Buddhism Bar

Perpustakaan buddhism.

Buddhism Untuk Pemula

BAB I

PENDAHULUAN

1. RIWAYAT HIDUP BUDDHA GAUTAMA

Ayah dari Pangeran Siddharta adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Sri Ratu Mahä Mäyä Dewi. Ibunda Ratu meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam Tusita, yaitu alam sorga luhur. Sejak itu maka yang merawat Pangeran Siddharta adalah Mahä Pajäpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 Sebelum Masehi di Taman Lumbini. Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala diramalkan bahwa Pangeran Siddharta kelak akan menjadi Maharaja Diraja atau akan menjadi Seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan pasti meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa, atau ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah : 1. Orang tua, 2. Orang sakit, 3. Orang mati, 4. Seorang pertapa.

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Ternyata akhirnya Sang Pangeran melihat empat peristiwa yang selalu diusahakan agar tidak berada di dalam penglihatannya, setelah itu Pangeran Siddharta tampak murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh dengan derita ini.

Ketika beliau berusia 29 tahun, putera pertamanya lahir dan diberi nama Rahula. Setelah itu Pangeran Siddharta meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alära Käläma dan kemudian kepada Uddaka Ramäputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

Dalam usia 35 tahun pertapa Siddharta memperoleh Penerangan Agung, menjadi Buddha di bawah pohon Bodhi di hutan Uruvela (kini tempat tersebut disebut Buddha Gaya). Untuk pertama kalinya Beliau mengajarkan Dhamma yang maha sempurna kepada lima orang pertapa kawan Beliau di Taman Rusa Isipatana di dekat Benares. Adapun kelima orang pertapa itu adalah Kondañña, Bodhiya, Vappa, Mahanama dan Assaji.

Setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, Kondañña, segera menjadi Sotapanna dan kemudian menjadi Arahat. Yang lainnya pun menyusul menjadi Arahat. Khotbah pertama ini kemudian dikenal sebagai Khotbah Pemutaran Roda Dhamma (Dhamma Cakka Pavattana Sutta). Selanjutnya Sang Buddha sangat giat mengajarkan Dhamma kepada para siswaNya sampai Beliau mangkat di Kusinara dalam usia 80 tahun.

TIMBULNYA DUA ALIRAN BESAR

Segera setelah Buddha Gautama mencapai Pari-Nibbana, maka diadakanlah Sidang Agung (Sangha-samaya) yang pertama di kota Rajagaha (543 S.M.). Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat Arahat.

Maksud dari sidang ini ialah untuk menghimpun Ajaran-ajaran dari Buddha Gautama yang diberikan di tempat-tempat yang berlainan, kepada orang-orang yang berlainan dan pada waktu yang berlainan pula selama 45 tahun. Dalam sidang tersebut Y.A. Upali mengulang tata-tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni (Vinaya) dan Y.A. Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) dari Buddha Gautama. Ajaran-ajaran dan khotbah-khotbah ini dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut ke mulut.

Sidang Agung ke-dua diadakan di kota Vesali lebih kurang 100 tahun kemudian (l.k. 443 S.M.). Sidang ini diadakan untuk membicarakan tuntutan segolongan bhikkhu (golongan Mahasangika), yang menghendaki agar beberapa peraturan tertentu dari Vinaya, yang dianggap terlalu keras, dirobah atau diperlunak. Dalam sidang ini golongan Mahasangika dikalahkan dan sidang memutuskan untuk tidak merobah Vinaya yang sudah ada.

Sidang Agung ke-tiga diadakan lebih kurang 230 tahun setelah Sidang Agung pertama (l.k. 313 S.M.), di ibu kota kerajaan Asoka, yaitu Pataliputta. Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta dan bertujuan menertibkan beberapa perbedaan pendapat yang menyebabkan perpecahan di dalam Sangha. Di samping itu sidang memeriksa kembali dan menyempurnakan Kanon (Kitab Suci) Pali. Di Sidang Agung ke-tiga ini Ajaran Abidhamma diulang secara tersendiri, sehingga dengan demikian lengkaplah sudah Kanon Pali yang terdiri dari tiga kelompok besar, meskipun masih belum dituliskan dalam kitab-kitab dan masih dihafal di luar kepala. Golongan bhikkhu-bhikkhu yang terkena penertiban meninggalkan golongan Sthaviravada (pendahulu dari golongan yang sekarang dikenal sebagai Theravada) dan mengungsi ke arah Utara.

Sidang Agung ke-empat diadakan di Srilangka pada 400 tahun setelah Buddha Gautama meninggal dunia dan dipimpin oleh seorang anak dari Raja Asoka, yaitu Mahinda. Sidang ini berhasil untuk secara resmi menulis Ajaran-Ajaran Buddha Gautama di daun-daun lontar yang kemudian dijadikan buku Tipitaka dalam bahasa Pali.

Sidang Agung ke-lima diadakan di Kanishka oleh Raja Kanishka pada kurang lebih 600 tahun setelah Buddha Gautama meninggal dunia. Sidang ini diadakan oleh mereka yang memisahkan diri dari golongan Sthaviravada dan di sidang ini buku Tipitaka menurut pandangan golongan Mahayana secara resmi ditulis dalam bahasa Sansekerta.

