Sang Bhagava berkata: “Para bhikkhu, saya akan mengajarkan dasar metode semua dhamma, dengarkan, perhatikan dengan seksama, saya akan bicara.”
“Ya, bhante,” jawab para bhikkhu menyetujuinya.
Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai tanah; karena mengetahui dengan baik tentang tanah sebagai tanah, maka ia tidak memikirkan tentang tanah, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan tanah; ia tidak memikirkan dirinya sebagai tanah; ia tidak berpikir ‘aku tanah’, ia tidak gembira dalam tanah. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang pathavi sebagai pathavi; karena mengetahui dengan baik tentang pathavi sebagai air, maka ia tidak memikirkan tentang air, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan air; ia tidak memikirkan dirinya sebagai air; ia tidak berpikir ‘aku air’, ia tidak gembira dalam air. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang api sebagai api; karena mengetahui dengan baik tentang api sebagai api, maka ia tidak memikirkan tentang api, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan api; ia tidak memikirkan dirinya sebagai api; ia tidak berpikir ‘aku api’, ia tidak gembira dalam api. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang udara sebagai udara; karena mengetahui dengan baik tentang udara sebagai udara, maka ia tidak memikirkan tentang udara, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan udara; ia tidak memikirkan dirinya sebagai udara; ia tidak berpikir ‘aku udara’, ia tidak gembira dalam udara. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Para bhikkhu, bagaimana pun seorang bhikkkhu siswa (sekha), yang belum mencapai kesempurnaan (appattamanasa), yang masih berusaha untuk mencapai pembebasan tertinggi (anuttara) dari ikatan, mengerti dengan baik tentang nibbana sebagai nibbana; karena mengetahui dengan baik tentang nibbana sebagai nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai nibbana; ia tidak berpikir ‘aku nibbana’, ia tidak gembira dalam nibbana. Mengapa begitu? Saya nyatakan bahwa hal itu ia telah mengerti dengan baik.
Para bhikkhu, juga Tathagata Arahat Sammasambuddha mengerti dengan baik tentang ‘Nibbana’ sebagai Nibbana; karena mengerti dengan baik mengenai Nibbana sebagai Nibbana, maka ia tidak memikirkan tentang Nibbana, ia tidak memikirkan (dirinya) berhubungan dengan Nibbana; ia tidak memikirkan dirinya sebagai Nibbana; ia tidak berpikir ‘Nibbana milikku’, ia tidak gembira dalam Nibbana. Mengapa begitu? Karena ia telah mengetahui dengan baik bahwa ‘kenikmatan (nandi) dasarnya adalah pada dukkha’, mengetahui bahwa karena adanya ‘menjadi’ (bhava) maka terjadilah ‘kelahiran’ (jati), maka muncullah ‘usia tua dan kematian’ (jaramarana) makhluk.
Para bhikkhu itulah sebabnya maka saya nyatakan bahwa Tathagata karena telah melenyapkan, terbebas dan melenyapkan semua keinginan; Keinginan untuk bernafsu indra (kamatanha), keinginan untuk menjadi (bhavatanha), keinginan untuk tak menjadi (vibhavatanha). Tatagatha tanpa nafsu (viraga), sempurna kesadarannya dengan mencapai ‘penerangan agung tertinggi’ (anuttaram sammasambodhi).
“Para bhikkhu, pada suatu ketika aku sedang berdiam di Ukkattha di Hutan Subhaga di akar pohon sala kerajaan. Pada saat itu, suatu pandangan yang merusak telah muncul pada Brahma Baka demikian: “Ini adalah permanen, ini adalah abadi, ini adalah kekal, ini adalah total, ini tidak terkena kelenyapan; ini bukannya terlahir ataupun bertambah tua atau mati atau lenyap atau muncul kembali, dan di luar ini tidak ada jalan keluar.
“Dengan pikiranku aku mengetahui pemikiran di pikiran Brahma Baka, maka secepat seorang laki-laki yang kuat meluruskan tangannya yang tertekuk atau menekuk tangannya yang lurus, aku lenyap dari akar pohon sala kerajaan di Hutan Subhaga di Ukkattha dan muncul di alam-Brahma. Brahma Baka melihatku datang dari jauh, dan berkata: ‘Datanglah, tuan yang baik! Selamat datang, tuan yang baik! Sudah lama, tuan yang baik, sejak engkau memiliki kesempatan untuk datang ke sini. Tuan yang baik, ini adalah permanen, ini adalah abadi,ini adalah kekal, ini adalah total, ini tidak terkena kelenyapan; ini bukannya terlahir ataupun menjadi tua atau mati atau meninggal atau muncul kembali, dan di luar ini tidak ada jalan keluar.’
