Pilih Jadi Puthujana Atau Bhikkhu?
Ditulis oleh bharadvaja di/pada November 28, 2009
Tak jarang ummat Buddha yang mengalami kebimbangan, bingung menentukan pilihan hidup, apakah mau hidup berumah-tangga, atau menjadi Bhikkhu ? Dari kebimbangan itu, ada pula yang mempunyai solusi alternative, yaitu, menempuh kehidupan selibat ( tidak menikah dan berkeluarga ) namun tidak bergabung menjadi anggota Sangha.
Haruskah menjadi Bhikkhu ? Burukkah menjadi sekedar “ummat-awam” ? Bermanfaatkah menempuh hidup ke-Bhikkhu-an ?
Menjadi seorang Bhikkhu memang merupakan sebuah karma baik,bahkan bisa disebut sebagai “hal-terbaik” bagi seorang ummat Buddha, sebab menjadi Bhikkhu adalah hal bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi semua ummat manusia.
Akan tetapi, seseorang tidak dapat memaksakan diri menjadi Bhikkhu, jika itu belum menjadi buah karmanya. Sebab, bila ia memaksakan dirinya, maka, secara mental ia tidak akan “tahan” dalam menjalani hidup ke-Bhikkhu-an yang penuh dengan aturan-aturan ( vinaya ) yang sangat ketat, yang bertolak belakang dengan kehidupan sebagai ummat awam / perumah-tangga.
Sehingga, seorang ummat Buddha tidak perlu malu-malu untuk hidup sebagai ummat awam jika memang karma dan buah karmanya belum matang untuk kesana. Sebaliknya, seseorang yang sudah masak buah karmanya, tidak pula dapat dihalang-halangi tekadnya untuk menjadi Bhikkhu atau mencapai kesempurnaan. Pangeran Siddhatta Gotama, karena telah masaknya kesempurnaan yang beliau pupuk sejak empat (4) Asankheyya dan seratus ribu ( 100.000 ) Kappa yang lampau, tidak dapat dicegah oleh keluarganya saat beliau hendak pergi meninggalkan istana, tahta, harta, istri, selir-selir, dan semua kemewahan yang beliau miliki saat itu, demi merealisasi ke-Buddha-an.
Kalo sedang terkenal gak mau jadi bhikku, karena mau berorganisasi dulu.
Kalo sedang hina gak mau jadi bhikku, karena mau jadi ‘orang’ dulu.
Kalo sedang miskin gak mau jadi bhikku, karena mau kaya dulu.
Kalo sedang kaya gak mau jadi bhikku, karena masih kaya.
Kalo sedang sendiri gak mau jadi bhikku, karena ingin punya pacar/istri dulu.
Kalo sudah berkawan gak mau jadi bhikku, karena masih sibuk ngurus istri.
Kalo sedang terganggu gak mau jadi bhikku, karena nyaman saja belum gimana mau vipassana.
Kalo sudah nyaman gak mau jadi bhikku, karena sudah punya tv kabel, rumah mewah, uang banyak, cewek-cewek cantik, dsb.
Dalam peraturan Agama Buddha, seseorang yang belum berumur 16 tahun harus meminta izin ortu dulu sebelum jadi Bhikku. Tapi jika sudah lewat 16 tahun tak perlu minta izin. Peraturan ini dibuat Buddha, sejak Buddha mentahbiskan Rahula sebagai bhikku, lalu membuat Raja Sudhodana sedih, dan meminta Buddha agar membuat peraturan bagi anak di bawah 16 tahun hendaknya perlu izin ortu dulu.
Kembali ke soal tadi. Perlu atau tak menjadi bhikku?
Jawabannya: Tergantung matangnya buah kamma.
Sebenarnya orang beragama itu bukanlah soal keinginan, tapi soal buah kamma. Dulu Saya pernah berkata, semua orang pernah merasa neraka. Karena orang cuma bisa ke surga jika sudah pernah merasa neraka. Begitupula orang cuma mau benar jika sudah pernah salah.
Jika memang orang beragama itu karena keinginan, tentu dari dulu kita sudah langsung ke agama Islam, Hindu, Buddha, dsb. Tapi kenapa harus lahir berkali-kali. Kadang-kadang sebagai kristen, lalu sebagai Hindu, lalu sebagai, Buddhist? Ini semua karena perjalanan mental membutuhkan kamma-kamma yang sesuai untuk bisa mendapatkan keinginan yang dikehendaki.