Catatan :

Buddha Gautama bukanlah Buddha yang pertama di dalam masa-dunia ini (masa-dunia atau kalpa; satu kalpa lamanya kurang lebih 4.320.000.000 tahun). Buddha-Buddha sebelumnya adalah Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, Buddha Kassapa, Buddha yang akan datang adalah Buddha Mettaya (Maitreya). Menurut Buddha Gautama, Ajaran Beliau akan dapat bertahan selama lebih kurang 5.000 tahun; setelah itu Ajaran Beliau akan demikian diselewengkan, sehingga mungkin masih ada yang menggunakan nama Agama Buddha, tetapi ajarannya akan jauh sekali berbeda dengan Ajaran Beliau yang asli. Karena itu akan datang kembali Seorang Buddha lain yang akan dikenal sebagai Buddha Mettaya (Maitreya).

2. SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA

Pada jaman dahulu orang-orang di Indonesia menyembah dan memuja roh leluhurnya. Leluhur dianggap sebagai yang telah berjasa dan mempunyai banyak pengalaman. Roh leluhur, Hyang atau Dahyang namanya, menurut kepercayaan pada waktu itu dianggap mempunyai kekuatan gaib yang dapat digunakan oleh orang-orang yang masih hidup. Kekuatan gaib itu diperlukan jika orang akan memulai suatu pekerjaan yang penting, misalnya akan berangkat perang, akan memulai mengerjakan tanah dan lain sebagainya.

Mereka juga percaya bahwa benda-benda seperti pohon besar, batu besar, gunung dan sebagainya dihuni oleh roh-roh. Ada kalanya benda-benda senjata-senjata dianggap bertuah, sakti dan dijadikan jimat oleh pemiliknya.

Upacara pemujaan roh leluhur harus diatur sebaik-baiknya agar restunya mudah diperoleh. Dan pertunjukkan wayang, suatu bentuk kebudayaan Indonesia, erat hubungannya dengan upacara tersebut. Kepercayaan kepada “HYANG” masih dapat juga kita lihat sampai saat ini.

Jaman Sriwijaya.

Sriwijaya bukan saja termashyur karena kekuatan angkatan perangnya, melainkan juga karena merupakan pusat ilmu dan kebudayaan Buddha. Di sana terdapat banyak vihara yang dihuni oleh ribuan bhikkhu. Pada Perguruan Tinggi Agama Buddha di Sriwijaya orang dapat mengikuti selain kuliah-kuliah tentang Agama Buddha juga kuliah-kuliah tentang bahasa Sansekerta dan Bahasa Indonesia Kuno. Pujangga-Pujangga Agama Buddha yang terkenal seperti Dharmapala dan Sakyakirti pernah mengajar di Perguruan Tinggi tersebut. Pada waktu itu Sriwijaya merupakan mercusuar Agama Buddha di Asia Tenggara yang memancarkan cahaya budaya manusia yang cemerlang.

Tentang Agama Buddha di Sriwijaya juga banyak diceritakan oleh seorang sarjana Agama Buddha dari Tiongkok yang bernama I-Tsing. Dalam tahun 672 ia bertolak untuk berziarah ke tempat-tempat suci Agama Buddha di India. Waktu pulang dalam tahun 685 ia singgah di Sriwijaya dan tinggal di sana sampai 10 tahun lamanya untuk mempelajari dan menyalin buku-buku suci Agama Buddha dalam bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Tionghoa.

Sriwijaya yang berada di pulau Sumatera didirikan pada kira-kira abad ke-7 dan dapat bertahan terus hingga tahun 1377.

Jaman Sailendra di Mataram.

Pada tahun 775 hingga tahun 850 di daerah Bagelen dan Yogyakarta berkuasalah raja-raja dari wangsa Sailendra yang memeluk Agama Buddha. Jaman ini adalah jaman keemasan bagi Mataram, dan negara di bawah pemerintahannya aman dan makmur. Ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan tentang Agama Buddha sangat maju. Dan kesenian, terutama seni pahat, mencapai taraf yang sangat tinggi.

Pada waktu itu seniman-seniman bangsa Indonesia menghasilkan karya-karya seni yang mengagumkan. Hingga sekarang pun masih dapat kita saksikan betapa indahnya candi-candi yang mereka buat misalnya :

a.       Candi Kalasan. Candi ini terletak di sebelah timur laut kota Yogyakarta dan didirikan di tahun 778 oleh Rakai Panakaran atas perintah Raja Sailendra.

b.      Candi Sewu. Candi ini terletak di Prambanan (perbatasan Solo – Yogya) dan didirikan di tahun 800.

c.       Candi-candi Borobudur, Pawon, Mendut. Candi-candi ini terletak dekat kota Muntilan dan didirikan di tahun 825 atas perintah Raja Sailendra yang bernama Samarotungga.

Kecuali candi-candi tersebut di atas masih banyak lagi candi-candi yang didirikan atas perintah Raja-Raja Sailendra, tetapi yang paling besar dan paling indah adalah candi Borobudur. Setelah Raja Samarotungga meninggal dunia, Mataram kembali diperintah oleh raja-raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, namun Agama Buddha dan Agama Hindu dapat berkembang terus berdampingan dengan rukun dan damai.

Jaman Majapahit.

Di dalam masa pemerintahan raja-raja Majapahit (tahun 1292 s/d tahun 1476), Agama Buddha berkembang dengan baik bersama-sama dengan Agama Hindu. Toleransi (saling harga-menghargai) di bidang keagamaan dijaga baik-baik, sehingga pertentangan agama tidak pernah terjadi.