“Ketika hal ini dikatakan, aku memberitahu Brahma Baka, ‘Brahma Baka yang terhormat telah tergelincir ke dalam kebodohan; dia telah tergelincir ke dalam kebodohan karena sesuatu yang tidak permanen dikatakan permanen, yang berubah dikatakan abadi, yang tidak-kekal dikatakan kekal, yang tidak lengkap dikatakan total, yang terkena kelenyapan dikatakan tidak terkena kelenyapan, yang terlahir, menjadi tua, mati, lenyap atau muncul kembali dikatakan bukannya terlahir ataupun menjadi tua atau mati atau lenyap atau muncul kembali, dan ketika ada jalan keluar di luar ini, dia mengatakan bahwa tidak ada jalan keluar di luar ini.’
“’Tuan yang baik, seberapa jauhnya engkau memahami jangkauan dan kekuasaanku yang meluas?’
“Sejauh rembulan dan matahari berputar Bersinar dan menerangi semua sudut, Sejauh seribu-kali dunia seperti itulah Kedaulatan meluas. Brahma, aku memahami jangkauan dan kekuasaanmu yang meluas demikian: Brahma Baka mempunyai kekuasaan sebanyak ini, kekuatan sebanyak ini, pemgaruh sebanyak ini.
“’Brahma, setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, dan setelah secara langsung mengetahui apa yang tidak sepadan dengan ke-tanah-an tanah, aku tidak menyatakan menjadi tanah, aku tidak meyatakan berada di dalam tanah, aku tidak meyatakan terpisah dari tanah, aku tidak menyatakan tanah sebagai “milikku”, aku tidak menegaskan tanah. Demikianlah, Brahma, mengenai pengetahuan langsung, aku tidak hanya berdiri di tingkat yang sama denganmu, maka bagaimana bisa aku mengetahui lebih sedikit? Justru, aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.
“’Brahma, setelah secara langsung mengetahui air sebagai air… api sebagai api… udara sebagai udara…makhluk-makhluk sebagai makhluk-makhluk…dewa-dewa sebagai dewa-dewa…Pajapati sebagai Pajapati…Brahma sebagai Brahma…dewa-dewa Cahaya yang Mengalir sebagai dewa-dewa Cahaya yang Mengalir…dewa-dewa Keagungan Cemerlang sebagai dewa-dewa Keagungan Cemerlang, dewa-dewa Buah Besar sebagai dewa-dewa Buah Besar…Maha raja sebagai Maharaja…segalanya sebagai segalanya, dan setelah secara langsung mengetahui bahwa apa yang tidak sepadan dengan ke-segala-an dari segalanya, aku tidak menyatakan menjadi segalanya, aku tidak menyatakan berada di dalam segalanya, aku tidak menyatakan terpisah dari segalanya, aku tidak meyatakan segalanya sebagai “milikku”, aku tidak menegaskan segalanya. Demikianlah, Brahma,mengenai pengetahuan langsung, aku tidak hanya berdiri di tingkat yang sama denganmu, maka bagaimana bisa kau mengatahui lebih banyak? Justru, aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.’
“’Tuan yang baik, [jika engkau menyatakan mengetahui secara langsung] apa yang tidak sepadan dengan ke-segala-an dari segalanya, semoga pernyataanmu bukannya sia-sia dan kosong! “’Tuan yang baik, saya akan menghilang dari engkau.’
“’Menghilanglah dariku jika engkau bisa, Brahma.’
“Kemudian Brahma Baka berkata:’ Aku akan menghilang dari petapa Gotama, aku akan menghilang dari petapa Gotama,’ tetapi dia tidak bisa menghilang. Karena itu, aku berkata: ‘Brahma, aku akan menghilang dari engkau.’
“Menghilanglah dariku jika engkau bisa, tuan yang baik.’
“Maka aku pun mempertunjukkan kekuatan supra-normal yang sedemikian sehingga Brahma dan kelompok Brahma dan anggota-anggota Kelompok Brahma dapat mendengar suaraku tetapi tidak dapat melihatku. Setelah aku menghilang, aku mengucapkan bait ini:
“Setelah melihat ketakutan di dalam setiap jenis dumadi
Dan di dalam pencarian tanpa-dumadi,
Aku tidak menegaskan jenis dumadi apa pun,
Tidak juga aku melekat pada sukacita [di dalam dumadi].
“Pada waktu itu, Brahma dan kelompok Brahma dan anggota-anggota Brahma terpukul dengan rasa heran dan kagum. Mereka berkata: ‘Sungguh luar biasa, para tuan, sungguh hebat, kekutan yang besar dan kehebatan yang luar biasa dari petapa Gotama! Sebelum ini, belum pernah melihat atau mendengar ada petapa atau Brahmana yang mempunyai kekuasaan yang besar dan kekuatan yang luar biasa seperti petapa Gotama ini, yang telah pergi meninggalkan keduniawian dari suku Sakya.
Komentar Vamabuddha:
Orang yang berpaham Brahmanism/keberadaan masih kalah melawan orang yang berpaham ketiadaan.
