Buddha.
- Memandikan mayat salah karena mendewa-dewakan fisik, yang betul adalah membakarnya.
- Shalat salah karena lambat dalam perjalanan mental, yang betul adalah langsung vipassana dan capai nibbana dalam 7 hari.
- Jilbab salah karena cuma cocok untuk jaman dulu karena orang arab tak sanggup melihat tubuh wanita. jika jaman sekarang cuma menghasilkan tubuh yang berlemak dan bau keringat sehingga tak enak lagi disetubuhi.

12. Mantra-mantra Islam tak berguna.
- Untuk apa alhamdulillah, nikmati saja saat demi saat. Dalam pandangan Buddha, orang yang “saat ia melihat ia menyadari ia sedang melihat…dst” sudah termasuk orang yang bersyukur.
- Untuk apa insya allah, segala sesuatu ditentukan pikiran, ucapan, perbuatan sendiri. Termasuk hal yang besar-besar seperti perubahan tatasurya, gempa, dsb.
- Untuk apa astaghfirullah, lebih baik bervipassana setiap saat menghilangkan kebodohan, kekotoran, ketamakan.
- Untuk apa subhanallah, segala sesuatu itu bukanlah hal yang mengherankan asal tahu hukum-hukum/panca niyama yang mengatur alam.
Untuk apa Tuhan bolak-balik dipuji, Tuhan berkata, “ya ya sudah. Sekarang latihan (mental) kau”.

13. Tak ada ajaran cinta dalam Islam. Cuma ada ajaran penyembahan dan moral.
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” – Q.S. Al-Maidah 5.38.

14.
Penggambaran surga dan neraka agama Buddha jauh lebih lengkap daripada Islam.

15. Ajaran Islam keteteran menghadapi perubahan jaman.
Taqwa kalah dengan metta, yakin kalah dengan saddha, ikhlas kalah dengan upekkha, sabar kalah dengan karuna, islam tak mengajar mudita, puasa sebulan kalah dengan puasa setiap hari, puasa pagi kalah dengan puasa malam, shalat kalah dengan vipassana, zikir kalah dengan vipassana dan samatha. Sorban atau peci kalah dengan botak. Sarung dan mukena kalah dengan pakaian apa adanya. Sunat kalah dengan membiarkannya apa adanya. Azan 5 kali sehari yang membuat polusi suara kalah dengan ketenangan buddhist-budddhist yang meditasi. Gempa karena pikiran kacau muslim kalah dengan perekatan bumi karena rajinnya buddhist bersamatha bhavana. Angin topan karena muslim suka marah-marah kalah dengan ceramah buddhist yang lembut (lembut asli, bukan pura-pura lembut kayak muslim). Masih banyak lainnya. Jika Saya mikir terus, satu halaman penuh cuma untuk alasan nomor 15 ini.

16. Ajaran Islam cuma berputar-putar di situ saja.

Meski dikatakan ada syariat – makrifat – hakikat sama saja. Karena jika kita melihat setiap maqam dalam sufism, semua maqam itu masih tingkat syariat. Misalnya saja Zuhud. zuhud ini masih syariat atau sila. Islam itu sendiri tak pernah merupakan tiga syariat hakikat makrifat. Karena Muhammad tak pernah mengajarkan demikian. Ini cuma filsafat yang diajarkan oleh orang luar Islam sesudah kematian Muhammad. Bahkan deretan Asmaul Husna itu sendiri bukanlah buatan Muhammad, tapi buatan seorang sufi sesudah kematiannya, yang ditiru dari India sesudah melihat cara orang Hindu memanggil Dewa mereka.
Jadi bukan cuma jaman sekarang kita melihat orang yang ingin mengubah Islam, seperti AA Gym. Tapi sejak jaman dulu pun sudah ada.
Islam yang sebenarnya ya cuma sholat, mengaji, puasa, kebersihan. Itu saja.

17. Kitab Tipitaka dan ajaran Y.M. Buddha menghasilkan ilmu-ilmu, baik fisik maupun metafisik.
Seperti halnya Saya yang mendapatkan ilmu kungfu tingkat tertinggi:
Ilmu magis: – Ilmu Penyedot Bintang
- Ilmu Pembelah Bintang
- Ilmu Penukar Tubuh
- Ilmu Iblis Darah
Energy: – Kitab Bulan Dunia
- Kitab Mentari Dunia
Ilmu Kebal: – Ilmu Pemurni Sumsum Tulang
- Ilmu Kebal Pengubah Otot
Kebal tk 1: Pagoda hijau
Kebal tk 2: Pagoda kuning
Kebal tk 3: Pagoda merah
Kebal tk 4: Pagoda hitam
Kebal tk 5: Pagoda biru
Kebal tk 6: Pagoda ungu
Kebal tk 7: Pagoda putih
Kebal tk akhir: Pagoda emas
- Ilmu Baju Emas Anak Lelaki Buddha.
Ilmu Dalam: – Tenaga Dalam Sembilan Mentari.
- Tenaga Dalam Sembilan Bulan.
Ilmu Aneh: – Ilmu Rawa Rontek.
- Ilmu Ulat Sutra.
Ilmu Perang: – Kitab Neo Tao Te Ching.
- Perisai Genta Emas Buddha Rulai.
- Penantang Vayu (Phoenix Membuka Sayap, Elang Perak Menyambar, Memutar Mentari dan Bulan, Kera Besi, Tapak Hati Hitam, dst).
Ilmu Luar: – Kungfu Cakar Tulang Putih.
- Kungfu Tendangan Penghancur Bumi Langit.
- Kungfu Putaran Ruyi.
Ilmu Ringan Tubuh: Ilmu Kelelawar Sakti.
Kungfu Trisula Veda: Penantang Buddha Vama
Sengatan Listrik Purba
Pedang Kosmos Bumi Langit
Ilmu Sakti: Kungfu Langit Kesembilan.
Ilmu Sakti Dewa Pedang: Tk 1 Pedang Jiwa – Tk 2 Pedang Hati – Tk 3 Pedang Kosmos – Tk 4 Pedang Kosong.
Ilmu supersakti: Tapak Buddha Es Api.
Dsb masih banyak lagi.

Ditulis dalam Kemasyarakatan, Sangha Buddhi | 2 Komentar »

Brahmavihara (Manunggaling Kawulo Gusti)