Di waktu pemerintahan Raja Hayam Wuruk, seorang pujangga terkenal, Mpu Tantular, telah menulis sebuah buku yang berjudul “Sutasoma”, di mana terdapat kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang kini dijadikan lambang negara Republik Indonesia yang melambangkan motto toleransi dan persatuan. Setelah Majapahit runtuh pada tahun 1478, maka berangsur-angsur agama Buddha dan Hindu digeser kedudukannya oleh agama Islam.

Kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia.

Agama Buddha mulai bangkit kembali di pulau Jawa dengan datangnya Bhikkhu Narada Thera dari Sri Lanka (Ceylon) di bulan Maret tahun 1934. Selama berada di pulau Jawa, Bhikkhu Narada Thera antara lain telah melakukan kegiatan-kegiatan sbb. :

a.       Memberikan khotbah-khotbah dan pelajaran-pelajaran Buddha-Dhamma di beberapa tempat di Jakarta, Bogor, Jawa-Barat dan Jawa-Tengah.

b.      Memberkahi penanaman pohon Bodhi di pekarangan candi Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934.

c.       Membantu dalam pendirian Java Buddhist Association (Perhimpunan agama
Buddha yang pertama) di Bogor dan Jakarta.

d.      Menjalin kerja-sama yang erat dengan bhikshu-bhikshu (hweshio-hweshio) dari kelenteng-kelenteng Kim Tek Ie, Kwan Im Tong dan Toeng San Tong di Jakarta, kelenteng Hok Tek Bio di Bogor, kelenteng Kwan Im Tong di Bandung, kelenteng Tin kok Sin di Solo dan perhimpunan-perhimpunan Theosofie di Jakarta, Bogor, Jawa-Barat dan Jawa-Tengah.

e.       Melantik upasaka-upasaka dan upasika-upasika di tempat-tempat yang Beliau kunjungi. Bapak Maha Upasaka S. Mangunkowotjo, tokoh umat Buddha Jawa-Tengah dan anggota MPR telah dilantik menjadi upasaka di Yogyakarta oleh Bhikkhu Narada Thera pada tanggal 10 Maret 1934.

Nama-nama dari para perintis bangkitnya kembali Agama Buddha di pulau Jawa
pada waktu itu adalah antara lain :

  1. Pandita Josias van Dienst, Deputy Director General Buddhist Mission, Java Section.
  2. Kwee Tek Hoay, Direktur dan Redaktur Kepala dari Majalah Moestika Dharma, Jakarta.

BAB II

AJARAN SANG BUDDHA

1. KITAB SUCI AGAMA BUDDHA

Kitab Suci Agama Buddha yang tertulis dalam Bahasa Pali adalah TIPITAKA, yang terdiri dari :

  1. Vinaya Pitaka
    Yang berisikan tata-tertib bagi para bhikkhu/bhikkhuni.
  2. Sutta Pitaka
    Yang berisikan khotbah-khotbah Sang Buddha
  3. Abidhamma Pitaka
    Yang berisikan Ajaran tentang metafisika dan ilmu kejiwaan.

Sedangkan yang tertulis dalam bahasa Sansekerta adalah :

  1. Avatamsaka Sutra.
  2. Lankavatara Sutra.
  3. Saddharma Pundarika Sutra.
  4. Vajracchendika Prajna Paramita Sutra (Kim Kong Keng), dan lain-lain.

2. KESUNYATAAN DAN KENYATAAN

a.       Paramatha-sacca : Kebenaran mutlak (absolute truth), dan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

    1. Harus benar.
    2. Tidak terikat oleh waktu; waktu dulu, sekarang dan waktu yang akan datang sama saja.
    3. Tidak terikat oleh tempat; di sini, di Amerika ataupun di bulan sama saja.

b.      Sammuti-sacca : Kebenaran relatif; berarti bahwa sesuatu itu benar, tetapi
masih terikat oleh waktu dan tempat.

3. EHIPASSIKO

Ehipassiko berarti “datang dan alamilah sendiri”. Umat Buddha tidak diminta untuk percaya saja, tetapi justru untuk mengalami sendiri segala sesuatu. Ini menunjukkan khas Buddhis, berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Agama-agama lain.

4. EMPAT KESUNYATAAN MULIA

I. Kesunyataan Mulia tentang Dukkha
Hidup dalam bentuk apa pun adalah dukkha (penderitaan) :
a. dilahirkan, usia tua, sakit, mati adalah penderitaan.
b. berhubungan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan.
c. ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan.
d. tidak memperoleh yang dicita-citakan adalah penderitaan.
e. masih memiliki lima khanda adalah penderitaan.
Dukkha dapat juga dibagi sbb. :
a. dukkha-dukkha ialah penderitaan yang nyata, yang benar dirasakan sebagai penderitaan tubuh dan bathin, misalnya sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll.
b. viparinäma-dukkha merupakan fakta bahwa semua perasaan senang dan bahagia –berdasarkan sifat ketidak-kekalan– di dalamnya mengandung benih-benih kekecewaan, kekesalan dll.
c. sankhärä-dukkha lima khanda adalah penderitaan ; selama masih ada lima khanda tak mungkin terbebas dari sakit fisik.
II. Kesunyataan Mulia tentang asal mula Dukkha
Sumber dari penderitaan adalah tanhä, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Semakin diumbar semakin keras ia mencengkeram. Orang yang pasrah kepada tanhä sama saja dengan orang minum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya. Rasa haus itu bukannya hilang, bahkan menjadi bertambah, karena air asin itu yang mengandung garam. Demikianlah, semakin orang pasrah kepada tanhä semakin keras tanhä itu mencengkeramnya.
Dikenal tiga macam tanhä, yaitu :
1. Kämatanhä : kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b. suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran
2. Bhavatanhä : kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang adanya “atma (roh) yang kekal dan terpisah” (attavada).
3. Vibhavatanhä : kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).
III. Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Dukkha
Kalau tanhä dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan yang bahagia sekali, karena terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana.
a. Sa-upadisesa-Nibbana = Nibbana masih bersisa. Dengan ‘sisa’ dimaksud bahwa lima khanda itu masih ada.
b. An-upadisesa-Nibbana = Setelah meninggal dunia, seorang Arahat akan mencapai anupadisesa-nibbana, ialah Nibbana tanpa sisa atau juga dinamakan Pari-Nibbana. Sang Arahat telah beralih ke dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Misalnya, kalau api padam, kejurusan mana api itu pergi? jawaban yang tepat : ‘tidak tahu’ Sebab api itu padam karena kehabisan bahan bakar.
IV. Kesunyataan Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha
Delapan Jalan Utama (Jalan Utama Beruas Delapan) yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu :
Pañña
1. Pengertian Benar (sammä-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammä-sankappa)
Sila
3. Ucapan Benar (sammä-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
Samädhi
6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
7. Perhatian Benar (sammä-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Delapan Jalan Utama ini dapat lebih lanjut diperinci sbb. :
1. Pengertian Benar (sammä-ditthi)
menembus arti dari :
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppäda
d. Hukum Kamma
2. Pikiran Benar (sammä-sankappa)
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian
(nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari kebencian
(avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman
(avihimsä-sankappa)
3. Ucapan Benar (sammä-väcä)
Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya
4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
a. Menghindari pembunuhan
b. Menghindari pencurian
c. Menghindari perbuatan a-susila
5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
Lima pencaharian salah harus dihindari (M. 117), yaitu :
a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)
Di samping itu seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan , yaitu :
a. Berdagang alat senjata
b. Berdagang mahluk hidup
c. Berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup)
d. Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan
e. Berdagang racun.
6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
a. Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya unsur-unsur jahat dan tidak baik di dalam bathin.
b. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan unsur-unsur jahat dan tidak baik, yang sudah ada di dalam bathin.
c. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan unsur-unsur baik dan sehat di dalam bathin.
d. Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat unsur-unsur baik dan sehat yang sudah ada di dalam bathin.
7. Perhatian Benar (sammä-sati)
Sammä-sati ini terdiri dari latihan-latihan Vipassanä-Bhävanä (meditasi untuk memperoleh pandangan terang tentang hidup), yaitu :
a. Käyä-nupassanä       = Perenungan terhadap tubuh
b. Vedanä-nupassanä    = Perenungan terhadap perasaan.
c. Cittä-nupassanä         = Perenungan terhadap kesadaran.
d. Dhammä-nupassanä   = Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran.
8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Latihan meditasi untuk mencapai Jhäna-Jhäna.
Siswa yang telah berhasil melaksanakan Delapan Jalan Utama memperoleh :
1. Sila-visuddhi Kesucian Sila sebagai hasil dari pelaksanaan Sila dan terkikis habisnya Kilesa.
2. Citta-visuddhi Kesucian Bathin sebagai hasil dari pelaksanaan Samadhi dan terkikis habisnya Nivarana.
3. Ditthi-visuddhi Kesucian Pandangan sebagai hasil dari pelaksanaan Pañña dan terkikis habisnya Anusaya.
Untuk lebih jelasnya, hal tersebut di atas akan diterangkan lebih lanjut seperti di bawah ini :
Asava Delapan Jalan Utama
1. Kilesa 3. Ucapan Benar
4. Perbuatan Benar
5. Pencaharian Benar
Sila
2. Nivarana 6. Daya-upaya Benar
7. Perhatian Benar
8. Konsentrasi Benar
Samadhi
3. Anusaya 1. Pengertian Benar
2. Pikiran Benar
Pañña
Asava = Kekotoran bathin, dapat dibagi dalam 3 (tiga) golongan besar, yaitu:
1. Kilesa = Kekotoran bathin yang kasar dan dapat jelas dilihat atau didengar.
2. Nivarana = Kekotoran bathin yang agak halus, yang agak sukar diketahui.
3. Anusaya = Kekotoran bathin yang halus sekali dan sangat sukar untuk diketahui.
BHAVANA
Agama Buddha mengenal 2 (dua) macam meditasi (Bhavana) :
I. Samatha-bhavana = Meditasi untuk mendapatkan ketenangan bathin melalui Jhäna-Jhäna.
Jhäna pertama : a. Vitakka = Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek.
b. Vicära = Pikiran yang berhasil memegang obyek dengan kuat.
c. Piti = Kegiuran
d. Sukha = Kebahagiaan.
e. Ekaggata = Pemusatan pikiran yang kuat.
Jhäna kedua : Vicära, Piti, Sukha, Ekaggata.
Jhäna ketiga : Piti, Sukha, Ekaggata.
Jhäna keempat : Sukha, Ekaggata.
Jhäna kelima : Ekaggata + keseimbangan bathin.
Meditasi Samatha-bhävanä yang sangat dipujikan ialah Brahma-Vihära-bhävanä yang terdiri dari :
1. Mettä-bhävanä = Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek.
2. Karunä-bhävanä = Meditasi welas-asih terhadap semua mahluk yang sedang menderita.
3. Muditä-bhävanä = Meditasi yang mengandung simpati terhadap kebahagiaan orang lain.
4. Upekkhä-bhävanä = Meditasi keseimbangan bathin.
Brahmä-Vihära-bhävanä dapat juga dipakai untuk melemahkan kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak baik.
Tiga Akar Perbuatan
Tiga hal yang di bawah ini dapat disebut sebagai tiga akar atau sumber untuk melakukan perbuatan, yaitu :
1. Lobha = Kemelekatan yang sangat terhadap sesuatu sehingga menimbulkan keserakahan.
2. Dosa = Penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga menimbulkan kebencian.
3. Moha = Kebodohan ; tidak dapat menbeda-bedakan mana yang buruk dan mana yang baik.
II. Vipassanä-bhävanä = Meditasi untuk memperoleh Pandangan Terang tentang hidup, tentang hakikat sesungguhnya dari benda-benda.
Latihan-latihan Vipassanä-bhävanä sudah diterangkan sewaktu membahas Perhatian Benar (sammä-sati).
Tujuan dari latihan-latihan bhävanä ialah untuk menyingkirkan Nivarana (lihat pembahasan Asava) yang dianggap sebagai rintangan untuk memperoleh ketenangan bathin maupun Pandangan Terang tentang hidup dan hakekat sesungguhnya dari benda-benda.
Perincian dari Nivarana adalah sbb. :

1. Kämacchanda — nafsu keinginan
2. Vyäpäda — keinginan jahat, kebencian dan amarah.
3. Thina-middha — lamban, malas dan kesu.
4. Uddhacca-kukkucca — gelisah dan cemas.
5. Vicikicchä — keragu-raguan.

Dalam tingkat kesucian, umat Buddha dapat dibagi dalam dua golongan :

1. Puthujjana Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum mencapai tingkat kesucian.
2. Ariya-puggalä Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang setidak-tidaknya telah mencapai tingkat kesucian pertama.

Tingkat-tingkat kesucian

Tingkat kesucian Belenggu yang harus dipatahkan ; Lahir kembali
1. Sotäpanna
1. Sakkäyaditthi = Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.
2. Vicikicchä = Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.
3. Silabbataparämäsa = Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.
Maksimum
7 kali
2. Sakadägämi Melemahkan belenggu-belenggu nomor 4 dan 5. 1 kali
3. Anägämi
4. Kämaräga = Nafsu Indriya.
5. Vyäpäda = Benci, keinginan tidak baik.
Setelah meninggal dunia, seorang Anägämi akan terlahir di sorga Suddhavasa dan disitu akan mencapai Tingkat Arahat.
Tidak akan terlahir kembali di alam manusia
4. Arahat
6. Ruparäga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk.
7. Aruparäga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk.
8. Mäna = Ketinggian hati yang halus.
9. Uddhacca = Bathin yang belum seimbang benar.
10. Avijjä = Kegelapan bathin.
Mencapai Nibbana
Keterangan : Perbedaan antara Avijjä dan Moha.
Avijjä = Kebodohan/kegelapan bathin, karena tidak dapat menembus arti dari Empat Kesunyataan Mulia, Hukum Tilakkhana, Hukum Paticca-Samuppada, Hukum Kamma.
Moha = Kebodohan/kegelapan bathin, karena tidak dapat membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik.

5. HUKUM TILAKKHANA (TIGA CORAK UMUM)

Hukum Tilakkhana ini termasuk Hukum Kesunyataan ; berarti bahwa Hukum ini berlaku di mana-mana dan pada setiap waktu. Jadi tidak terikat oleh waktu dan tempat.

    1. Sabbe sankhärä aniccä
      Segala sesuatu dalam alam semesta ini yang terdiri dari paduan unsur-unsur adalah tidak kekal. Umat Buddha melihat segala sesuatu dalam alam semesta ini sebagai suatu proses yang selalu dalam keadaan bergerak, yaitu :
Uppada
(timbul)
Thiti
(berlangsung)
Bhanga
(berakhir/lenyap)
    1. Sabbe sankhärä dukkha
      Apa yang tidak kekal sebenarnya tidak memuaskan dan oleh karena itu adalah penderitaan.
    2. Sabbe Dhammä Anattä
      Segala sesuatu yang tercipta dan tidak tercipta adalah tanpa inti yang kekal/abadi.
      Contoh dari sesuatu yang tidak tercipta adalah Nibbana.

Di samping paham anattä yang khas Buddhis terdapat juga dua paham lain yaitu :

    1. Attaväda
      Paham bahwa atma (roh) adalah kekal-abadi dan akan berlangsung sepanjang masa (tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
    2. Ucchedaväda
      Paham bahwa setelah mati atma (roh) itu pun akan turut lenyap (tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).

Uraian secara matematika tentang ketiga paham tersebut adalah sbb. :

Attaväda

I.            A + p = A + p

II.            (A + p) + p1 = A + p + p1

III.            (A + p + p1 ) + … + pn = A + p + p1 + p2 + … + pn

Ucchedaväda

I.            A + p = Nihil

Anattä

I.            A + p = B
A = Atma, roh

II.            B + p1 = C
p = Pengalaman hidup

III.            C + p2 = D dan seterusnya.
1, 2, 3, … = Kehidupan ke 1, 2, 3 dan seterusnya.

Contoh konkrit tentang paham anattä, misalnya kalau kita membuat roti. Roti dibuat dengan memakai tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dll.. Tetapi setelah menjadi roti tidak mungkin kita akan menunjuk satu bagian tertentu
dan mengatakan : ini adalah tepungnya, ini garamnya, ini menteganya, ini airnya, ini apinya, ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan itu diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka bahan-bahan itu telah berubah sama sekali.

Kesimpulan : Meskipun roti itu terdiri dari bahan-bahan yang tersebut di atas, namun setelah melalui proses pembuatan dan pembakaran di oven telah menjadi sesuatu yang baru sama sekali dan tidak mungkin lagi untuk mengembalikannya dalam bentuknya yang semula.

LIMA KHANDHA

Dalam Agama Buddha diajarkan bahwa seorang manusia terdiri dari lima kelompok kehidupan/kegemaran (Khandha) yang saling bekerja-sama dengan erat sekali. Kelima kelompok kehidupan/kegemaran tersebut adalah :

  1. Rupa = Bentuk, tubuh, badan jasmani.
  2. Sañña = Pencerapan.
  3. Sankhära = Pikiran, bentuk-bentuk mental.
  4. Vedanä = Perasaan.
  5. Viññana = Kesadaran.

Gabungan dari No. 2, 3, 4 dan 5 dapat juga dinamakan nama (bathin), sehingga seorang manusia dapat dikatakan terdiri dari rupa dan nama. Dalam menangkap rangsangan dari luar, maka bekerja-samanya lima khandha ini adalah sbb. :

  1. Rupa
    Kita menangkap suatu rangsangan melalui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh yang merupakan bagian dari badan jasmani kita.
  2. Viññana (citta)
    Kita lalu akan menyadari bahwa bathin kita telah menangkap suatu rangsangan.
  3. Sañña
    Rangsangan tersebut mencerap ke dalam bathin kita melalui suatu bagian dari otak kita, mengenal obyek.
  4. Sankhära
    Rangsangan ini kita akan banding-bandingkan dengan pengalaman kita yang dulu-dulu melalui gambaran-gambaran pikiran yang tersimpan dalam bathin kita.
  5. Vedanä
    Dengan membanding-bandingkan ini lalu timbul suatu perasaan senang (suka) atau tidak senang (tidak suka) terhadap rangsangan yang telah tertangkap melalui panca indera kita.

Proses mental ini berlangsung sbb. :

Kesadaran     Pencerapan     Pikiran     Perasaan.

Menurut Ajaran Sang Buddha, di dalam diri seorang manusia hanya terdapat lima khandha ini dan tidak dapat ditemukan suatu atma atau roh yang kekal dan abadi. Dengan cara ini, maka anattä diterangkan melalui analisa.

6. HUKUM PATICCA-SAMUPPADA

Paham anattä dapat pula diterangkan melalui cara sinthesa, yaitu melalui Hukum Paticca-Samuppada (Hukum Sebab-musabab Yang Saling Bergantungan). Prinsip dari Hukum ini diberikan dalam empat formula pendek, yaitu :

  1. Imasming Sati Idang Hoti
    Dengan adanya ini, maka terjadilah itu.
  2. Imassuppädä Idang Uppajjati
    Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu.
  3. Imasming Asati Idang Na Hoti
    Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu.
  4. Imassa Nirodhä Idang Nirujjati
    Dengan terhentinya ini, maka terhentilah juga itu.

Berdasarkan prinsip dari saling menjadikan, relatifitas dan saling bergantungan ini, maka seluruh kelangsungan dan kelanjutan hidup dan juga berhentinya hidup dapat diterangkan dalam formula dari duabelas nidana (sebab-musabab) :

  1. Avijjä Paccayä Sankhära
    Dengan adanya kebodohan (ketidak-tahuan), maka terjadilah bentuk-bentuk karma.
  2. Sankhära Paccayä Viññänang
    Dengan adanya bentuk-bentuk karma, maka terjadilah kesadaran.
  3. Viññäna Paccayä Namarupang
    Dengan adanya kesadaran, maka terjadilah bathin dan badan jasmani.
  4. Namarupang Paccayä Saläyatanang.
    Dengan adanya bathin dan badan jasmani, maka terjadilah enam indriya
  5. Saläyatana Paccayä Phassa.
    Dengan adanya enam indriya, maka terjadilah kesan-kesan.
  6. Phassa Paccayä Vedanä.
    Dengan adanya kesan-kesan, maka terjadilah perasaan.
  7. Vedanä Paccayä Tanhä.
    Dengan adanya perasaan, maka terjadilah tanhä (keinginan).
  8. Tanhä Paccayä Upädänang.
    Dengan adanya tanhä (keinginan), maka terjadilah kemelekatan.
  9. Upädäna Paccayä Bhavo.
    Dengan adanya kemelekatan, maka terjadilah proses tumimbal lahir.
  10. Bhava Paccayä Jati.
    Dengan adanya proses tumimbal lahir, maka terjadilah kelahiran kembali.
  11. Jati Paccayä Jaramaranang.
    Dengan adanya kelahiran kembali, maka terjadilah kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll.
  12. Jaramarana.
    Kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll. adalah akibat dari kelahiran kembali.

Demikianlah kehidupan itu timbul, berlangsung dan bersambung terus. Kalau kita mengambil rumus tersebut dalam arti yang sebaliknya, maka kita akan sampai kepada penghentian dari proses itu. Dengan terhenti seluruhnya dari kebodohan, maka terhenti pula bentuk-bentuk karma; dengan terhentinya bentuk-bentuk karma, maka terhenti pulalah kesadaran; ….. dengan terhentinya kelahiran kembali, maka terhenti pulalah kelapukan, kematian, kesedihan dll.

7. HUKUM KAMMA

Kamma adalah kata bahasa Pali yang berarti “perbuatan”, yang dalam arti umum meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran kata-kata atau tindakan. Makna yang luas dan sebenarnya dari Kamma, ialah semua kehendak atau keinginan dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik (bermoral) atau buruk (tidak bermoral), mengenai hal ini Sang Buddha pernah bersabda :

“O, bhikkhu, kehendak untuk berbuat (Pali : Cetana) itulah yang Kami namakan Kamma. Sesudah berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran.”

Kamma bukanlah satu ajaran yang membuat manusia menjadi orang yang lekas berputus-asa, juga bukan ajaran tentang adanya satu nasib yang sudah ditakdirkan. Memang segala sesuatu yang lampau mempengaruhi keadaan sekarang atau pada saat ini, akan tetapi tidak menentukan seluruhnya, oleh karena kamma itu meliputi apa yang telah lampau dan keadaan pada saat ini, dan apa yang telah lampau bersama-sama dengan apa yang terjadi pada saat sekarang mempengaruhi pula hal-hal yang akan datang. Apa yang telah lampau sebenarnya merupakan dasar di mana hidup yang sekarang ini berlangsung dari satu saat ke lain saat dan apa yang akan datang masih akan dijalankan. Oleh karena itu, saat sekarang inilah yang nyata dan ada “di tangan kita” sendiri untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu kita harus hati-hati sekali dengan perbuatan kita, supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik.

Kita hendaknya selalu berbuat baik, yang bermaksud menolong mahluk-mahluk lain, membuat mahluk-mahluk lain bahagia, sehingga perbuatan ini akan membawa satu kamma-vipaka (akibat) yang baik dan memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan kamma yang lebih baik lagi. Satu contoh yang klasik adalah sbb. :

Lemparkanlah batu ke dalam sebuah kolam yang tenang. Pertama-tama akan terdengar percikan air dan kemudian akan terlihat lingkaran-lingkaran gelombang. Perhatikanlah bagaimana lingkaran ini makin lama makin melebar, sehingga menjadi begitu lebar dan halus yang tidak dapat lagi dilihat oleh mata kita. Ini bukan berarti bahwa gerak tadi telah selesai, sebab bilamana gerak gelombang yang halus itu mencapai tepi kolam, ia akan dipantulkan kembali sampai mencapai tempat bekas di mana batu tadi dijatuhkan.

Begitulah semua akibat dari perbuatan kita akan kembali kepada kita seperti halnya dengan gelombang di kolam yang kembali ke tempat dimana batu itu dijatuhkan.

Sang Buddha pernah bersabda (Samyutta Nikaya I, hal. 227) sbb :

“Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan
buah-buah dari padanya”.

Segala sesuatu yang datang pada kita, yang menimpa diri kita, sesungguhnya benar adanya. Bilamana kita mengalami sesuatu yang membahagiakan, yakinlah bahwa kamma yang telah kita perbuat adalah benar. Sebaliknya bila ada sesuatu yang menimpa kita dan membuat kita tidak senang, kamma-vipaka itu menunjukkan bahwa kita telah berbuat suatu kesalahan. janganlah sekali-kali dilupakan hendaknya bahwa kamma-vipaka itu senantiasa benar. Ia tidak mencintai maupun membenci, pun tidak marah dan juga tidak memihak. Ia adalah hukum alam, yang dipercaya atau tidak dipercaya akan berlangsung terus.

Terdapat dua belas jenis bentuk-bentuk kamma yang tidak diperinci di sini. Bentuk kamma yang lebih berat (bermutu) dapat menekan — bahkan menggugurkan — bentuk-bentuk kamma yang lain. Ada orang yang menderita hebat karena perbuatan kecil, tetapi ada juga yang hampir tidak merasakan akibat apapun juga untuk perbuatan yang sama. Mengapa? Orang yang telah menimbun banyak kamma baik, tidak akan banyak menderita karena perbuatan itu, sebaliknya orang yang tidak banyak melakukan kamma-kamma baik akan menderita hebat.

Singkatnya : Kamma Vipaka dapat diperlunak, dibelokkan, ditekan, bahkan digugurkan.

Kamma dapat dibagi dalam tiga golongan :

  1. Kamma Pikiran (mano-kamma).
  2. Kamma Ucapan (vaci-kamma).
  3. Kamma Perbuatan (kaya-kamma).

10 (sepuluh) jenis kamma baik

  1. Gemar beramal dan bermurah hati
    akan berakibat dengan diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang.
  2. Hidup bersusila
    mengakibatkan terlahir kembali dalam keluarga luhur yang keadaannya berbahagia.
  3. Bermeditasi
    berakibat dengan terlahir kembali di alam-alam sorga.
  4. Berendah hati dan hormat
    menyebabkan terlahir kembali dalam keluarga luhur.
  5. Berbakti
    berbuah dengan diperolehnya penghargaan dari masyarakat.
  6. Cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain
    berbuah dengan terlahir kembali dalam keadaan berlebih-lebihan dalam banyak hal.
  7. Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain
    menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.
  8. Sering mendengarkan Dhamma
    berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.
  9. Menyebarkan Dhamma
    berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan (sama dengan No. 8).
  10. Meluruskan pandangan orang lain
    berbuah dengan diperkuatnya keyakinan.

10 (sepuluh) jenis kamma buruk

  1. Pembunuhan
    akibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai, dalam hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan
  2. Pencurian
    akibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tak tercapai, penghidupannya senantiasa tergantung pada orang lain.
  3. Perbuatan a-susila
    akibatnya mempunyai banyak musuh, beristeri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria atau wanita yang tidak normal perasaan seksnya.
  4. Berdusta
    akibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai.
  5. Bergunjing
    akibatnya kehilangan sahabat-sahabat tanpa sebab yang berarti.
  6. Kata-kata kasar dan kotor
    akibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain.
  7. Omong kosong
    akibatnya bertubuh cacad, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai.
  8. Keserakahan
    akibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat diharap-harapkan.
  9. Dendam, kemauan jahat / niat untuk mencelakakan mahluk lain
    akibatnya buruk rupa, macam-macam penyakit, watak tercela.
  10. Pandangan salah
    akibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama sembuhnya, pendapat yang tercela.

Lima bentuk kamma celaka

Lima perbuatan durhaka di bawah ini mempunyai akibat yang sangat berat ialah kelahiran di alam neraka :

  1. Membunuh ibu.
  2. Membunuh ayah.
  3. Membunuh seorang Arahat.
  4. Melukai seorang Buddha.
  5. Menyebabkan perpecahan dalam Sangha.

8. HIRI DAN OTAPPA

Dua ciri khas yang dianggap dua sifat yang membantu melindungi dunia dari kekacauan :

  1. Hiri
    Perasaan malu, yaitu malu melakukan hal-hal yang tidak baik.
  2. Otappa
    Perasaan takut, yaitu takut akan akibat yang timbul dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

9. ATTHALOKA-DHAMMA

Dalam penghidupan seorang manusia tidak dapat terlepas dari 8 (delapan) keadaan, yaitu :

  • läbha – aläbha
    untung – rugi
  • yasa – ayasa
    terkenal – tak terkenal
  • nindä – pasamsä
    dicela – dipuji
  • sukha – dukkha
    gembira, bahagia – sedih, menderita dll.

BAB III

BEBERAPA PENGERTIAN DALAM AGAMA BUDDHA

1. PARITTA

a.       Vandana
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhassa = Terpujilah Sang Bhagava Yang Maha Pengasih, Maha Suci dan Maha Bijaksana.

b.      Tisarana
Buddhang saranang gacchami = Kami berlindung kepada Sang Buddha.
‘Berlindung kepada Sang Buddha’ berarti mencontoh sifat-sifat yang baik yang terdapat pada diri seorang Buddha.
Dhammang saranang gacchami = Kami berlindung kepada Dhamma.
‘Berlindung kepada Dhamma’ berarti bahwa kita berusaha untuk melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga dengan demikian kita akan terhindar dari hal-hal yang tidak baik.
Sanghang saranang gacchami = Kami berlindung kepada Sangha.
‘Berlindung kepada Sangha’ berarti bahwa kita menganggap Sangha sebagai guru dan mentaati ajaran yang diberikan oleh bhikkhu-bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian.
Yang dimaksud di sini ialah bahwa kita berlindung kepada Ariya Sangha yaitu pasamuan mereka yang telah mencapai tingkat kesucian.

c.       Pancasila

    • Pänätipätä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan mahluk hidup.
      Untuk dapat digolongkan ‘pembunuhan’ harus memenuhi syarat-syarat sbb. :

      1. Adanya satu mahluk.
      2. Sadar bahwa itu mahluk.
      3. Niat untuk membunuh.
      4. Langkah-langkah perbuatan.
      5. Kematian sebagai akibatnya (mahluk itu betul-betul mati).
    • Adinnädänä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian.
      Untuk dapat digolongkan ‘pencurian’ harus memenuhi syarat-syarat sbb. :

      1. Adanya milik orang lain.
      2. Kesadaran, pengertian akan keadaan ini.
      3. Niat untuk mencuri.
      4. Langkah-langkah perbuatan.
      5. Peralihan benda yang dicuri sebagai akibatnya.
    • Kämesu micchäcärä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari perzinahan (perbuatan a-susila).
      Untuk dapat digolongkan ‘perzinahan’ harus memenuhi syarat-syarat sbb. :

      1. Niat untuk mengalami sensasi obyek / sasaran yang terlarang dan bukan haknya.
      2. Berusaha
      3. Memiliki sasaran yang dimaksud.
    • Musävädä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari kedustaan (ucapan yang tidak benar).
      Untuk dapat digolongkan ‘kedustaan’ harus memenuhi syarat-syarat sbb. :

      1. Kedustaan.
      2. Niat untuk berdusta.
      3. Usaha, dan
      4. Menyampaikannya kepada orang lain.
    • Surämeraya-majjapamädatthänä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan dan minuman yang menimbulkan kemabukkan dan ketagihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: