Buddhism Bar

Perpustakaan buddhism.

Upadana dan Akibatnya

Posted by Lord Bharadvaja pada November 28, 2009

 

Apa yang disebut fenomena saat ini adalah apa yang terjadi pada salah satu dari enam pintu indera pada saat ini juga. Hal itu belum tercemar, ibarat sehelai kain yang baru atau selembar kertas kosong. Jika anda cukup cepat mencatatnya begitu hal itu muncul, hal itu tidak akan tercemar. Jika anda gagal mencatatnya, hal itu menjadi tercemar. Sekali tercemar, hal itu tidak dapat dibersihkan. Jika anda gagal mencatat mental dan jasmani pada saat kemunculannya, upādāna selalu ikut campur – upādāna dengan nafsu indera, dengan pandangan salah, dengan upacara dan ritual, atau dengan ego. Apa yang terjadi saat upādāna muncul?

“Terkondisi oleh upādāna, muncullah penjadian (bhava). Terkondisi oleh penjadian, muncullah kelahiran (jāti). Terkondisi oleh kelahiran, muncullah usia tua (jarā), kematian (marana), kesedihan (soka), ratap tangis (parideva), sakit (dukkha), bersedih hati (domanassa) dan putus asa (upāyāsā). Sehingga muncullah seluruh jenis penderitaan.” (M.i.266)

Upādāna bukanlah hal yang sepele. Hal ini adalah penyebab utama perbuatan baik dan buruk. Seseorang yang diliputi upādāna, berjuang untuk mendapatkan apa yang ia percaya adalah suatu hal yang baik. Setiap orang melakukan apa yang ia pikir baik. Apa yang membuat ia berpikir bahwa hal itu adalah baik? Upādāna. Orang lain mungkin berpikir bahwa hal itu buruk, tetapi bagi si pelaku hal itu adalah baik. Jika ia berpikir hal itu tidak baik, ia tidak akan melakukannya. Ada suatu ucapan yang berharga dalam salah satu ukiran prasasti Raja Asoka, “Seseorang berpikir baik tentang perbuatannya. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang perbuatannya.” Seorang pencuri mencuri karena tampaknya mencuri itu baik bagi dia. Seorang perampok merampok karena tampaknya merampok itu bagus. Seorang pembunuh berpikir bahwa membunuh adalah baik. Pangeran Ajātasattu berpikir adalah baik untuk membunuh ayahnya sendiri, Raja Bimbisāra. Devadatta mencoba membunuh Sang Buddha, karena ia berpikir hal itu adalah baik. Seseorang yang meminum racun untuk bunuh diri melakukannya karena ia berpikir hal itu adalah baik. Ngengat bergegas menuju cahaya api pelita karena berpikir hal itu adalah sesuatu yang sangat baik. Semua makhluk hidup melakukan apa yang mereka perbuat karena mereka berpikir hal itu adalah baik untuk dilakukan. Berpikir bahwa hal itu baik adalah upādāna. Sekali anda benar-benar mencengkeram (upādāna) pada suatu ide, anda melakukan perbuatan. Apakah hasilnya? Hasilnya adalah perbuatan baik dan buruk.

Adalah baik menahan diri supaya tidak menyebabkan penderitaan bagi makhluk lain. Adalah perbuatan baik untuk memberikan bantuan kepada orang lain. Adalah pebuatan baik untuk berdana atau memberikan penghormatan kepada orang yang pantas dihormati. Perbuatan baik mendatangkan kedamaian mental, usia panjang, dan kesehatan yang baik dalam kehidupan ini juga. Hal itu akan memberikan manfaat yang baik dalam kehidupan-kehidupan berikutnya juga. Upādāna yang demikian adalah upādāna yang benar. Orang-orang yang mencengkeram pada perbuatan baik membuat karma baik melalui pemberian dana dan menjalankan sīla. Apakah hasilnya? “Terkondisi oleh penjadian, muncullah kelahiran.” Setelah meninggal, mereka akan terlahir kembali sebagai manusia atau dewa. Jika terlahir sebagai manusia, mereka akan menikmati usia panjang, kecantikan, kesehatan, status, banyak teman, dan kekayaan. Anda dapat menyebut mereka “orang yang bahagia”. Sebagai dewa, mereka akan memiliki banyak pengikut dan tinggal di istana yang megah. Mereka telah tercengkeram oleh pemikiran kebahagiaan, dan dalam arti duniawi mereka dapat disebut berbahagia.