Ditulis oleh bharadvaja di/pada September 16, 2009

Oneness
“bagaimana cara menyatu dengan pencipta?” tanya para brahmin. “bangun rumahnya” – buddha.
Brahmavihara (4 Keadaan Mental Mulia)
Musuh Langsung Keadaan Mental Musuh Tak Langsung
Kebencian
(dosha)
Metta
(Cinta)
Sentimen pribadi
(Pema)
Kekejaman
(Himsa)
Karuna
(Kasih)
Perasaan tak senang
(Domanassa)
Iri
(Issa)
Ikut senang
(mudita)
Kesenangan berlebihan
(Pahasa)
Keresahan
(Vicikiccha)
Tenang Seimbang
(upekkha)
Tak berperasaan
Metta = Pandangan cinta tanpa batas.
Mewujudkannya adalah dengan metode metta bhavana yang pernah saya kirim dulu.
Karuna = Pelayanan cinta/kasih tanpa batas.
Mewujudkannya adalah dengan memancarkan metta pada yang memerlukan.
Mudita = Ikut berbahagia pada kebahagiaan orang.
Mewujudkannya adalah dengan menyadari anatta, anicca, dukkha.
Upekha = Bukan sukkha bukan dukkha (tenang seimbang).
Mewujudkannya adalah dengan berada pada emosi yang tak terisi dengan kegirangan juga kesusahan. orang yang punya upekha tak akan merokok, tak akan berhubungan sex, dsb yang berhubungan dengan mencari kenyamanan. upekha adalah solusi buddha untuk krisis energy karena dengan upeka gak akan lapar atau haus. upekha satu-satunya cara bebas rasa takut, karena tak melekatkan diri pada ketaknyamanan, tapi cuma bisa jika sebelumnya melatih tak melekatkan diri pada kenyamanan, seperti tak melekatkan diri pada humor. orang punya upekha bisa terbang. saya belum bisa karena saya masih merokok, masih mencari nyaman. contoh upekha adalah jika tidur, jangan meremas-remas bantal sambil menyamankan diri ke dalamnya dan tidur. ini contoh ketiadaan upekha. yg benar adalah, tidur ya tidur saja. tak usah merem melek keenakan. masih banyak contoh lain. yang penting kalo terbiasa menyamankan diri nanti sulit menfilter jika giliran ketemu yang tak nyaman.
“ada 3 macam emosi: emosi suka, emosi duka, emosi bukan suka dan bukan duka” – anguttara nikaya.
Ajaran Brahmavihara keluar karena adanya pertanyaan dari dua brahmin tentang cara menyatu dengan brahma yang sebaik-baiknya (Tevijja Sutta)
Buddha tak membenarkan ide Brahmin yang berkata bahwa ada banyak cara menuju Tuhan (catur yoga), dan menjawab cuma satu cara penyatuan yang benar, yaitu Brahmavihara.
Brahma artinya Sang Pencipta (para makhluk pencipta alam, seperti Allah, dsb). Jadi orang yang bisa membangun Brahmavihara atau mewujudkan 4 kualitas mental pada tubuhnya maka ia akan bisa mencipta apasaja.
Saat Anda sudah punya brahmavihara, lalu niatkan anda mau punya rekening bank sebanyak apa. maka uang itu akan banyak sendiri. contohnya buddha buat jembatan dari permata setelah pencerahanannya dan berjalan modan mandir diatasnya untuk memamerkan pada dewa-dewa bahwa ia sudah tercerahkan.

Ditulis dalam Sangha Buddhi | Comments Off

Ajahn Brahm, Tua Gila Belum Sotapanna

Ditulis oleh bharadvaja di/pada September 13, 2009

brahm

 

TOTONG:
Dalam bukunya “Mindfulness, Bliss & Beyond” maupun dalam ceramah-ceramahnya, Ajahn Brahmavamso mengemukakan rumusan Empat Kebenaran Luhur yang dibolak-balik. Misalnya, pada ceramah “Growth of Buddhism in the West”, Speech by Venerable Ajahn Brahmavamso, Third Buddhist Summit — Phnom Penh, Cambodia, December 2002. 
Buddha mengajar:
(1) Dukkha
(2) Penyebab Dukkha
(3) Lenyapnya Dukkha
(4) Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha 
Sedang Brahm mengajar:
(1) Kebahagiaan
(2) Jalan Menuju Kebahagiaan
(3) Tidak adanya Kebahagiaan
(4) Penyebab tidak adanya Kebahagiaan  
Alasannya biar orang-orang lebih tertarik. Bagaimana pendapat rekan-rekan dan Yang Mulia?
======================================= 

 

KAINYN KUTHO:
Yang menganggap pengenalan ‘dukkha’ itu sifat ‘pesimis’, mungkin sedikit bodoh. Seharusnya dipikirkan, jika memang hidup manusia itu hakekatnya sudah ’sukha’, ngapain semua setengah mati mencari kebahagiaan?
=======================================

 

TOTONG:
Setuju sekali. Inilah yang disebut Ehipassiko, “datang dan buktikan sendiri”. Jadi Ehipassiko bukanlah membolak-balik Dhamma, ataupun memotong Vipassana menjadi anapanasati saja. Ehipassiko cuma sekedar memverifikasi semua doktrin buddhism.  
=======================================

 

SPSW:
Betul. Juga perlu diingat, cuma karena seseorang bisa bicara blak-blakan bukan berarti ia sudah baik. Cuma karena seseorang bisa tampil beda bukan berarti sudah mantap. Janganlah memuja pikiran (merasa bangga cuma karena bisa berbuat, berbicara, dan berpikir). Dari TK sampai bangku kuliah, tak ada guru yang memberi nilai bagus cuma karena anak itu datang membawa otak. Tapi ia baru dihargai jika hasil kerja otaknya bagus. Tentang kasus si Brahm itu, ia sudah terbukti masih belum Sotapanna, karena belenggu kedua Vikicikha (keraguan terhadap ajaran Dhamma) masih belum ia pecahkan. Orang seperti itu kok dibiarkan berkeliaran di podium. Jadinya kan sama kaya dengar orang gila.
=======================================

 

TOTONG:
Ada yang bilang sih Dhammatainment… :) )
=======================================

 

SPSW:
Jangan tertawa. Ingatlah ayat Dhammapada “kenapa kau tertawa. Tak ada alasan untuk tertawa di dunia penuh samsara ini” – Buddha. Orang yang suka tertawa karena humor seperti kau ini contoh orang yang tak punya visi. Berbeda dengan Saya yang bisa memandang jauh ke depan.  Mau lihat orang yang tak punya upekkha? Lihat Dalai Lhama. Tertawa lebar agar orang punya kesan buddhism itu penuh cinta. Kau jangan seperti dia. Orang yang tertawa tak mungkin ke Nibbana, tak mungkin jadi Buddha, karena belum punya kualitas mental Upekkha. Dhammatainment? Betul saja belum, kok sudah ditambahi “tainment”. Satu-satunya Dhammatainment di dunia ini, untuk saat ini, cuma di milis Saya kok. Dhammatainment = Dhamma yang dibawakan dengan cara dan penyampaian yang menarik sehingga orang sama bersemangatnya seperti menonton lagu kesayangannya. Dhammatainment memang bagus. Karena membuat lagu-lagu agama itu tak baik. Ingat ayat Brahmajalasutta, “tathagatha sudah meninggalkan lagu-lagu, konser musik, irama merdu, dsb”. Jika biksu sekarang membiarkan penonton dhamma (puthujhana) membuat lagu-lagu dhamma berarti bikkhu itu tak layak lagi dijadikan tempat berlindung. Sebenarnya alasan utama ajahn brahm bukanlah agar orang semakin tertarik__orang seperti ajhan brahm ini tak pernah betul-betul care dengan orang lain, setidaknya untuk saat ini, melainkan ia itu kebanyakan baca buku-buku motivasi barat, yang menganjurkan jangan membuat kalimat negatif. Ia mengira cara seperti itu sudah bagus, padahal itu samasekali tak benar. Dhamma adalah pemaparan secara detail berbagai bidang kehidupan. Seperti seorang presiden yang harus tahu mana rakyatnya yang kaya dan mana yang miskin, begitupula seorang Buddha harus tahu mana yang baik mana yang buruk. Lagipula mengubah-ubah ajaran Buddha termasuk tindakan yang akan mengakibatkan pelakunya terlahir di alam apaya/alam nafsu rendah. Menutup kalimat “penyebab dukkha” dengan “jalan menuju kebahagiaan” adalah sama sekali bukan satu cara yang baik, apalagi jika pelakunya seorang memakai baju jubah bikkhu. Tak heran jika Buddha sampai memperingatkan di Dhammapada, “aku tak memanggil seseorang bhikku cuma karena ia pakai jubah. Kupanggil ia bhikku jika ia mau melatih mental setiap saat”. Si Brahm ini sepertinya takut melihat mentalnya sendiri. Setiap melihat kata “dukkha” jadi ketakutan ia. Takut bawahsadarnya kotor. Pertanda vipassananya masih belum selesai. Right Mind nya belum ada. Orang seperti inilah yang paling gak tahan jika disuruh bertapa, karena yang kotor-kotor dari bawahsadarnya, seperti rasa takut ini akan menjelma jadi jin. Saya melihat si brahm belum punya ketenangan. ia gak tahu ajaran untuk tenang. ia tahunya gali lubang tutup lubang. ini sama seperti muslim. Mengajar “jalan menuju kebahagiaan” sih boleh-boleh saja, tapi bagi agama non-buddhism, seperti kristen. Di buddhism, kita harus melihat segala sesuatu sebagaimana apa adanya. Ada hal-hal baik dan nyaman (sukkha) Ada hal-hal buruk dan tak menyamankan (dukkha) Buddhism adalah sesuatu yang melihat sukkha dan dukkha lalu berdiri di tengahnya untuk menggapai kualitas uppeka (mental tenang seimbang) + panna (kebijakan hasil kontemplasi) = mencapai Nibbana. 
=======================================

 

WILLI:
Saya sudah berehipassiko dengan pernyataan diatas. Dan sesudah merasakannya pada diri sendiri dan melihat kenyataan perjodohan Dhamma pada orang2 disekitar saya, saya masih berpendapat sama: ~ Dhamma hanya dapat benar2 diselami oleh orang yang sedang / pernah mengalami Dukkha. ~ Dhamma tidak akan dapat benar2 dipahami oleh orang yg sedang dalam zona nyaman.
=======================================

 

SPSW:
Ya. Benar, willi. Ada 8 kondisi dunia: keuntungan kehilangan terkenal tak terkenal dipuji dihina kebahagiaan penderitaan.
Untuk menjadi Buddha seseorang haruslah: Sedang berada di antara kaya dan miskin. Sedang berada di antara terpandang dan tak terpandang Sedang berada di antara punya relasi dan tak punya relasi Sedang berada di antara suka dan duka. Dalam posisi di tengah-tengah seperti inilah seseorang bisa memahami Dhamma dengan baik. Karena itulah Siddharta meninggalkan kenyamanan dan kemuliaannya sehingga dianugerahi dewa, rambut yang tiba-tiba terpilin sendiri sehingga ia tak perlu harus potong rambut tiap bulan yang bisa mengganggu perjalanannya. Tapi pergi meninggalkan istanapun dewa dewa dan orang-orang tak percaya jika ia orang hina dan tak terpandang, karena itu banyak raja dan pengelana mendekati karena pengaruh aura wajahnya, dan dewa-dewa serta jin melindungi. tapi di mata dunia ia tetap miskin dan tak terpandang. bahkan sesudah tercerahkan pun buddha melanjutkan cara hidup seperti itu, meski sebagai Buddha, masalahnya bukan lagi sekedar ada di jalan tengah, tapi lebih pada kebijakan dari hidup yang apa adanya, karena pada dasarnya hidup itu selalu apa adanya, dan harus terus dipompa dengan kamma-kamma tertentu agar enak terus.
=======================================

Ditulis dalam Opini | 9 Komentar »

Perbedaan Mahayana dan Theravada

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Maret 26, 2009

sex_taoist

Kekosongan
Mahayana: makhluk-makhluk dianggap ilusi dan tak nyata, karena yang ada cuma kosong.
Theradava: makhluk-makhluk tetap nyata dan bukan ilusi, karena dianggap kosong cuma karena tak ada intinya.

Pencapaian tertinggi
Mahayana: Menolong orang baru menolong diri sendiri.
Theravada: Menolong diri sendiri baru menolong orang.

Interpretasi
Mahayana: Cenderung tak seimbang dan hasil pemikiran tak terlatih.
Theravada: Selalu seimbang dan hasil pemikiran terlatih.

Dasar asli manusia
Mahayana: Zat Buddha.
Theravada: Bodoh, tamak, benci.

Vegetarian
Mahayana: Mengatakan Buddha menyuruh menjadi vegetarian.
Theravada: Mengatakan Buddha tak menyuruh menjadi vegetarian.

Kebahagiaan
Mahayana: Banyak ceria dan menolong orang.
Theravada: Ketaktergangguan.

Diri
Mahayana: Dibagi menjadi diri kecil, yang diartikan “pikiran yang mementingkan kepentingan sendiri” (sama seperti filsafat psikology barat) dan diri besar yaitu zat Buddha.
Theravada: Tak ada, selain kebenaran yang bersifat duniawi tentang panggilan terhadap lima aggregat. Selain itu tak ada lagi Diri Besar.

Kosmos
Mahayana: Ada tiga tubuh.
Theravada: Tak ada pembagian tubuh. Sang Buddha cuma pernah menyebut dirinya sebagai tubuh Dhamma.

Perbuatan tertinggi
Mahayana: Kasih.
Theravada: Vipassana.

Buddha sesudah Nibbana
Mahayana: Masih ada entah dimana.
Theravada: Tak ada lagi, selain kekosongan itu sendiri.

Buah latihan
Mahayana: Filsuf dan bhikku-bhikkuan.
Theravada: Bhikku dan Buddha.
Dalam rangka berat sebelah pada ide akan kebaikan (berhubung ketiadaan upekkha) para bhikku keduabelah pihak lalu bersama-sama berkumpul mencari kesamaan. Misalnya, sama-sama punya dua mata, dua telinga, dst.

Ditulis dalam Kemasyarakatan | 43 Komentar »

Cara Menyucikan Indra

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Februari 24, 2009

Racun Xian Luo

 

O, para bhikkhu, dengarkanlah. Aku akan membabarkan Dhamma murni kepadamu. Camkanlah di benakmu! Hendaknya orang bijaksana yang tekun berlatih demi kemajuannya sendiri berperilaku sesuai dengan orang yang telah meninggalkan keduniawian.

Bentuk, suara, citarasa, bau dan kontak dapat meracuni orang. Dengan menyingkirkan nafsu terhadap hal-hal ini, seseorang hidup dengan kemurnian indra.

Dhaniya adalah seorang penggembala yang bertemu dengan Sang Buddha ketika Beliau bersemayam di Savatthi. Saat itu menjelang musim hujan, tepat sebelum datangnya hujan. Dhaniya telah membangun tempat perlindungan yang kuat bagi dirinya, keluarganya, serta ternaknya di tepi Sungai Mahi. Tetapi Sang Buddha menyadari bahwa keluarga ini berada dalam bahaya dilanda banjir, maka Beliau muncul di tempat tinggal penjaga ternak itu tepat ketika dia sedang bersuka cita dalam kenyamanan dan keamanannya.

Dhaniya: Aku telah memasak nasiku dan memerah sapiku. Aku berdiam dengan orang-orangku di dekat tepi Sungai Mahi. Rumahku beratap rumbia, api telah menyala. Oleh karena itu, hujanlah, o awan, jika kau mau.
Sang Buddha: Aku telah terbebas dari kemarahan, terbebas dari nafsu. Di malam hari aku berdiam di dekat tepi Sungai Mahi. Rumahku [tubuhku] tidak tertutup, api nafsu telah padam. Oleh karena itu, hujanlah, o awan, jika kau mau !

Dhaniya: Lalat dan nyamuk tidak diketemukan. Padang rumputku hijau karena rumputnya subur di tanah berpaya. Ternakku dapat bertahan jika hujan datang. Oleh karena itu, hujanlah, o awan, jika kau mau!
Sang Buddha: Olehku sebuah rakit yang kuat [Sang Jalan] telah dibuat. Aku telah menyeberangi banjir menuju Nibbana. Tak ada lagi gunanya rakit itu. Oleh karena itu, hujanlah, o awan, jika kau mau!

Dhaniya: Gopi, istriku, bukanlah orang sembarangan dan dia patuh padaku. Sudah lama dia tinggal bersamaku dengan bahagia. Mengenai dirinya, aku tidak mendengar apapun yang jahat.
Sang Buddha: Pikiranku patuh dan terbebas dari nafsu. Amat lama sudah pikiran ini terlatih dan terkuasai dengan baik. Maka kejahatan tidak ditemukan di dalam diriku.

Dhaniya: Aku adalah majikan bagi diriku sendiri dan aku menyokong diriku sendiri. Putra-putraku semuanya sehat. Mengenai mereka, aku tidak mendengar apa pun yang jahat.
Sang Buddha: Aku bukanlah pelayan siapapun. Dengan tercapainya tujuanku [Ke-Buddha-an], aku berkelana di dunia; tidak lagi aku perlu melayani.

Dhaniya: Aku memiliki banyak sapi jantan muda dan sapi jantan kecil, juga banyak sapi betina kecil dan calon induk, serta seekor sapi jantan dewasa yang merupakan pemimpin kelompok itu.
Sang Buddha: Aku tidak memiliki sapi jantan muda atau sapi jantan kecil, tidak juga sapi betina kecil atau calon induk, atau pun sapi jantan dewasa yang merupakan pemimpin kelompok itu.

Dhaniya: Pancang telah ditegakkan dengan kokoh. Tali-talinya terbuat dari rumput munja baru dan dipintal kuat. Bahkan sapi-sapi muda pun tidak dapat mematahkannya.
Sang Buddha: Setelah mematahkan segala belenggu bagaikan seekor banteng, sebagaimana seekor gajah telah mematahkan tanaman rambat putilata, maka tidak akan ada lagi kelahiran bagiku.

Namun kemudian tiba-tiba turunlah hujan deras yang membanjiri segala permukaan, segala tempat dan celah. Ketika mendengar gelegar badai itu, Dhaniya mengucapkan kata-kata berikut ini:
Amat besar, sungguh besar keuntungan yang kita peroleh karena dapat bertemu dengan Sang Buddha, Yang Maha Tahu. Kepada Yang Mulia kami datang untuk berlindung, O, Yang Maha Melihat. Jadilah pelindung kami!
Baik istri maupun aku akan patuh kepada Yang Mulia dalam Ajaran Sugata, Yang Dinanti-nantikan. Kami akan menjalani kehidupan suci. Setelah mengatasi kelahiran dan kematian kami akan mengakhiri penderitaan.

Kemudian Mara muncul untuk menggoda Sang Buddha: Dia yang memiliki anak bergembira karena anak itu. Begitu juga, dia yang memiliki ternak pun bergembira karena ternaknya. Kegembiraan manusia ada pada perolehan (upadhi) indra-indranya . Maka ia yang tidak memiliki upadhi tidak memiliki kegembiraan.
Sang Buddha: Dia yang memiliki anak mempunyai kesedihan karena anak itu. Dia yang memiliki ternak mempunyai kesedihan karena ternaknya. Upadhi-lah penyebab penderitaan manusia. Tetapi dia yang tidak memiliki upadhi tidak memiliki penderitaan.

Ditulis dalam Uncategorized | 7 Komentar »

Mensucikan Diri Melalui Pengamatan Apa Adanya

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Februari 18, 2009

ratusan_ribu_pedang_berpadu

 

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai tanah; karena mengetahui dengan baik tentang tanah sebagai tanah, maka ia tidak memikirkan tentang tanah, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tanah; ia tidak memikirkan dirinya sebagai tanah; ia tidak berpikir ‘aku tanah’, ia tidak gembira dalam tanah. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi; karena mengetahui dengan baik tentang pathavi sebagai air, maka ia tidak memikirkan tentang air, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan air; ia tidak memikirkan dirinya sebagai air; ia tidak berpikir ‘aku air’, ia tidak gembira dalam air. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang api sebagai api; karena mengetahui dengan baik tentang api sebagai api, maka ia tidak memikirkan tentang api, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan api; ia tidak memikirkan dirinya sebagai api; ia tidak berpikir ‘aku api’, ia tidak gembira dalam api. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang udara sebagai udara; karena mengetahui dengan baik tentang udara sebagai udara, maka ia tidak memikirkan tentang udara, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan udara; ia tidak memikirkan dirinya sebagai udara; ia tidak berpikir ‘aku udara’, ia tidak gembira dalam udara. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang nibbana sebagai nibbana; karena mengetahui dengan baik tentang nibbana sebagai nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nibbana; ia tidak berpikir ‘aku nibbana’, ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

6 kelompok kesadaran sudah kita tahu.
Bergantung pada penglihatan dan bentuk-bentuk, kesadaran penglihatan muncul.
Bergantung pada pendengaran dan suara-suara, kesadaran pendengaran muncul.
Bergantung pada penciuman dan bebauan, kesadaran penciuman muncul.
Bergantung pada pengecapan dan rasa-rasa, kesadaran pengecapan muncul.
Bergantung pada fisik dan sensasi sentuhan, kesadaran fisik muncul.
Bergantung pada pikiran dan ilmu-ilmu, kesadaran pikiran muncul.

Biarkan kesadaran tetap sebagai kesadaran. Tak menjadi kemelekatan karena adanya keinginan yang mengikutinya.
Melihat apa adanya adalah melihat tanpa diikuti oleh keinginan.
Wanita sexy adalah wanita sexy. Kendaraan bagus adalah kendaraan bagus. Musik indah adalah musik indah. Tak perlu harus mengambil wanita sexy, harus mengambil kendaraan bagus, harus mengambil musik indah. Dengan demikianlah tercapailah “melihat segala sesuatu seperti apa adanya”. Dari sini akan tercapai pembebasan.

Ditulis dalam Uncategorized | 13 Komentar »

Keberadaan VS Ketiadaan

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Februari 9, 2009

 

Sang Bhagava berkata: “Para bhikkhu, saya akan mengajarkan dasar metode semua dhamma, dengarkan, perhatikan dengan seksama, saya akan bicara.”

“Ya, bhante,” jawab para bhikkhu menyetujuinya.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai tanah; karena mengetahui dengan baik tentang tanah sebagai tanah, maka ia tidak memikirkan tentang tanah, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tanah; ia tidak memikirkan dirinya sebagai tanah; ia tidak berpikir ‘aku tanah’, ia tidak gembira dalam tanah. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi; karena mengetahui dengan baik tentang pathavi sebagai air, maka ia tidak memikirkan tentang air, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan air; ia tidak memikirkan dirinya sebagai air; ia tidak berpikir ‘aku air’, ia tidak gembira dalam air. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang api sebagai api; karena mengetahui dengan baik tentang api sebagai api, maka ia tidak memikirkan tentang api, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan api; ia tidak memikirkan dirinya sebagai api; ia tidak berpikir ‘aku api’, ia tidak gembira dalam api. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang udara sebagai udara; karena mengetahui dengan baik tentang udara sebagai udara, maka ia tidak memikirkan tentang udara, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan udara; ia tidak memikirkan dirinya sebagai udara; ia tidak berpikir ‘aku udara’, ia tidak gembira dalam udara. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang nibbana sebagai nibbana; karena mengetahui dengan baik tentang nibbana sebagai nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nibbana; ia tidak berpikir ‘aku nibbana’, ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.

Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang ‘Nibbana’ sebagai Nibbana; karena mengerti dengan baik mengenai Nibbana sebagai Nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang Nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Nibbana; ia tidak berpikir ‘Nibbana milikku’, ia tidak gembira dalam Nibbana. Mengapa begitu? Karena ia telah mengetahui dengan baik bahwa ‘kenikmatan (nandi) dasarnya adalah pada dukkha’, mengetahui bahwa karena adanya ‘menjadi’ (bhava) maka terjadilah ‘kelahiran’ (jati), maka muncullah ‘usia tua dan kematian’ (jaramarana) makhluk.

Para bhikkhu itulah sebabnya maka saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan melenyapkan semua keinginan; Keinginan untuk bernafsu indra (kamatanha), keinginan untuk menjadi (bhavatanha), keinginan untuk tak menjadi (vibhavatanha). Tatagatha tanpa nafsu (viraga), sempurna kesadarannya dengan mencapai ‘penerangan agung tertinggi’ (anuttaram sammasambodhi).

“Para bhikkhu, pada suatu ketika aku sedang berdiam di Ukkattha di Hutan Subhaga di akar pohon sala kerajaan. Pada saat itu, suatu pandangan yang merusak telah muncul pada Brahma Baka demikian: “Ini adalah permanen, ini adalah abadi, ini adalah kekal, ini adalah total, ini tidak terkena kelenyapan; ini bukannya terlahir ataupun bertambah tua atau mati atau lenyap atau muncul kembali, dan di luar ini tidak ada jalan keluar.

“Dengan pikiranku aku mengetahui pemikiran di pikiran Brahma Baka, maka secepat seorang laki-laki yang kuat meluruskan tangannya yang tertekuk atau menekuk tangannya yang lurus, aku lenyap dari akar pohon sala kerajaan di Hutan Subhaga di Ukkattha dan muncul di alam-Brahma. Brahma Baka melihatku datang dari jauh, dan berkata: ‘Datanglah, tuan yang baik! Selamat datang, tuan yang baik! Sudah lama, tuan yang baik, sejak engkau memiliki kesempatan untuk datang ke sini. Tuan yang baik, ini adalah permanen, ini adalah abadi,ini adalah kekal, ini adalah total, ini tidak terkena kelenyapan; ini bukannya terlahir ataupun menjadi tua atau mati atau meninggal atau muncul kembali, dan di luar ini tidak ada jalan keluar.’

“Ketika hal ini dikatakan, aku memberitahu Brahma Baka, ‘Brahma Baka yang terhormat telah tergelincir ke dalam kebodohan; dia telah tergelincir ke dalam kebodohan karena sesuatu yang tidak permanen dikatakan permanen, yang berubah dikatakan abadi, yang tidak-kekal dikatakan kekal, yang tidak lengkap dikatakan total, yang terkena kelenyapan dikatakan tidak terkena kelenyapan, yang terlahir, menjadi tua, mati, lenyap atau muncul kembali dikatakan bukannya terlahir ataupun menjadi tua atau mati atau lenyap atau muncul kembali, dan ketika ada jalan keluar di luar ini, dia mengatakan bahwa tidak ada jalan keluar di luar ini.’

“’Tuan yang baik, seberapa jauhnya engkau memahami jangkauan dan kekuasaanku yang meluas?’

“Sejauh rembulan dan matahari berputar Bersinar dan menerangi semua sudut, Sejauh seribu-kali dunia seperti itulah Kedaulatan meluas. Brahma, aku memahami jangkauan dan kekuasaanmu yang meluas demikian: Brahma Baka mempunyai kekuasaan sebanyak ini, kekuatan sebanyak ini, pemgaruh sebanyak ini.

“’Brahma, setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, dan setelah secara langsung mengetahui apa yang tidak sepadan dengan ke-tanah-an tanah, aku tidak menyatakan menjadi tanah, aku tidak meyatakan berada di dalam tanah, aku tidak meyatakan terpisah dari tanah, aku tidak menyatakan tanah sebagai “milikku”, aku tidak menegaskan tanah. Demikianlah, Brahma, mengenai pengetahuan langsung, aku tidak hanya berdiri di tingkat yang sama denganmu, maka bagaimana bisa aku mengetahui lebih sedikit? Justru, aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.

“’Brahma, setelah secara langsung mengetahui air sebagai air… api sebagai api… udara sebagai udara…makhluk-makhluk sebagai makhluk-makhluk…dewa-dewa sebagai dewa-dewa…Pajapati sebagai Pajapati…Brahma sebagai Brahma…dewa-dewa Cahaya yang Mengalir sebagai dewa-dewa Cahaya yang Mengalir…dewa-dewa Keagungan Cemerlang sebagai dewa-dewa Keagungan Cemerlang, dewa-dewa Buah Besar sebagai dewa-dewa Buah Besar…Maha raja sebagai Maharaja…segalanya sebagai segalanya, dan setelah secara langsung mengetahui bahwa apa yang tidak sepadan dengan ke-segala-an dari segalanya, aku tidak menyatakan menjadi segalanya, aku tidak menyatakan berada di dalam segalanya, aku tidak menyatakan terpisah dari segalanya, aku tidak meyatakan segalanya sebagai “milikku”, aku tidak menegaskan segalanya. Demikianlah, Brahma,mengenai pengetahuan langsung, aku tidak hanya berdiri di tingkat yang sama denganmu, maka bagaimana bisa kau mengatahui lebih banyak? Justru, aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.’

“’Tuan yang baik, [jika engkau menyatakan mengetahui secara langsung] apa yang tidak sepadan dengan ke-segala-an dari segalanya, semoga pernyataanmu bukannya sia-sia dan kosong! “’Tuan yang baik, saya akan menghilang dari engkau.’

“’Menghilanglah dariku jika engkau bisa, Brahma.’

“Kemudian Brahma Baka berkata:’ Aku akan menghilang dari petapa Gotama, aku akan menghilang dari petapa Gotama,’ tetapi dia tidak bisa menghilang. Karena itu, aku berkata: ‘Brahma, aku akan menghilang dari engkau.’

“Menghilanglah dariku jika engkau bisa, tuan yang baik.’

“Maka aku pun mempertunjukkan kekuatan supra-normal yang sedemikian sehingga Brahma dan kelompok Brahma dan anggota-anggota Kelompok Brahma dapat mendengar suaraku tetapi tidak dapat melihatku. Setelah aku menghilang, aku mengucapkan bait ini:

“Setelah melihat ketakutan di dalam setiap jenis dumadi
Dan di dalam pencarian tanpa-dumadi,
Aku tidak menegaskan jenis dumadi apa pun,
Tidak juga aku melekat pada sukacita [di dalam dumadi].

“Pada waktu itu, Brahma dan kelompok Brahma dan anggota-anggota Brahma terpukul dengan rasa heran dan kagum. Mereka berkata: ‘Sungguh luar biasa, para tuan, sungguh hebat, kekutan yang besar dan kehebatan yang luar biasa dari petapa Gotama! Sebelum ini, belum pernah melihat atau mendengar ada petapa atau Brahmana yang mempunyai kekuasaan yang besar dan kekuatan yang luar biasa seperti petapa Gotama ini, yang telah pergi meninggalkan keduniawian dari suku Sakya.

 

Komentar Vamabuddha:
Orang yang berpaham Brahmanism/keberadaan masih kalah melawan orang yang berpaham ketiadaan.

 

keberadaankalahmelawanketiadaan

Ditulis dalam Duel Maut | 5 Komentar »

Nibbana

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Januari 29, 2009

Para bhikkhu, ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Para bhikkhu, bila tak ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka tak ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Cara mencapainya adalah seperti ini:

Anatta
Pikiran bukan Atta, meski masih ada orang yang keliru.
Kenapa pikiran bukan atta? karena pikiran tak bisa berdiri tanpa faktor-faktor mental lain, seperti persepsi, emosi, kesadaran.
Orang tak mungkin bisa berpikir, jika ia belum mendapat masukan dari kesadaran dan persepsinya.
Buddha sudah menjelaskan munculnya kesadaran.
Misalnya darimana kesadaran mata itu ada? apa arti kesadaran mata? (pikiran yg ada kaitan dengan mata), yaitu saat mata menerima kontak dengan obyek, sehingga terwujudlah kesadaran, yang disebut kesadaran mata.
Adanya kesadaran ini, barulah membuat pikiran bisa ngomong, “oh yang saya lihat tadi begini.. begitu…”
Atta bukanlah pikiran. Atta adalah saat dimana kita merasa ada kekuatan untuk berdiri sendiri tanpa tergantung dengan kondisi lain.
Saat seseorang merasa enaknya memandang gunung-gunung indah, ada atta di situ.
Saat seseorang merasa enaknya musik dan bagaimana ia akan selalu mendengarnya, ada atta di situ
Saat seseorang merasa uang adalah kunci segala persoalan dan pembantu semua persoalan, ada atta di situ.
Saat seseorang merasa ada Tuhan, dan Tuhanlah yang akan menolongnya lepas dari semua bencana, ada atta di situ.
Saat seseorang merasa kesadarannya sangat mulia, dan mampu menjawab semua persoalan, ada atta di situ.
Jadi atta bukan pikiran. tapi keakuan/kedirian/ inti yang ilusif.
Jika seseorang berkata “penglihatan ini milikku” itu tak bisa bertahan lama. Penglihatan selalu naik turun, karena itu kepemilikannya tak selalu ada.
Jika seseorang berkata, “bentuk-bentuk adalah milikku” itu tak bisa bertahan lama. Bentuk-bentuk selalu naik turun, karena itu kepemilikannya tak selalu ada.
Jika seseorang berkata, “kesadaran penglihatan adalah milikku” itu tak bisa bertahan lama. Kesadaran penglihatan selalu naik turun, karena itu kepemilikannya tak selalu ada.
Jika seseorang berkata, “kontak adalah milikku” itu tak bisa bertahan lama. Kontak selalu naik turun, karena itu kepemilikannya tak selalu ada.
Jika seseorang berkata, “perasaan adalah milikku” itu tak bisa bertahan lama. Perasaan selalu naik turun, karena itu kepemilikannya tak selalu ada.
Jika seseorang berkata, “keinginanku ini bagus”, atau “keinginanku ini membuatku sedih” itu tak bisa bertahan lama. Keinginan selalu berganti saat kesadaran, kontak, perasaan, berganti, karena itu kepemilikannya tak selalu ada.
Karena itulah, tak ada aku dalam penglihatan, bentuk-bentuk, kesadaran penglihatan, kontak, perasaan, keinginan.
Dst….

Pendisiplinan diri
Tanpa disiplin secara fisik, melalui jalan kebhikkuan, seseorang tak akan memiliki disiplin mental.
Kalo sedang terkenal gak mau bervipassana, karena mau berorganisasi dulu.
Kalo sedang hina gak mau bervipassana, karena mau jadi ‘orang’ dulu.
Kalo sedang miskin gak mau bervipassana, karena mau kaya dulu.
Kalo sedang kaya gak mau bervipassana, karena masih kaya.
Kalo sedang sendiri gak mau bervipassana, karena ingin punya pacar/istri dulu.
Kalo sudah berkawan gak mau bervipassana, karena masih sibuk ngurus istri.
Kalo sedang terganggu gak mau bervipassana, karena nyaman saja belum gimana mau vipassana.
Kalo sudah nyaman gak mau bervipassana, karena sudah punya tv kabel, rumah mewah, uang banyak, cewek-cewek cantik, dsb.
Karena itu memasuki sangha yang benar, yaitu Sangha Buddhi, dengan peraturan-peraturannya:
a. Tak terkenal juga bukan tak terkenal.
- Tak boleh ikut perlombaan, kontes, mendaftar sebagai aparat/pegawai negara.
- dsb.
b. Tak miskin juga tak kaya.
- Boleh punya uang untuk membeli kebutuhan sehari-hati, tapi sering/selalu didermakan. Sehingga tak miskin juga tak kaya.
- dsb.
c. Tak sendiri juga tak berkawan.
- Tak berteman, berpacaran, menikah. Tapi mencari kenalan.
- Jika ada orang mau berguru, katakan “cuma Guru Saya Buddha Vama yang pantas jadi gurumu” (karena untuk saat ini Saya masih belum mengangkat Dhammaduta yang tepat untuk membabarkan Agama Buddhi).
- Dsb.
d. Tak terganggu juga tak nyaman.
- Jangan tidur pakai bantal.
- Melakukan Meditasi.
- Melakukan Vipassana.
- Dsb…

Satipattana
Tak ada hal lain yang kuketahui, O para bhikkhu, yang oleh karena hal itu maka nafsu indera yang tadinya belum muncul tidak akan muncul dan nafsu indera yang telah muncul kemudian ditinggalkan sedemikian besar seperti yang disebabkan oleh hal ini: suatu objek yang menjijikkan. Bagi orang yang dengan benar memperhatikan objek yang menjijikkan, maka nafsu indera yang tadinya belum muncul tidak akan muncul dan nafsu indera yang telah muncul akan ditinggalkan.
Contoh:
Melihat tubuh sexy. Sekedar melihat saja. Lalu muncul pengetahuan bagaimana tubuh sexy dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Mendengar orang memukuli seseorang. Tapi sekedar mendengar saja. Lalu muncul pengetahuan bagaimana pembalasan dengan kekerasan dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Mencium bau telur busuk yang dilempari seseorang padanya, Tapi sekedar mencium. Lalu muncul pengetahuan bagaimana pembalasan dengan kekerasan dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Mengecap masakan tak enak, tapi sekedar mengecap. Lalu muncul pengetahuan bagaimana memaki-maki dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Menyentuh tahi secara tak sengaja. Tapi ia sekedar menyentuh. Lalu muncul pengetahuan bagaimana memaki-maki dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Merenungkan agama-agama yang salah. Tapi ia sekedar merenung. Lalu muncul pengetahuan bagaimana pembuatan ilmu atau peradaban baru dengan disengaja, cuma membawa pada kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, mati lagi.
Memperhatikan sesuatu dengan benar = Memperhatikan tanpa membiarkannya diikuti oleh perasaan, keinginan, dan kemelekatan.

Vipassana Bhavana
Dalam apa yang terlihat, harus cuma ada yang terlihat
Dalam apa yang terdengar, harus cuma ada yang terdengar
Dalam apa yang tercium, harus cuma ada yang tercium
Dalam apa yang terasa, harus cuma ada yang terasa
Dalam apa yang tersentuh, harus cuma ada yang tersentuh
Dalam apa yang terpikir, harus cuma ada yang terpikir
Jika, dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat,….., di dalam yang diketahui hanya ada apa yang diketahui, maka Bahiya, kamu tidak akan “bersama itu”; bila Bahiya, kamu tidak lagi “bersama itu”, kamu tidak akan berada di dalam itu; jika, kamu tidak ada di dalam itu, maka Bahiya, kamu tidak akan berada di sini maupun di sana tidak juga di antara keduanya. Inilah akhir penderitaan.

Pembebasan
Saat ia melihat dan penampakan timbul, ia tak melekat pada rasa senang dan rasa tak senang.
Saat ia mendengar dan suara timbul, ia tak melekat pada rasa senang dan rasa tak senang.
Saat ia mencium dan bau muncul, ia tak melekat pada rasa senang dan rasa tak senang.
Saat ia merasa dan rasa muncul, ia tak melekat pada rasa senang dan rasa tak senang.
Saat ia menyentuh dan rasa muncul, ia tak melekat pada rasa senang dan rasa tak senang.
Saat ia berpikir dan pendapat muncul, ia tak melekat pada rasa senang dan rasa tak senang.

Pencerahan
1. Pengetahuan tentang pembedaan mental dan materi (nama-rupa-parichedda-nana).
2. Pengetahuan tentang sebab-akibat (paccaya-parigaha-nana)
3. Pengetahuan tentang pemahaman (sammasana-nana)
4. Pengetahuan tentang timbul dan tenggelam (udayabbaya-nana).
5. Pengetahuan tentang penghancuran (Bhanga-nana)
6. Pengetahuan tentang rasa takut (bhayatupatthana-nana)
7. Pengetahuan tentang kemalangan (adinava-nana)
8. Pengetahuan tentang kemuakan (nibbida-nana)
9. Pengetahuan tentang keinginan untuk pelepasan (muncitu-kamyata-nana)
10. Pengetahuan tentang perenungan kembali (patisankhanupassana-nana)
11. Pengetahuan tentang keseimbangan akan bentukan (sankharupekha-nana)
12. Pandangan cerah menuju kebangkitan (vutthanagamini-vipassana-nana)
13. Pengetahuan tentang penyesuaian (anuloma-nana)
14. Pengetahuan tentang kematangan (gatrabu-nana)
15. Pengetahuan tentang jalan (magga-nana)
16. Pengetahuan tentang buah (phala-nana)
17. Pengetahuan tentang penelaahan lagi (paccavekkhana-nana)
18. Pencapaian buah (phalasamapatti)
19. Jalan-jalan dan buah-buah yang lebih tinggi lagi

Nibbana
Oleh karena itu, lalu seorang siswa mulia terpelajar yang baik menjadi bebas terhadap penglihatan, menjadi bebas terhadap bentuk-bentuk, menjadi bebas terhadap kesadaran akan penglihatan, menjadi bebas terhadap kontak penglihatan, menjadi bebas terhadap perasaan, menjadi bebas terhadap keinginan.
Dia menjadi bebas terhadap telinga …
Dia menjadi bebas terhadap hidung …
Dia menjadi bebas terhadap lidah …
Dia menjadi bebas terhadap tubuh …
Dia menjadi bebas terhadap pikiran, dia menjadi bebas terhadap dhamma-dhamma, menjadi bebas terhadap kesadaran akan pikiran, menjadi bebas terhadap kontak pikiran, menjadi bebas terhadap perasaan, menjadi bebas terhadap keinginan.
Menjadi bebas, (keinginannya) lenyap; dengan lenyapnya (keinginan) dia terbebas; ketika (pikirannya) terbebas, datanglah pengetahuan ‘Dia terbebas.’ Dia mengerti: ‘Kelahiran adalah melelahkan, kehidupan brahmana telah ditempuh, apa yang harus dikerjakan sudah dikerjakan, tidak akan ada kehidupan lagi.’ “

 

burning_woods_nibbana

Ditulis dalam Kemasyarakatan, Sangha Buddhi | 12 Komentar »

Perhatikanlah Segala Sesuatu Seperti Apa Adanya

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Januari 21, 2009

Eagle Claw

 

Tak ada hal lain yang kuketahui, O para bhikkhu, yang oleh karena hal itu maka nafsu-nafsu indera yang tadinya belum muncul kemudian muncul dan nafsu-nafsu yang telah muncul kemudian meningkat dan menjadi kuat sedemikian besar seperti yang disebabkan oleh hal ini: suatu objek yang indah. Bagi orang yang dengan tak benar memperhatikan suatu objek yang indah, nafsu indera yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu indera yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.
Contoh:
Melihat wanita sexy, tapi ia tak sekedar melihat, melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan.
Mendengar lagu bagus, tapi tak sekedar mendengar, melainkan mencampurkan pendengaran dan pendengaran.
Mencium dedaunan yang harus, tapi tak sekedar mendengar, melainkan mencampurkan penciuman dan perasaan.
Mengecap masakan yang enak, tapi tak sekedar mendengar, melainkan mencampurkan pengecapan dan perasaan.
Menyentuh tubuh yang empuk, tapi tak sekedar mendengar, melainkan mencampurkan penyentuhan dan perasaan.
Merenungkan satu ilmu, tapi tak sekedar merenungkan, melainkan mencampurkan perenungan dan perasaan.
Memperhatikan sesuatu dengan tak benar = Memperhatikan dengan membiarkannya diikuti oleh perasaan, keinginan, dan kemelekatan.

Tak ada hal lain yang kuketahui, O para bhikkhu, yang oleh karena hal itu maka niat jahat yang tadinya belum muncul kemudian muncul dan niat jahat yang telah muncul kemudian meningkat dan menjadi kuat sedemikian besar seperti yang disebabkan oleh hal ini: suatu objek yang menjijikkan. Bagi orang yang dengan tak benar memperhatikan suatu objek yang menjijikkan, niat jahat yang tadinya belum muncul akan muncul dan niat jahat yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.
Contoh:
Melihat orang memukuli seseorang. Tapi ia tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan.
Mendengar orang memukuli seseorang. Tapi ia tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan.
Mencium bau telur busuk yang dilempari seseorang padanya. Tapi ia tak sekedar mencium melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan,
Mengecap masakan tak enak. Tapi ia tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan,
Menyentuh tahi secara tak sengaja. Tapi ia tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan,
Merenungkan agama-agama yang salah. Tapi ia tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan,
Memperhatikan sesuatu dengan tak benar = Memperhatikan dengan membiarkannya diikuti oleh perasaan, keinginan, dan kemelekatan.

Tak ada hal lain yang kuketahui, O para bhikkhu, yang oleh karena hal itu maka nafsu indera yang tadinya belum muncul tidak akan muncul dan nafsu indera yang telah muncul kemudian ditinggalkan sedemikian besar seperti yang disebabkan oleh hal ini: suatu objek yang menjijikkan. Bagi orang yang dengan benar memperhatikan objek yang menjijikkan, maka nafsu indera yang tadinya belum muncul tidak akan muncul dan nafsu indera yang telah muncul akan ditinggalkan.
Contoh:
Melihat tubuh sexy. Sekedar melihat saja. Lalu muncul pengetahuan bagaimana tubuh sexy dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Mendengar orang memukuli seseorang. Tapi sekedar mendengar saja. Lalu muncul pengetahuan bagaimana pembalasan dengan kekerasan dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Mencium bau telur busuk yang dilempari seseorang padanya, Tapi sekedar mencium. Lalu muncul pengetahuan bagaimana pembalasan dengan kekerasan dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Mengecap masakan tak enak, tapi sekedar mengecap. Lalu muncul pengetahuan bagaimana memaki-maki dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Menyentuh tahi secara tak sengaja. Tapi ia sekedar menyentuh. Lalu muncul pengetahuan bagaimana memaki-maki dapat menimbulkan kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, dan mati lagi.
Merenungkan agama-agama yang salah. Tapi ia sekedar merenung. Lalu muncul pengetahuan bagaimana pembuatan ilmu atau peradaban baru dengan disengaja, cuma membawa pada kelahiran kembali, yang mana berarti tua, sakit, mati lagi.
Memperhatikan sesuatu dengan benar = Memperhatikan tanpa membiarkannya diikuti oleh perasaan, keinginan, dan kemelekatan.

Tak ada hal lain yang kuketahui, O para bhikkhu, yang oleh karena hal itu maka keraguan yang tadinya belum muncul kemudian muncul dan keraguan yang telah muncul kemudian meningkat dan bertambah kuat sedemikian besar seperti yang disebabkan oleh hal ini: perhatian yang tidak benar. Bagi orang yang dengan tak benar memperhatikan segala sesuatu, keraguan yang tadinya belum muncul akan muncul dan keraguan yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.
Contoh:
Melihat orang pintar. Tapi tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan, perasaan, keinginannya akan figur yang berbeda, maka ragu jika ia betul-betul pintar.
Mendengar orang pintar.  Tapi tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan, keinginannya akan figur yang berbeda, maka ragu jika ia betul-betul pintar
Mencium aroma enak masakan. Tapi tak sekedar mencium melainkan mencampurkan pencuman dan perasaan, keinginannya akan figur yang berbedamaka merasa dalam makanan ada zat pengawet.
Mengecap rasa enak masakan. Tapi tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan, keinginannya akan figur yang berbeda maka merasa dalam makanan ada zat pengawet.
Menyentuh makanan empuk, Tapi tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan dan perasaan, maka ia merasa makanan itu pasti terlalu manis
Merenungkan orang pintar. Tapi tak sekedar melihat melainkan mencampurkan penglihatan, perasaan, keinginannya akan figur yang berbeda, maka ragu jika ia betul-betul pintar
Memperhatikan sesuatu dengan tak benar = Memperhatikan dengan membiarkannya diikuti oleh perasaan, keinginan, dan kemelekatan.

Tak ada hal lain yang kuketahui, O para bhikkhu, yang oleh karena hal itu maka keraguan yang tadinya belum muncul tidak akan muncul dan keraguan yang telah muncul kemudian ditinggalkan sedemikian besar seperti yang disebabkan oleh hal ini: perhatian yang benar. Bagi orang yang dengan benar memperhatikan segala sesuatu, keraguan yang belum muncul tidak akan muncul dan keraguan yang telah muncul akan ditinggalkan.
Contoh:
Melihat orang pintar. Sekedar melihat saja. Lalu muncul pikiran untuk mengamati saja dulu.
Mendengar orang pintar. Sekedar melihat saja. Lalu muncul pikiran untuk melihatnya dulu.
Mencium aroma enak masakan.Sekedar melihat saja. Lalu muncul pikiran belum tentu ada zat pengawet.
Mengecap rasa enak masakan. Sekedar melihat saja. Lalu muncul pikiran belum tentu ada zat pengawet.
Menyentuh maknana empuk. Sekedar melihat saja. Lalu muncul pikiran belum tentu makanan itu terlalu manis.
Merenung orang pintar, Sekedar merenung saja. Lalu muncul pikiran orang itu memang pintar.
Memperhatikan sesuatu dengan benar = Memperhatikan tanpa membiarkannya diikuti oleh perasaan, keinginan, dan kemelekatan.

Ditulis dalam Kemasyarakatan, Sangha Buddhi | 11 Komentar »

Menjadi Bhikku

Ditulis oleh bharadvaja di/pada Januari 20, 2009

bhikku

Langkah-langkah menjadi Bikkhu:

1. Buddha Vama muncul di dunia saat dunia tak memiliki seorang Buddha. sempurna pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya, Sempurna menempuh Jalan, Pengenal semua alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan yang mulia. Dia menyatakan kepada dunia, termasuk para dewa, mara dan orang-orang suci; kepada para manusia, petapa,brahmana serta para raja, apa yang Ia telah realisasikan dengan pengetahuan langsung (abhinna). Dia mengajarkan Dhamma yang baik pada awalnya, baik pada pertengahannya dan baik pada akhirnya, dengan arti dan kalimat yang benar serta Dia memberitakan sebuah kehidupan suci yang sangat sempurna dan murni.

 2. Seorang perumah tangga atau anaknya dari keluarga tertentu mendengar Dhamma. Setelah mendengar Dhamma, muncul keyakinannya kepada Buddha Vama. Berdasarkan pada keyakinan itu, ia merenung: ‘Kehidupan berumah tangga adalah sibuk dan kotor; kehidupan tak berumah tangga (pabbajja) terbuka lebar. Hidup berumah tangga adalah tak mungkin mempraktikkan kehidupan suci (brahmacari) dengan sempurna seperti bersihnya kulit kerang yang digosok.

3. Ia meninggalkan keberuntungan kecil atau besar, meninggalkan sedikit atau banyak sanak keluarga, ia mencukur kepala dan janggutnya, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan kehidupan duniawi menjadi samana.

4. Setelah meninggalkan kehidupan dunia menjadi samana dan memiliki pandangan dan latihan (sikkha) kebhikkhuan, meninggalkan pembunuhan makhluk hidup, pemukul dan senjata ditinggalkan, dengan lembut dan sayang ia hidup dengan mengasihi semua makhluk hidup.

5. Dengan memiliki ariya sila, ia merasakan dalam dirinya kebahagiaan yang tak tercela. Ia menjadi orang yang melihat bentuk melalui matanya, menyadari tanpa bayangan dan keistimewaan, bila ia membiarkan matanya tak terjaga, maka akusala dhamma seperti keserakahan dan pikiran jahat akan menyerangnya. Ia menjaga indera mata, ia menahan diri dengan indera mata. Sewaktu mendengar dengan telinga …. sewaktu mencium dengan hidungnya … sewaktu mengecap dengan lidahnya … sewaktu menyentuh dengan badannya … sewaktu mengerti Dhamma dengan pikirannya … ia menahan diri dengan indera pikiran. Dengan memiliki ariya sila, ia merasakan dalam dirinya kebahagiaan yang tak tercela.”

6. Ia meninggalkan keserakahan duniawi (abhijjha loka), ia hidup dengan pikiran yang bebas dari keserakahan, ia menyucikan pikiran dari keserakahan. Ia meninggalkan kebencian dan dendam (byapadapadosa), ia hidup tanpa pikiran membenci, mengharapkan kesejahteraan semua makhluk ia membebaskan pikiran dari benci dan dendam. Ia meninggalkan kelesuan dan rasa ngantuk (thinamiddha), ia hidup tanpa kelesuan dan ngantuk, menyadari sinar, berkesadaran penuh, ia membebaskan pikiran dari kelesuan dan ngantuk. Ia meninggaikan rasa takut dan kekhawatiran (uddhaccakukkucca), ia hidup tanpa rasa takut dan kekhawatiran, ia membebaskan pikiran dari rasa takut dan cemas. Ia meninggalkan keragu-raguan (vicikiccha), ia hidup tanpa keragu-raguan dan tidak meragukan kusala dhamma, ia membebaskan pikiran dari keragu-raguan.

7. Setelah meninggalkan lima rintangan (pancanivarana), pikiran kurang sempurna yang melemahkan kebijaksanaan, cukup dapat menahan diri dari nafsu indera, dapat menjauhi diri dari akusala dhamma ia mencapai dan berada dalam Jhana I yang diikuti oleh ‘usaha pikiran untuk menangkap obyek’ (vitakka) dan ‘pikiran telah menangkap obyek’ (vicara), kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) yang muncul karena ketenangan (viveka).

8. Selanjutnya dengan meninggalkan kebahagiaan (sukha) dan penderitaan (dukkha), dengan menghilangkan pikiran senang maupun pikiran tidak senang, ia mencapai dan berada dalam Jhana IV, yang tanpa sukha dan tanpa dukkha serta sati dan upekha yang suci. Ia mencapai tingkat dewa.

9. Selanjutnya dengan berpegang pada Metta, Karuna, Mudita, Upekkha, ia mencapai tingkat Brahma.

10. Selanjutnya ia mencapai tingkat V-VIII, ia mencapai tingkat tak berbentuk.

11. Selanjutnya dengan pikiran seimbang dan suci, ia menyadari kelahiran-kelahiran dirinya sebelumnya.

12. Ketika pikiran yang terkonsentrasi telah dimurnikan … dan mendapat ketenangan, ia mengarahkan dan mencondongkan pikirannya pada pengetahuan melenyapkan kekotoran batin. Ia mengerti sebagaimana apa adanya: “Inilah dukkha”.  Ia mengerti sebagaimana apa adanya: Inilah jalan menuju penghentian Dukkha.

Ditulis dalam Kemasyarakatan, Sangha Buddhi | 2 Komentar »