Kenapa Saya Menjadi Buddhist
Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 14, 2009

(Lanjutan tulisan “17 Alasan Kenapa Kami Meninggalkan Islam“)
Buddha menemukan bahwa dunia tak lepas dari tiga kondisi, Anatta, Anicca, Dukkha.
Anatta berarti tak ada inti atau master kekuatan yang mengatur segalanya, karena semua cuma rentetan kejadian berdasar hukum kamma. hukum perbuatan sebab-akibat.
Karena itu satu makhluk tak mempunyai kekuatan untuk memilih atau free will. Kata “pilihan” atau “pilihan hidup” cuma digunakan oleh makhluk yang belum tercerahkan. Karena setiap pilihan adalah bukan kepunyaannya melainkan hasil potensi makhluk itu sendiri. “Potensi”, “potensi alam”, atau “potensi otak/pikiran” juga bukan tersedia begitu saja. Melainkan juga hasil dari menimbun kamma-kamma di masalalu.
Setiap pilihan selalu berujung pada keputusan. Seseorang cuma bisa melihat adanya pilihan, tapi ia tak pernah bisa memilih atau tak pernah betul-betul punya “pilihanku” atau “keputusanku”.
Yang disebut “memilih” tak betul-betul ada, karena yang ada cuma “mengambil buah kamma”.
Yang disebut “memutuskan” tak betul-betul ada, karena yang ada cuma “berpikir tepat”.
Karena itulah di dunia tak ada yang disebut “pilihanku” atau “keputusanku”. Yang ada cuma “pengambilan” dan “pemikiran tepat”.
“Memilih” cuma terbukti ada jika satu makhluk bisa membuat dua jawaban untuk satu pertanyaan. Meski ia berkata, “ooo ada 2 jawaban untuk itu” maka dengan mengatakan itu, itu adalah 1 jawaban. Karena itulah, “pilihan” tak pernah ada di dunia.
“Memutuskan” cuma ada jika tak ada data. Tapi karena pikiran selalu menyimpan data dari pengalaman terdahulu maka itu bukanlah memutuskan tapi mengambil. Karena itulah “keputusan” tak pernah ada di dunia ini.
Lebih lanjut lagi, deskripsi singkat dari Anatta adalah, kondisi dimana satu makhluk tak bisa berkata, “biarlah aku menjadi begini begitu..”, “Tuhan akan membuat begini begitu…”, “pikiran akan membuat begini begitu…”,”hal ini akan membuat begini begitu…”
Seseorang bisa menjadi begini begitu karena ada buah kamma untuk itu, bukan karena ia berkehendak.
Seseorang tak berani berkata “Tuhan akan membuat begini begitu…” cuma berani berkata “semoga…”
Pikiran tak bisa menjadikan ini itu karena pikiran cuma mentransfer buah-buah kamma untuk dijadikan ini itu.
Uang tak bisa dipastikan menjadi ini itu, karena masih tergantung fluktuasi ekonomi. Karir tak bisa dipastikan mengangkat derajat orang karena tergantung politik sosial ekonomi budaya.
Kondisi tanpa diri yang disebut di atas menampilkan satu fakta bahwa semua hal cuma sementara diakibatkan bentuknya yang selalu terkondisi dan mengkondisikan.
Kondisi tak tetap itulah yang membawa penderitaan bagi orang-orang yang menginginkan untuk hidup atau untuk mati.
Kenyataan dunia yang sudah dilihat oleh Buddha itu lalu ditemukan jalan keluarnya, yaitu dengan memasuki 9 fase meditasi, di mana di fase terakhir ditemukan kenyataan pembebasan, yaitu: saat dimana makhluk sudah hilang bodoh, tamak, dan bencinya, sehingga hilang pula gairah, hasrat, nafsu, yang selalu mewujudkan keinginan itu. Saat 3 akar keinginan lenyap, disitulah ditemukan kedamaian tanpa stimulasi. Yaitu Nibbana. “manusia jika ingin bahagia selalu perlu stimulasi fisik atau mental untuk itu. Tatagatha mampu mencapai kebahagiaan tanpa stimulasi” – Buddha. Karena itulah Nibbana disebut “sesuatu yang tak dilahirkan dan tak melahirkan” – Udana III.
Karena semua makhluk memerlukan dualitas untuk mengukur skala kebenaran yang sebenarnya, maka terjadilah proses pertumbuhan, yang disebut lahir, tua, sakit, mati. Proses pertumbuhan ini terjadi berulang-ulang melalui kejadian kelahiran kembali mental yang menghasilkan kelahiran fisik berikutnya.
Jadi, setiap makhluk memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menjadi sesuai pola pikirannya yang terbentuk akibat pola kamma/kegiatannya. Hidup satu hari, 100 hari, 1000 hari, sama saja bagi orang yang sudah mengerti, karena kultivasi mental akan terjadi berulang-ulang selama bahannya, yaitu kamma masih ada. Jadi, pengejaran akan kemudaan dan umur panjang samasekali tak relevan dalam
pembelajaran buddhism, karena waktu tak terbatas bagi seorang manusia untuk mengejar ketinggalannya. Karena itulah dalam agama buddhi berlaku pepatah “belajarlah bukan cuma sampai ke kuburan,tapi sampai kamu menjadi Buddha”.
Untuk mencapai Nibbana, diperlukan kendaraan, yang bernama Meditasi. Inilah yang disebut rakit oleh Shakhyamunibuddha.
Di dalam meditasi inilah tersimpan semua pengalaman pikiran yang terlatih, yang disebut oleh Einstein sebagai “agama yang merupakan kesatuan terpadu antara pengalaman dunia dan religious”. Dimana boosternya adalah sebuah latihan pemacu fisik dan mental, yang disebut Vipassana Bhavana (pengembangan mental untuk pencerahan/nana), dimana latihan ini akan memurnikan pikiran sampai 7 kali putaran:
1. Pemurnian prilaku.
2. Pemurnian pikiran.
3. Pemurnian pandangan.
4. Pemurnian atas keraguan.
5. Pemurnian untuk tahu apa jalan dan apa bukan jalan.
6. Pemurnian untuk tetap pada Jalan (the way- tao – dhamma).
7. Pemurnian untuk kebijakan.
Seorang non-buddhist bisa mencapai meditasi sampai level 8, tapi cuma seorang buddhist yang bisa mencapai level akhir, yaitu level 9 (sannavedayitanirodha/lenyapnya persepsi dan perasaan) sebagai gerbang Nibbana. Jadi, jika ada yang bilang seorang buddhist itu tak ada perasaan itu salah__karena masih punya perasaan netral, tapi jika ia bilang seorang Buddha tak ada perasaan itu benar.
Kenapa cuma seorang buddhist yang bisa mencapai level 9, atau cuma seorang buddhist yang bisa menjadi Buddha? Karen level 1-8 boosternya adalah Vipassana level 1-3 saja, sedang level 9 membutuhkan tambahan booster vipassana level akhir, yaitu “Dhammanupasssana: Perhatian penuh pada agama”. Dhammanupassana ini di dalamnya terkandung doktrin-doktrin buddhism, yaitu:
a. 5 jenis rintangan meditasi (nivarana)
b. 5 kelompok tubuh (khanda)
c. 6 Landasan indra (ayatana)
d. 7 faktor pencerahan (Bojjhanga)
e. 4 kebenaran mulia, kebenaran terakhir berisi doktrin 8 ruas jalan mulia (ariya sacca)
Tak ada meditasi tanpa konsentrasi (samadhi), karena itulah tujuan Vipassana Bhavana juga untuk membangkitkan konsentrasi (karena tanpa konsentrasi tak ada kebijakan. “jika terus berpikir aku bisa capek, jika capek aku gak konsentrasi. gak ada konsentrasi gak muncul kebijakan” – buddha di dvhedhavitakka sutta):
1. Khanika samadhi: konsentrasi sekejap, yaitu pikiran terpusat pada obyek tidak lama, hanya sekejap
2. Upacara samadhi: Konsentrasi kearah masuk, yaitu pikiran telah terpusat pada obyek, tetapi belum kuat
3. Appana samadhi: Konsentrasi yang pandai, yaitu pikiran telah terpusat pada obyek dengan kuat.
Di Appana Samadhi inilah yang disebut Jhana/meditasi level 1.
Meditasi (pali = jhana, sankrit = dhyana) itu sendiri dibangun dalam mental berdasarkan asas-asas yang berlaku pada sebuah latihan fisik-mental yang disebut “Samatha Bhavana/pengembangan mental untuk ketenangan)”,yang terdiri dari 9 tahap/level:
Meditasi 1: Vitakka, Vicara, Piti, Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 2: Piti, Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 3: Sukkha, Ekagatta.
Meditasi 4: Ekagatta.
Meditasi 5: Dasar Alam Tak Terbatas.
Meditasi 6: Dasar Kesadaran Tak Terbatas.
Meditasi 7: Dasar Ketiadaan.
Meditasi 8: Dasar Dari Bukan Persepsi Bukan Pula Non-Persepsi.
Final Meditasi: Lenyapnya Persepsi dan Harapan.
Itulah 9 tahap evolusi makhluk, dimana saat menjadi dewa adalah di level 4 (brahma jika punya cinta, kasih, empati, dan balans), saat menjadi alien di level 4-6, dan mahabrahma di level 7-8, sedang evolusi tertinggi atu makhluk adalah saat ia menjadi Buddha. Jadi bukan saat ia sok cuek, sok atheist, dan malas belajar dengan alasan “kita semua kan bagian keberadaan”, “semua itu sudah indah”, lalu lahir lagi dengan sama begonya).
Saya sudah sering membahas dan mengajarkan Vipassana Bhavana, Samatha Bhavana, dan Dhyana. Jadi kali ini saya bahas saja 8 ruas jalan mulia yang dikatakan Sang Buddha sebagai jalan ke Nibbana.
Banyak buddhist yang mengira, mentang-mentang namanya “pekerjaan baik” lalu bukanlah meditasi. Itu salah, karena soal “pekerjan baik” ini bukan cuma dikerjakan oleh para non-meditator, tapi juga dikerjakan oleh para meditator dalam bentuk perhatian tepat pada agama, atau Dhammanupassana.
Jadi, salah sekali jika ada “buddhist-buddhist” yang berkata, 8 ruas jalan mulia tak perlu. Karena itu pun meditasi juga. Daftarnya bisa dilihat di:
http://mahavatar.wordpress.com/kebenaran/
Saat seseorang mempraktekkan Pandangan Benar:
Ia berhenti menjadi sesuatu dan langsung bekerja sesuai prinsip-prinsip taoisme (tao te ching) dan buddhism (“saat aktifitas ini, ya aktifitas ini” – bahiya sutta, sebagian kecil ajaran zen_tapi orang zen memahaminya secara salah)
Saat seseorang mempraktekkan Pikiran Benar:
Ia berhenti mengisi otaknya dengan hal tak berguna, karena ia tak mau nanti selalu berdengung di bawahsadarnya padahal tak ada kaitan dengan pembebasan. misalnya lagu-lagu dan ajaran/agama salah.
Saat seseorang mempraktekkan Ucapan Benar:
Ia berhenti banyak bicara atau cerewet. “jika tak tahu saatnya belajar dulu. jika tahu jangan sok.” – Lao Tze.
Saat seseorang mempraktekkan Perbuatan Benar:
Ia berhenti berkompetisi dengan orang lain atau berusaha orang lain celaka atau malu.
Nilai Buddhism bukan pada kemenangan duniawi dan bukanpula pada kemenangan akhirat. Melainkan pada kultivasi pikiran.
Di tengah kesuksesan anda atau kemiskinan atau penderitaan anda, apa yang sedang berlangsung di otak anda itulah yang akan Kami lihat dan tinjau.
Jadi tak ada gunanya seseorang berkata, “jika kalian tak punya usaha wiraswasta sendiri seperti saya tak ada gunanya koar-koar di internet.”
Bukan berapa banyak harta yang anda dapat atau anda hamburkan yang cocok jadi pembicaraan kelas tinggi, tapi bagaimana anda menempatkan diri anda pada kondisi-kondisi tertentu agar menjadi Buddha. Jika 1 milyar perlu dihamburkan agar Anda jadi Buddha maka hamburkan, jika cuma 100 ribu gaji yang anda perlukan untuk jadi Buddha maka kerjalah seperti itu.
http://bharadvaja.wordpress.com/2008/08/31/mencari-kondisi-yang-tepat-untuk-menjadi-buddha/
Saat seseorang mempraktekkan Penghidupan Benar:
Ia akan berhenti merazia rumahmakan di saat sekelompok masyarakat sedang menyelenggarakan acara puas yang salah jadwal sahur dan bukanya.
Dan ia akan berhenti korupsi, kolusi, dan nepotism seperti yang biasa dilakukan orang-orang seagamanya.
Saat seseorang mempraktekkan Usaha Benar:
Ia akan berhenti jadi motivator dan menjual buku-buku spiritulalit, dan fokus dulu untuk pindah ke agama yang benar.
Saat seseorang mempraktekkan Perhatian Benar:
Ia akan berhenti bertapa atau beryoga, dan mulai bervipassana bhavana.
Saat seseorang mempraktekkan Konsentrasi Benar:
Ia akan berhenti lihat kiri-kanan, misal lihat cewek mulus. Ia berhenti lihat keluar (melihat tanpa kesadaran) dan mulai lihat ke dalam (melihat dengan kesadaran)