Namun dalam arti yang tertinggi, manusia-manusia bahagia dan dewa-dewa ini tidaklah bebas dari penderitaan. “Terkondisi oleh kelahiran, muncullah usia tua dan kematian.” Walaupun mereka terlahir sebagai manusia yang bahagia, mereka akan menjadi tua. Lihatlah para orang tua yang bahagia di dunia ini. Saat mereka melampaui usia tujuh puluh atau delapan puluh tahun, segalanya menjadi penderitaan bagi mereka. Rambut beruban, gigi yang ompong, penglihatan yang lemah, pendengaran yang kurang baik, tubuh yang bungkuk, kulit yang keriput, kekuatan yang melemah – mereka menjadi tidak bisa apa-apa lagi. Walaupun memiliki kekayaan dan nama baik, dapatkah orang-orang tua seperti itu bahagia? Mereka menderita akibat usia tua. Mereka tidak dapat tidur nyenyak, mereka tidak dapat makan dengan lahap, mereka kesulitan untuk duduk dan bangun. Akhirnya, mereka harus menghadapi kematian. Bahkan orang kaya, raja, atau penguasa suatu saat harus mati. Kemudian ia tidak memiliki apa-apa lagi yang dapat ia andalkan. Teman-teman dan saudara mengelilinginya, tetapi ia hanya berbaring di ranjangnya, menutup matanya, dan meninggal. Pada saat kematian ia pergi untuk memulai kehidupan berikutnya sendirian. Ia pasti merasa berat meninggalkan segala kekayaannya. Jika ia belum melakukan cukup banyak perbuatan baik, ia akan khawatir tentang nasibnya.

Dewa-dewa yang agung juga harus meninggal seperti ini. Satu minggu sebelum kematiannya, lima pertanda muncul pada diri mereka. Bunga-bunga yang menghiasi mereka mulai layu, pakaian mereka mulai menjadi usang, keringat muncul dari ketiak mereka, tubuh mereka mulai kelihatan tua, dan mereka menjadi tidak puas lagi dengan kehidupan mereka. Ketika lima pertanda ini muncul, mereka segera menyadari bahwa kematian segera menghampirinya, dan menjadi sangat cemas.

Pada jaman sang Buddha, Sakka (raja dari alam dewa Tāvatimsa) melihat tanda-tanda ini muncul. Sangat cemas, menyadari bahwa ia akan segera meninggal, ia pergi menemui sang Buddha untuk meminta nasehat. Sang Buddha mengajarinya Dhamma dan ia menjadi seorang pemenang arus (sotāpanna). Setelah ia meninggal, ia terlahir kembali menjadi raja Tāvatimsa. Ia beruntung bisa bertemu sang Buddha, kalau tidak hasilnya tentu akan celaka.

Tidak hanya usia tua dan kematian, tetapi juga kesedihan, ratap tangis, sakit, ketidakbahagiaan, dan putus asa muncul akibat kelahiran. Jadi bahkan kehidupan yang beruntung akibat dari upādāna pada akhirnya merupakan penderitaan yang mengerikan. Manusia, dan bahkan dewa, harus menderita. Jika suatu kehidupan yang beruntung sebagai akibat dari perbuatan baik adalah penderitaan, apakah lebih baik tidak melakukan perbuatan baik? Tidak, bukan demikian. Jika kita tidak melakukan perbuatan baik, kita akan melakukan perbuatan buruk, yang akan membawa kita ke neraka, atau kelahiran kembali sebagai binatang atau setan. Penderitaan di alam rendah (apāya) ini jauh lebih parah. Kehidupan manusia atau dewa adalah penderitaan bila dibandingkan dengan kebahagiaan nibbāna, tetapi dibandingkan dengan penderitaan di alam-alam rendah, hal ini adalah keberuntungan dan kebahagiaan.

Fundamentals of Insight Meditation
Pengarang: Mahasi Sayadaw
Terjemahan Bahasa Inggris oleh Maung Tha Noe
Penyunting: Bhikkhu Pesala
Cetakan Pertama: Myanmar 1981
Edisi Baru: February 2002

Terjemahan Bahasa Indonesia oleh Tamiran Irwan
Penyunting: Andi Kusnadi
Desember 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: